<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982</id><updated>2012-01-29T22:12:38.068-08:00</updated><category term='Geografi Budaya'/><category term='MOS'/><category term='Studi Bencana'/><category term='Geografi Sosial'/><category term='Geomorfologi'/><category term='Filsafat Geografi'/><category term='Geografi Pariwisata'/><category term='Kemahasiswaan'/><category term='Artikel Kebumian'/><category term='Geografi Tumbuhan'/><category term='Negara-negara'/><category term='Inderaja'/><category term='Geomorfologi Umum'/><category term='Komputer Terapan'/><category term='SPG-1'/><category term='Artikel Pendidikan'/><category term='SMI'/><category term='PPG'/><category term='Artikel Populer'/><category term='SPG-2'/><category term='Entrepreneurship'/><title type='text'>Muh. Sholeh</title><subtitle type='html'>Ecological, Regional, Spatial</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Muh. Sholeh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09255886548890166137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_6BdsiwGInjM/TN5WxEU67NI/AAAAAAAAAHE/3Ty1264IaP0/S220/DSC00124.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>162</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-940894793254428391</id><published>2012-01-29T21:57:00.000-08:00</published><updated>2012-01-29T21:57:00.683-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Studi Bencana'/><title type='text'>Karakteristik dan Penanggulangan Bencana Banjir</title><content type='html'>&lt;b&gt;Pengertian&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ada dua pengertian mengenai banjir&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Aliran air sungai yang tingginya melebihi muka air normal sehingga melimpas dari palung sungai menyebabkan adanya genangan pada lahan rendah di sisi sungai. Aliran air limpasan tersebut yang semakin meninggi, mengalir dan melimpasi muka tanah yang biasanya tidak dilewati aliran air.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Gelombang banjir berjalan kearah hilir sistem sungai yang berinteraksi dengan kenaikan muka air di muara akibat badai.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Untuk Negara tropis, berdasarkan sumber airnya, air yang berlebihan tersebut dapat dikatagorikan dalam empat katagori:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Banjir yang disebabkan oleh hujan lebat yang melebihi kapasitas penyaluran sistem pengalitan air yang terdiri dari sistem sungai alamiah dan sistem drainase buatan manusia.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Banjir yang disebabkan meningkatnya muka air di sungai sebagai akibat pasang laut maupun meningginya gelombang laut akibat badai.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Banjir yang disebabkan oleh kegagalan bangunan air buatan manusia seperti bendungan, bending, tanggul, dan bangunan pengendalian banjir.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Banjir akibat kegagalan bendungan alam atau penyumbatan aliran sungai akibat runtuhnya/longsornya tebing sungai. Ketika sumbatan/bendungan tidak dapat menahan tekana&amp;nbsp; air , maka bendungan akan hancur, air sungai yang terbendung mengalir deras sebagai banjir bandang. Contoh kasus banjir bandang jenis ini terjadi pada banjir di Bohorok, Kabupaten Langkat Sumut.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penyebab&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pada umumnya banjir disebabkan oleh curah hujan yang tinggi di atas normal, sehingga sistem pengairan air yang terdiri dari sungai dan anak sungai alamiah serta sistem saluran drainase dank anal penampung banjir buatan yang ada tidak mampu menampung akumulasi air hujan tersebut sehingga meluap. Kemampuan/ daya tamping sistem pengaliran air dimaksud tidak selamanya sama, tetapi berubah akibat sedimentasi, penyempitan sungai akibat fenomena alam dan ulah manusia, tersumbat sampah serta hambatan lainnya. Penggundulan hutan di daerah tangkapan air ujan (Catchment area) juga menyebabkan peningkatan debit banjir karena debit/ pasokan air yang masuk ke dalam sistem aliran menjadi tinggi sehingga melalpui kapasitas pengaliran dan menjadi sedimentasi di sistem pengaliran air dan wadah air lainnya. Disamping itu, berkurangnya daerah resapan air juga berkontribusi atas meningkatnya debit banjir. Pada daerah permukiman dimana telah padat dengan bangunan sehingga tingkat resapan air kedalam tanah berkurang, jika terjadi hujan dengan curah hujan yang langsung masuk kedalam sistem pengaliran air sehingga kapasitasnya terlampui dan mengakibatkan banjir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mekanisme Perusakan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pada umumnya banjir yang berupa genangan maupun banjir bandang bersifat merusak. Aliran arus air yang cepat dan bergolak (turbulent) maskipun tidak terlalu dalam dapat menghanyutkan manusia, hewan, dan harta benda. Aliran air yang membawa material tanah yang halus akan mampu menyeret material yang lebih berat, sehingga daya rusaknya akan semakin tinggi. Air banjir yang pekat ini akan mampu merusak pondasi bangunan, jembatan, dan objek lain yang dilewati sehingga menyebabkan kerusakan yang parah pada bangunan-bangunan tersebut, bahkan mampu merobohkan bangunan dan menghanyutkannya. Pada saat air banjir telah surut, material yang terbawa banjir akan diendapkan dan dapat mengakibatkan kerusakan pada tanaman, perumahan serta timbulnya wabah penyakit.&lt;br /&gt;Banjir bandang (flash flood) biasanya terjadi pada aliran sungai yang kemiringan dasar sungainya curam. Aliran banjir yang tinggi dan sangat cepat dapat mencapai ketinggian lebih dari 12 meter (banjir Bahorok, 2003) limpasannya dapat membawa batu besar/ bongkahan dan pepohonan serta merusak/ menghanyutkan apa saja yang dilewati namun cepat surut kembali. Banjir semacam ini dapat menyebabkan jatuhnya korban manusia (karena tidak sempat mengungsi) maupun kerugian harta benda yang besar dalam waktu yang singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kajian Bahaya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Diperlukan kajian atas kejadian banjir yang telah terjadi sebagai data historis dan empiris yang dapat dipakai untuk menentukan tingkat kerawanan dan upaya antisipasi banjir suatu daerah. Kajian tersebut diantaranya mencakup:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Rekaman atau catatan kejadian bencana yang telah terjadi memberikan indikasi awal akan datangnya banjir dimasa yang akan dating atau dikenal dengan banjir periodic (tahunan, lima tahunan, sepuluh tahunan, limapuluh tahunan atau seratus).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemetaan topografi yang menunjukkan kontur ketinggian sekitar daerah aliran/sungai yang dilengkapi dengan estimasi kemampuan kapasitas sistem hidrologi dan luas daerah tangkapan hujan (catchment area) serta plotting berbagai luas genangan yang pernah terjadi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Data curah hujan sangat diperlukan untuk menghitung kemungkinan kelebihan beban atau terlampuinya kapasitas penyaluran sistem pengaliran air baik sistem sungai maupun sistem drainase.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Gejala dan Peringatan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Datangnya banjir diawali dengan gejala-gejala sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Curah hujan yang tinggi pada waktu yang lama merupakan peringatan akan datangnya bencana banjir di daerah rawan bencana banjir.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tingginya pasang laut yang disertai badai mengindikasikan akan datangnya bencana banjir beberapa jam kemudian terutama untuk daerah yang dipengaruhi pasang surut.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Evakuasi dapat dimulai dengan telah disamai atau dilampuinya ketinggian muka banjir tertentu yang disebut muka banjir/air “siaga”. Upaya evakuasi akan efektif jika dilengkapi dengan sistem monitoring dan peringatan yang memadai.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Sistem peringatan dini dengan menggunakan sistem telemetri pada umumnya kurang berhasil, karena keterbatasan dana untuk pemeliharaan atau dan tidak mencukupinya jumlah tenaga dan kemampuannya. Namun peringatan dini dapat dilaksanakan dengan cara yang sederhana yaitu dengan pembacaan papan duga muka air secara manusl yang harus dilaksanakan pada segala kondisi cuaca (termasuk di tengah hujan lebat), dan mengkomunikasinkan perkembangan pembacaan peningkatan muka air melalui radio atau alat komunikasi yang ada. Kelemahan dari sistem peringatan dini yang ada sekarang ini adalah pada penyebaran luasan berita peringatan dini kepada masyarakat yang dapat terkena banjir pada tingkat desa. Biasanya staf dari instansi yang bertanggungjawab menerima berita dengan tepat waktu, namun masyarakat yang terkena dampak menerima peringatan&amp;nbsp; hanya pada saat-sat terahir. Penyiapan dan distribusi peta rawan banjir akan membuat masyarakat menyadari bahwa mereka hidup di daerah rawan banjir. Ramalan banjir dan rencana evakuasi hendaknya dikomunikasikan kepada masyarakat yang beresiko terkena banjir sebagai upaya kewaspadaan/siaga, namun informasi yang actual hendaknya disebarkan secara cepat melalui stasiun-stasiun radio setempat, telpon dan SMS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Parameter&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Parameter atau tolok ukur ancaman/bahaya dapat ditentukan berdasarkan:&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Luas genangan (km², hektar)&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kedalaman atau ketinggian air banjir (meter)&lt;br /&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kecepatan aliran (meter/detik, km/jam)&lt;br /&gt;4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Material yang dihanyutkan aliran banjir (batu, bongkahan, pohon, dan benda keras lainnya)&lt;br /&gt;5.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tingkat kepekatan air atau tebal endapan lumpur (meter, centimeter)&lt;br /&gt;6.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Lamanya waktu genangan (jam, hari, bulan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Komponen yang Terancam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Bencana banjir mengakibatkan kerugian berupa korban manusia dan harta benda, baik milik perorangan maupun milik umum yang dapat mengganggu dan bahkan melumpuhkan kegiatan sosial-ekonomi penduduk. Uraian rinci tentang korban manusia dan kerusakan pada harta benda dan prasarana umum diuraikan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Manusia, meliputi a) jumlah penduduk yang meninggal dunia, b) jumlah penduduk yang hilang, c) jumlah penduduk yang luka-luka, d) jumlah penduduk yang mengungsi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Prasarana umum, meliputi a) rasarana transportasi yang tergenang, rusak dan hanyut diantaranya: jalan, jembatan dan bangunan lainnya: jalan KA, stasiun KA, terminal bus, jalan akses dan kompleks pelabuhan, b) fasilitas sosial yang tergenang, rusak dan hanyut diantaranta: sekolah, rumah ibadah, pasar, gedung pertemuan, puskesmas, RS, Kantor Pos, dan fasilitas sosial lainnya, c) fasilitas pemerintahan, industry-jasa, dan fasilitas strategis lainnya: kantor instansi pemerintah, kompleks industry, kompleks perdagangan, instalasi listrik, pembangkit listrik, jaringan distribusi gas, instalasi telekomunikasi yang tergenang, rusak dan hanyut, serta dampaknya, misalnya berapa lama fasilitas-faslitas terganggu sehingga tidak dapat memberikan layanannya, d) prasarana pertanian dan perikanan: sawah beririgasi dan swah tadah hujan yang tergenang dan puso (penurunan atau kehilangan produksi), tambak perkebunan, lading, gudang pangan dan peralatan pertanian dan perikanan yang tergenang (tergenang labih dari 3 hari dikatagorikan rusak), dan rusak (terjadi penurunan atau kehilangan produksi) karena banjir, e) prasarana pengairan: bendungan, tanggul, jaringan irigasi, jaringan drainase, pintu air, stasiun pompa, dan sebaginya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Harta Benda perorangan, meliputi a) rumah tinggal yang tergenang, usak dan hanyut, b) harta benda (aset) diantaranya modal-barang produksi dan perdagangan, mobil, perabotan rumah tangga, dan lainnya yang tergenang, rusak dan hilang, c) sarana pertanian-peternakan-perikanan: peternakan unggas, peternakan hewan berkaki empat, dan ternak yang mati dan hilang. Perahu, dermaga dan sarana perikanan yang rusak dan hilang.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;b&gt;Upaya Mitigasi dan Pengurangan Bencana&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Upaya mitigasi bencana banjir secara umum dapat dibagi menjadi tiga kegiatan, yaitu upaya mitigasi non struktural, struktural serta peningkatan peran serta masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Upaya Mitigasi non Struktural&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Pembentukan kelompok kerja yang beranggotakan dinas-dinas terkait (diketuai dinas pengairan/sumber daya air) di tingkat kabupaten/kota sebagai bagian dari satuan pelaksana (SATLAK) untuk melaksanakan dan menetapkan pembagian peran dan kerja atas upaya-upaya non fisik penanggulangan mitigasi bencana banjir diantara anggota POKJA dan SATLAK diantaranya inspeksi, pengamatan dan penelusuran atas prasarana &amp;amp; sarana pengendalian banjir yang ada dan langkah yang akan diuraikan pada uraian selanjutnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Merekomendasikan upaya perbaikan atas prasarana dan sarana pengendalian banjir dapat berfungsi sebagaimana direncanakan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memonitor dan mengevaluasi data curah hujan, banjir, daerah genangan dan informasi lain yang diperlukan untuk meramalkan kejadian banjir, daerah yang diidentifikasi terkena banjir serta daerah yang rawan banjir.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menyiapkan peta daerah banjir dilengkapi dengan plotting rute pengungsian, lokasi pengungsian sementara, lokasi POSKO, dan lokasi pos pengamatan debit banjir/ketinggian muka air banjir di sungai penyebab banjir.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengecek dan menguji sarana sistim peringatan dini yang ada dan mengambil langkah-langkah untuk memelihara dan membentuknya jika belum tersedia dengan sarana yang paling sederhana sekalipun.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Merencanakan dan menyiapkan SOP/ Operasi standar untuk kegiatan/tahap tanggap darurat yang melibatkan semua anggota SATKORLAK, SATLAK dan POSKO diantaranya identifikasi daera rawan banjir, identifikasi rute evakuasi, penyediaan peralatan evakuasi (alat transportasi, perahu, dll), identifikasi dan penyiapan tempat pengungsian sementara seperti peralatan sanitasi mobile, penyediaan air minum, bahan pangan, peralatan dapur umum, obat-obatan dan tenda darurat).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pelaksanaan sistem informasi banjir, dengan diseminasi langsung kepada masyarakat dan penerbitan press release/penjelasan kepada pers dan penyebar luasan informasi tentang banjir melalui media massa cetak maupun elektronik yaitu TV dan radio.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Melaksanakan pelatihan evakuasi untuk mengecek kesiapan masyarakat, SATLAK dan peralatan evakuasi, dan kesiapan tempat pengungsian sementara beserta perlengkapannya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengadakan rapat koordinasi ditingkat BNPB, SATKORLAK, SATLAK, dan POKJA Antar Dinas/instansi untuk menentukan menentukan beberapa tingkat dari resiko bencana banjir berikut konsekuensinya dan pembagian peran diantara instansi yang terkait, serta pengenalan/diseminasi kepada seluruh anggota SATKORLAK, SATLAK, dan POSKO atas SOP dalam kondisi darurat dan untuk menyepakati format dan prosedur arus informasi/ laporan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Membentuk&amp;nbsp; jaringan lintas instansi/sector dan LSM yang bergerak dibidang kepedulian terhadap bencana serta dengan media massa baik cetak maupun elektronik untuk mengadakan kampanye peduli bencana kepada masyarakat termasuk informasi tentang bencana banjir.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Melaksanakan pendidikan masyarakat atas pemetaan ancaman banjir dan resiko yang terkait serta penggunaan material bangunan yang tahan air/banjir.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;b&gt;2.&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;b&gt; Upaya mitigasi Struktural&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Pembangunan tembok penahan dan tanggul di sepanjang sungai, tembok laut sepanjang pantai yang rawan badai atau tsunami akan sangat membantu untuk mengurangi bencana banjir pada tingkat debit banjir yang direncanakan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pengaturan kecepatan aliran dan debit air permukaan dari daerah hulu sangat membantu mengurangi terjadinya bencana banjir. Beberapa upaya yang perlu dilakukan untuk mengatur kecepatan air dan debit aliran air masuk kedalam sistem pengaliran diantaranya adalah dengan reboisasi dan pembangunan sistem peresapan serta pembangunan bendungan/waduk.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pengerukan sungai, pembuatan sudetan sungai baik secara saluran terbuka maupun tertutup atau terowongan dapat membantu mengurangi terjadinya banjir.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;b&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Peran Serta Masyarakat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat baik sebagai individu maupun masyarakat secara keseluruhan dapat berperan secara signifikan dalam manajemen bencana banjir yang bertujuan untuk mitigasi dampak dari bencana banjir. Peranan dan tanggungjawab masyarakat dapat dikatagorikan dalam dua aspek yaitu aspek penyebab dan aspek partisipatif.&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Aspek penyebab, jika beberapa peraturan yang sangat berpengaruh atas factor-faktor penyebab banjir dilaksanakan atau dipatuhi akan secara signifikan akan mengurangi besaran dampak bencana banjir. Faktor-faktor tersebut adalah: 1) tidak membuang sampah/ limbah padat ke sungai, saluran dan sistem drainase, 2) tidak membangun jembatan dan atau bangunan yang menghalangi atau mempersempit palung aliran sungai, 3) tidak tinggal dalam bantaran sungai, 4) tidak menggunakan dataran retensi banjir untuk permukiman atau untuk hal-hal lain diluar rencana peruntukannya, 5) menghentikan penggundulan hutan di daerah tangkapan air, 6) menghentikan praktek pertanian dan penggunaan lahan yang bertentangan dengan kaidah-kaidah konservasi air dan tanah, dan 7) ikut mengendalikan laju urbanisasi dan pertumbuhan penduduk.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Aspek partisipatif, dalam hal ini partisipasi atau kontribusi dari masyarakat dapat mengurangi dampak bencana banjir yang akan diderita oleh masyarakat sendiri, partisipasi yang diharapkan mencakup: 1) ikut serta dan aktif dalam latihan-latihan (gladi) upaya mitigasi bencana banjir misalnya kampanye peduli banjir, latihan&amp;nbsp; kesiapan penanggulangan banjir dan evakuasi, latihan peringatan dini banjir dan sebagainya, 2) ikut serta dan aktif dalam program desain &amp;amp; pembangunan rumah tahan banjir antara lain rumah tingkat, penggunaan material yang tahan air dengan gerusan air, 3) ikut serta dalam pendidikan public yang terkait dengan upaya mitigasi bencana banjir, 4) ikut serta dalam setiap tahapan konsultasi public yang terkait dengan pembangunan prasarana pengendalian banjir dan upaya mitigasi bencana banjir, 5) melaksanakan pola dan waktu tanam yang mengadaptasi pola dan kondisi banjir setempat untuk mengurangi kerugian usaha dan pertanian dari banjir, 6) mengadakan gotongroyong pembersihan saluran drainase yang ada di lingkungannya masing-masing.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-940894793254428391?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/940894793254428391/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2012/01/karakteristik-dan-penanggulangan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/940894793254428391'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/940894793254428391'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2012/01/karakteristik-dan-penanggulangan.html' title='Karakteristik dan Penanggulangan Bencana Banjir'/><author><name>Muh. Sholeh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09255886548890166137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_6BdsiwGInjM/TN5WxEU67NI/AAAAAAAAAHE/3Ty1264IaP0/S220/DSC00124.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-7298528896150426002</id><published>2012-01-24T20:04:00.000-08:00</published><updated>2012-01-24T20:05:18.756-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Pendidikan'/><title type='text'>PERENCANAAN LABORATORIUM TATA BUSANA PADA KELAS UNGGULAN PROGRAM KEAHLIAN TATA BUSANA DI SMK NEGERI 3 MAGELANG</title><content type='html'>Oleh Widowati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ABSTRAK&lt;br /&gt;Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bagaimana perencanaan manajemen laboratorium Tata Busana Program Keahlian Tata Busana SMK Negeri 3 Magelang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan pertimbangan bahwa tujuan dari penelitian adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang nilai-nilai yang dikembangkan, sasaran dan tujuan, tahap-tahap, dan evaluasi dalam perencanaan laboratorium. Perencanaan pada laboratorium tata busana disusun selaras dengan visi, misi, dan nilai-nilai sekolah. Implementasi nilai-nilai sekolah dalam perencanaan laboratorium merupakan upaya sungguh-sungguh menjunjung tinggi cita-cita sekolah. Sasaran dalam perencanaan laboratorium tata busana dibedakan menjadi sasaran jangka pendek, menengah, dan jangka panjang. Sasaran perencanaan telah disertakan dalam program kerja yang terdiri dari penentuan personil, pendanaan, dan penentuan alokasi waktu. Perencanaan laboratorium berlangsung melalui beberapa tahapan, yaitu perencanaan oleh masing-masing guru, pembentukan tim kecil penyusun draft program kerja, dan pembahasan pada forum rapat guru. Evaluasi dalam perencanaan laboratorium tata busana dilaksanakan pada saat rapat guru dan saat informal. Semangat dan prinsip yang dikembangkan adalah serius, terbuka, kekeluargaan, dan saling menghargai.&lt;br /&gt;Kata Kunci: Perencanaan Laboratorium, Tata Busana, Kelas Unggulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Lulusan Program Keahlian Tata Busana SMK Negeri 3 Magelang banyak dicari perusahaan karena mampu bekerja dan berkarya dengan baik sesuai standar keterampilan yang telah ditetapkan. Ini menunjukkan program tersebut berhasil memberi bekal keterampilan kepada siswa-siswanya. Keberhasilan tersebut salah satunya didukung oleh keberadaan laboratorium (bengkel) tata busana yang menjadi tempat latihan bagi siswa untuk meningkatkan keterampilan di bidang tata busana.&lt;br /&gt;Kompetensi lulusan menjadi topik hangat dalam wacana pendidikan dewasa ini. Naisbitt (1995) mengemukakan ada 8 kecenderungan besar di Asia yang ikut mempengaruhi dunia. Kedelapan kecenderungan itu akan mempengaruhi tata nilai dalam berbagai aspek, pola dan gaya hidup masyarakat baik di desa maupun di kota. Selama ini perhatian kita masih terfokus pada input dan proses tanpa memperhatikan kompetensi lulusan, sehingga lulusan dari tiap jenjang pendidikan gagal memenuhi harapan besar pendidikan. Untuk itu kualitas atau kompetensi lulusan perlu mendapat perhatian serius, dan nampaknya pemerintah telah merespon tuntutan tersebut dengan menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006.&lt;br /&gt;Sekolah harus proaktif dalam menyongsong perubahan-perubahan yang berlangsung dengan cepat. Manajemen sekolah yang selama ini tertutup harus didesain ulang agar mudah diakses masyarakat. Manajemen sekolah yang sentralistik harus diubah dengan menciptakan suasana manajemen terbuka sehingga dengan keterbukaan tersebut akan muncul beragam ide dari seluruh kekuatan sekolah untuk meningkatkan kualitas sekolah.&lt;br /&gt;Tuntutan terhadap lulusan SMK sesuai dengan kurikulum 2004 yang diteruskan dengan kurikulum 2006 adalah lulusan yang yang berstandar nasional, yang memiliki jati diri bangsa dan mampu mengembangkan keunggulan lokal dalam bersaing di pasar global. Berkaitan dengan tuntutan kompetensi, sekolah harus menciptakan situasi kondusif dengan meningkatkan fungsi masing-masing elemen, termasuk di dalamnya fungsi laboratorium. Sebagai elemen vital, laboratorium harus dikelola dengan baik agar peran dan fungsinya betul-betul mendukung proses belajar mengajar dengan memberikan bekal keterampilan optimal kepada siswa.&lt;br /&gt;Seluruh sistem yang ada di dalam laboratorium baik perangkat keras, sumber daya manusia, maupun unsur-unsur lain harus dikelola dengan optimal agar keberadaannya memberi manfaat besar dalam proses belajar mengajar. Pengelolaan tersebut yang kita kenal dengan manajemen laboratorium. Tujuannya jelas, yaitu mengoptimalkan fungsi laboratorium.&lt;br /&gt;Perwujudan yang dapat dilihat dari pengelolaan laboratorium yang baik adalah, pemanfaatan alat dan mesin dalam proses pembelajaran, rasio penggunaan alat dan mesin sesuai dengan kebutuhan ideal, penataan alat-alat memperhatikan aspek kenyamanan dan keselataman, pengaturan jadwal belajar tidak mengalami benturan, munculnya tanggungjawab siswa dalam menjaga dan merawat alat-alat yang digunakan, adanya tanggungjawab yang jelas dari pengelola laboratorium, adanya aturan yang tegas dalam laboratorium, dan adanya komunikasi yang baik antara pengelola laboratorium, guru, dan siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;METODE&lt;br /&gt;Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan pertimbangan bahwa tujuan dari penelitian adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang nilai-nilai yang dikembangkan, sasaran dan tujuan, tahap-tahap, dan evaluasi dalam perencanaan laboratorium Program Keahlian Tata Busana SMK Negeri 3 Magelang.&lt;br /&gt;Data dalam penelitian ini diklasifikasikan menjadi 2, yaitu data primer dan sekunder. Data primer diperoleh secara langsung dari lapangan baik melalui pengamatan dan wawancara.  Data skunder bersumber pada dokumen yang berupa visi dan misi sekolah, program kerja sekolah, jadwal mata pelajaran, pembagian tugas di laboratorium, gambar/desain pekerjaan siswa di laboratorium, notulen hasil rapat, dan dokumen lain yang relevan dengan tujuan penelitian. Informan dalam penelitian ini adalah, kepala sekolah, ketua program keahlian, guru, pengelola laboratorium, petugas laboratorium, dan siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HASIL DAN PEMBAHASAN&lt;br /&gt;1.    Nilai-nilai dalam perencanaan laboratorium&lt;br /&gt;Perencanakan manajemen laboratorium tata busana dilaksanakan berdasarkan nilai-nilai yang menjiwai SMK Negeri 3 Magelang, yaitu komitmen, kebersamaan, kreatif dan inovatif, kepedulian, keterbukaan, saling percaya, saling menghargai, dan pelayanan prima. Dalam perencanaan manajemen laboratorium bengkel tata busana SMK Negeri 3 Magelang, ada beberapa prinsip yang menjadi pegangan, yaitu demokratis, transparan, dan efisiensi.&lt;br /&gt;Implementasi dari nilai-nilai sekolah dalam perencanaan manajemen adalah dengan cara menjadikan nilai-nilai sekolah sebagai penduan agar setiap perencanaan yang disusun tidak melenceng dari nilai-nilai sekolah yang terdiri dari komitmen, kebersamaan, kreatif, dan inovatif, kepedulian, keterbukaan, saling percaya, saling menghargai, dan pelayanan prima.&lt;br /&gt;Berdasarkan paparan tersebut menunjukkan perencanaan manajemen laboratorium tata busana berjalan cukup baik. Buktinya adalah proses pembelajaran di laboratorium berjalan dengan baik, mesin dan peralatan tertata dan terjaga dengan baik, pengaturan kelompok berlangsung tertib, piket guru sudah teratur, dan kerjasama dengan mitra berjalan lancar.&lt;br /&gt;Perencanaan dalam fungsi manajemen membutuhkan kesadaran akan pentingnya nilai-nilai yang menjadi dasar perencanaan. Sekilas, perencanaan tidak membutuhkan sentuhan nilai, tetapi dalam kenyataannya nilai-nilai menjadi faktor penting karena menyangkut partisipasi pihak lain. Nilai-nilai dalam perencanaan merupakan bukti kesadaran penghargaan terhadap keberadaan orang lain dan diri sendiri. Nilai-nilai tersebut biasanya disandingkan dengan proses interaksi, sehingga disebut nilai-nilai sosial.&lt;br /&gt;Perencanaan menempati fungsi pertama dan utama diantara fungsi-fungsi manajemen lainnya. Para pakar manajemen menyatakan bahwa apabila perencanaan telah selesai dan dilakukan dengan benar, sebagian pekerjaan besar telah selesai dilaksanakan. Ini menunjukkan keberadaan perencanaan dalam manajemen sangat vital.&lt;br /&gt;Hal tersebut sejalan dengan pendapat Udin Syaefudin dan Abin Syamsudin (2005) yang menyatakan bahwa perencanaan sebagai suatu rangkaian proses kegiatan menyiapkan keputusan mengenai apa yang diharapkan terjadi (peristiwa, keadaan, suasana, dan sebagainya) dan apa yang akan dilakukan (intensifikasi, eksistensifikasi, revisi, renovasi, subtitusi, kreasi, dan sebagainya). Rangkaian proses kegiatan itu dilaksanakan agar harapan tersebut dapat terwujud menjadi kenyataan di masa yang akan datang.&lt;br /&gt;Perencanaan pada manajemen laboratorium tata busana yang disusun selaras dengan visi, misi, dan nilai-nilai sekolah tersebut merupakan bukti bahwa secara keorganisasian, sekolah tersebut solid. Laboratorium tata busana sebagai bagian dari unsur sekolah tidak berjalan sendiri-sendiri, tapi searah dengan cita-cita sekolah. Implementasi nilai-nilai sekolah dalam perencanaan pada manajemen laboratorium tata busana merupakan upaya sungguh-sungguh menjunjung tinggi cita-cita sekolah, karena dalam perencanaan yang disusun ada unsur kesetiaan, loyalitas, semangat, dan visi yang jauh kedepan demi kemajuan sekolah.&lt;br /&gt;2.    Sasaran dan tujuan dalam perencanaan&lt;br /&gt;Fokus utama atau pusat perhatian dalam menyusun perencanaan pada bengkel tata busana, meliputi beberapa hal, yaitu personil, pendanaan, dan penentuan waktu.&lt;br /&gt;a.    Penentuan personil&lt;br /&gt;Bengkel tata busana tidak hanya mengandalkan kemampuan satu jenis keterampilan, tapi beberapa keterampilan, seperti menjahit, bordir, garment, dan keterampilan lainnya. Bengkel tata busana dipimpin oleh seorang guru, yang membawahi beberapa penanggungjawab ruang. Ketua bengkel diusulkan karena beberapa pertimbangan, yaitu kompetensi atau kemampuan, berpengalaman, bertanggungjawab, siap memajukan sekolah,dan mempunyai kinerja yang baik.&lt;br /&gt;b.    Pendanaan&lt;br /&gt;Bengkel tata busana terdiri dari 5 ruang membutuhkan sejumlah dana untuk operasional. Operasional yang dimaksud adalah pembelian bahan-bahan praktik dan perawatan mesin-mesin. Sumber dana untuk mendukung kegiatan di bengkel tata busana diperoleh dari komite sekolah. Pihak sekolah khususnya bengkel tata busana juga berusaha mendapatkan dana dari pihak lain, seperti mitra sekolah, dan menjual hasil karya siswa kepada masyarakat. Siswa dibekali mata pelajaran kewirausahaan, dan salah satu tugasnya adalah memasarkan hasil karya. Hasil penjualan karya siswa sebagian untuk membeli bahan praktek dan sebagian untuk siswa sendiri.&lt;br /&gt;c.    Alokasi Waktu&lt;br /&gt;Proses belajar mengajar di SMK Negeri 3 Magelang, khususnya program keahlian tata disesuaikan dengan kalender akademik dengan menyusun jadwal pembelajaran, termasuk pembelajaran di bengkel tata busana. Bengkel tata busana pada masing-masing ruang masih terbatas melayani sekitar 20 siswa. Solusi yang ditempuh dari keterbatasan kapasitas ruang adalah dengan menyusun jadwal secara teratur agar seluruh siswa dapat terlayani pada masing-masing ruang.&lt;br /&gt;Dalam prakteknya hal-hal yang direncanakan dalam manajemen laboratorium tata busana adalah pengaturan ruang/setting praktek, pembagian jadwal praktek, pembagian waktu, pembiayaan, pengadaan dan perawatan alat praktek, pemasangan/pameran pekerjaan siswa, praktek kerja/Prakerin, dan sosialisasi tata tertib di dalam bengkel.&lt;br /&gt;Soenarya (2000) mendefinisikan perencanaan sebagai bagian integral dari fungsi-fungsi organik lainnya di dalam manajemen. Dalam proses kerjanya perencanaan menerima masukan dari fungsi-fungsi organik manajemen lainnya, misalnya dari fungsi organik pengorganisasian menerima yang berupa tujuan organisasi, dari fungsi organik pengawasan menerima masukan berupa masukan umpan balik berupa laporan hasil pelaksanaan suatu rencana. Sebagai bagian dari manajemen perencanaan merupakan bagian terdepan yang keberadaannya tidak bisa digantikan. Menurut Azhar Arsyad (2002) salah satu manfaat perencanaan adalah membantu organisasi untuk mengembangkan fokus kemudian mengontrol proses.&lt;br /&gt;Fungsi laboratorium sebagai tempat kerja siswa harus selalu dijaga kesiapan dan kondisinya melalui pengelolaan atau manajemen yang baik. Untuk itu laboratorium tata busana membutuhkan perencanaan yang sistematis agar betul-betul siap melayani siswa. Pada tahapan inilah dibutuhkan orang-orang yang bertanggungjawab mengelola agar laboratorium berfungsi dengan baik. Pengelolaan laboratorium tata busana menjadi tanggungjawab ketua laboratorium dibantu guru penanggungjawab ruang dan penanggungjawab Maintenance &amp;amp; Repair (M &amp;amp; R).&lt;br /&gt;Tujuan perencanaan dalam manajemen bengkel tata busana adalah mempersiapkan sebaik mungkin agar proses pembelajaran dapat berlangsung dengan baik, memastikan bahwa proses pembelajaran dapat berlangsung dengan baik, agar dapat diperkirakan segala kebutuhan bahan-bahan yang diperlukan dalam proses pembelajaran, memberi gambaran tentang kegiatan yang akan dilaksanakan, sebagai pengendali agar kegiatan yang berlangsung dibengkel berlangsung dengan baik.&lt;br /&gt;Perencanaan harus dilaksanakan dengan sasaran yang jelas dan tegas. Keberhasilan program atau kegiatan ditentukan dalam penyusunan perencanaan, sehingga penentuan sasaran merupakan hal penting yang tidak dilepaskan. Penentuan sasaran disesuaikan dengan cita-cita institusi, sehingga dengan penentuan perencanaan yang fokus, maka tujuan institusi akan terjaga.&lt;br /&gt;Sasaran yang disusun dalam perencanaan manajemen pada begkel tata busana mencerminkan bahwa sasaran dalam perencanaan manajemen bengkel tata busana jelas dan tegas. Buktinya adalah sasaran secara tegas tertulis dalam program kerja.&lt;br /&gt;Tujuan merupakan gambaran riil yang akan dicapai. Untuk itu tujuan yang disusun dalam perencanaan harus jelas meskipun belum operasional. Jika tujuan disusun jelas, maka langkah-langkah yang dikerjakan juga akan jelas, begitu juga sebaliknya. Tujuan perencanaan yang dinyatakan pada paparan hasil penelitian menunjukkan jelasnya tujuan perencanaan manajemen pada bengkel tata busana.&lt;br /&gt;3.    Tahap-tahap dalam perencanaan&lt;br /&gt;Berdasarkan pengamatan yang dilakukan terhadap kondisi laboratorium tata busana, khususnya ruang garment diketahui penataan alat-alat praktek terlihat sangat rapi. Mesin-mesin jahit yang membutuhkan listrik besar tertata rapi dipinggir ruang yang terhubung listrik. Meja untuk mengukur atau meletakkan kain terletak di bagian tengah. Penataan ini memudahkan siswa dalam bekerja.&lt;br /&gt;Menjelang tahun ajaran baru masing-masing penanggungjawab ruang harus mempersiapkan diri dengan menyusun perencanaan agar masing-masing ruang dapat digunakan untuk proses pembelajaran dengan baik. Perencanaan laboratorium tata busana diawali dari perencanaan yang disusun oleh masing-masing guru. Langkah-langkah yang ditempuh guru dalam menyusun perencanaan, analisis kurikulum, analisis materi pelajaran, dan analisis kondisi lingkungan sekolah.&lt;br /&gt;Analisis kurikulum dilakukan untuk menyelaraskan antara perencanaan yang berlangsung di bengkel tata busana dengan proses pembelajaran. Analisis materi pelajaran juga diperlukan agar proses penyiapan sarana dan prasarana sesuai dengan kateri yang akan diberikan kepada siswa. Adapun analisis kondisi lingkungan dilaksanakan agar perencanaan yang berlangsung sesuai dengan kemampuan sekolah dan kebutuhan masyarakat. Perencanaan membutuhkan tahapan yang jelas dan sistematis, artinya dalam perencanaan terdapat hal-hal yang harus ditempuh. Tahapan tersebut penting karena fungsi perencanaan dalam manajemen sangat penting.&lt;br /&gt;Laboratorium mempunyai alat dan bahan yang fungsinya berbeda. Alat atau peralatan menurut Christian M Mamesah dan Jauhari (1995) adalah semua perkakas yang digunakan dalam pemasangan instalasi perakitan, dan perbaikan. Alat adalah semua yang diperlukan untuk memproses bahan menjadi suatu benda. Sri Jatmiko dan Aam Dayusman (1995) menyatakan bahwa alat adalah semua yang digunakan untuk memproses/ memeriksa/ mengamati/  menguji/ dari suatu objek sehingga mendapatkan hasil yang diinginkan, baik yang berupa produk barang jadi, bacaan angka, indikator, atau suatu kesimpulan tertentu.&lt;br /&gt;Alat yang berada di laboratorium dapat berupa software maupun hardware, hanya saja kebanyakan alat yang tersedia di laboratorium SMK sebagian besar berupa hardware. Dalam konteks laboratorium SMK, alat-alat dapat dikelompokkan dalam beberapa kelas sesuai dengan fungsinya, yaitu alat pokok/ alat utama, peralatan tangan bukan mesin, alat bantu, alat ukur, alat berat, dan alat tulis menulis. Dapat dinyatakan bahwa alat merupakan sarana yang berfungsi untuk melaksanakan praktik di laboratorium SMK.&lt;br /&gt;M. Fakri (1987) mendefinisikan perencanaan sebagai proses penyusunan berbagai keputusan berbagai keputusan yang akan dilaksanakan pada masa yang akan datang untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam perencanaan terdapat tahapan-tahapan penting yang harus dilalui.&lt;br /&gt;Tahapan-tahapan yang dilalui dalam perencanaan manajemen pada laboratorium tata busana merupakan wujud penempatan perencanaan sebagai faktor utama dalam manajemen, yaitu sebagai sumber keputusan, yaitu keputusan untuk melaksanakan kegiatan.&lt;br /&gt;4.    Evaluasi dalam perencanaan laboratorium&lt;br /&gt;Evaluasi dilaksanakan untuk mengetahui tingkat keberhasilan kegiatan yang dilaksanakan. Keberhasilan kegiatan di laboratorium tata busana diwujudkan oleh banyaknya kreasi hasil pekerjaan siswa. Dalam arti lain, semakin banyak produk siswa yang berkualitas, maka laboratorium tata busana semakin baik. Evaluasi dalam perencanaan lebih diarahkan pada upaya bagaimana program yang telah direncanakan dapat terlaksana dengan baik. Penyesuaian jadwal, perbaikan alat, dan pengadaan bahan praktik merupakan aktivitas yang bertujuan memastikan kegiatan pembelajaran berlangsung baik.&lt;br /&gt;Evaluasi dalam perencanaan laboratorium lebih diarahkan pada upaya bagaimana program yang telah direncanakan dapat terlaksana dengan baik. Evaluasi yang dilakukan terhadap semua kegiatan tidak dilaksanakan secara terjadwal, tapi biasanya dilaksanakan pada saat rapat guru atau saat-saat informal. Biasanya setelah program dilaksanakan maka akan dapat diketahui kekurangan dan kelemahannya. Jika ada kegiatan yang dinilai kurang dalam hal tertentu, maka akan banyak masukan sebagai koreksi, sehingga diharapkan pelaksanaan kegiatan pada periode berikutnya lebih baik.&lt;br /&gt;Rapat guru dilaksanakan tiap bulan. Pada kesempatan inilah guru-guru memberikan penilaian seluruh kegiatan yang telah dilaksanakan, khususnya di laboratorium tata busana. Rapat tersebut menjadi semacam sharing ide dari peserta rapat, bagaimana kegiatan yang telah dilaksanakan dapat diperbaiki pada pelaksanaan berikutnya. Kritik dari guru-guru ditanggapi dengan baik. Prinsipnya, kritik dari guru-guru tujuannya positif.&lt;br /&gt;Ada kalanya guru-guru mengusulkan kegiatan yang sebelumnya tidak disusun dalam program kerja. Hal tersebut biasa karena dalam penyusunan program kerja mungkin ada yang masih tertinggal. Terhadap usulan tersebut, jika kemungkinan dapat dilaksanakan, maka usulan akan dilaksanakan.&lt;br /&gt;Fungsi kepala sekolah dalam evaluasi perencanaan manajemen laboratorium lebih bersifat normatif, yaitu hanya bersifat pembinaan dan pengawasan. Secara mendalam pengawasan dilaksanakan oleh ketua program yang selalu proaktif dalam memberikan pengawasan kegiatan di laboratorium tata busana.&lt;br /&gt;Evaluasi terhadap perencanaan manajemen laboratorium tata busana berlangsung dengan semangat dan prinsip serius, terbuka, kekeluargaan dan, dan saling menghargai. Serius tidak harus ditunjukkan dengan sikap kaku, keras, atau tidak bisa sambil guyon, tapi juga bisa ditunjukkan dengan situasi yang lebih santai, luwes, dan dengan guyonan. Guru-guru tetap serius dalam memberikan kritik dan masukan kepada ketua laboratorium.&lt;br /&gt;Terbuka, artinya menyampaikan sesuatu apa adanya, tidak ditutup-tutupi. Guru-guru yang memberikan masukan kepada ketua program dan ketua laboratorium biasanya menyampaikan apa adanya, meskipun kadang terasa keras. Kekeluargaan, adalah rasa saling menyayangi antar sesama. Semua guru menganggap bahwa semua seperti satu keluarga yang mempunyai tanggungjawab dan tugas sama, yaitu memajukan sekolah dan memberi pelayanan terbaik kepada siswa.&lt;br /&gt;Saling menghargai, artinya menghormati pendapat orang lain, menjaga perasaan, dan berempati terhadap penderitaan orang lain. Dalam memberikan kritik dan masukan, guru-guru harus menghargai prestasi yang telah dicapai meskipun sedikit. Evaluasi bukan bertujuan untuk menjatuhkan, tetapi meningkatkan apa yang sudah diraih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan paparan tersebut dapat dinyatakan bahwa evaluasi yang dilaksanakan pada perencanaan manajemen di laboratorium tata busana merupakan upaya untuk mengontrol perencanaan itu sendiri agar betul-betul dapat digunakan sebagai bahan keputusan. Evaluasi juga harus dilaksanakan dengan semangat untuk suatu hal yang positif. Evaluasi terhadap perencanaan dalam manajemen di laboratorium tata busana menggunakan semangat dan prinsip serius, terbuka, kekeluargaan dan, dan saling menghargai. Hal tersebut membuktikan bahwa evaluasi telah dilaksanakan dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIMPULAN DAN SARAN&lt;br /&gt;1.    Simpulan&lt;br /&gt;Perencanaan pada laboratorium tata busana SMK Negeri 3 Magelang disusun selaras dengan visi, misi, dan nilai-nilai sekolah. Hal tersebut membuktikan bahwa secara keorganisasian, sekolah tersebut solid, perencanaan laboratorium tata busana searah dengan cita-cita sekolah. Implementasi nilai-nilai sekolah dalam perencanaan laboratorium tata busana merupakan upaya sungguh-sungguh menjunjung tinggi cita-cita sekolah.&lt;br /&gt;Sasaran dalam perencanaan laboratorium tata busana dibedakan menjadi sasaran jangka pendek, menengah, dan jangka panjang. Sasaran perencanaan telah disertakan dalam program kerja yang terdiri dari penentuan personil, pendanaan, dan penentuan alokasi waktu.&lt;br /&gt;Perencanaan laboratorium tata busana berlangsung melalui beberapa tahapan, yaitu perencanaan oleh masing-masing guru, pembentukan tim kecil penyusun draft program kerja, dan pembahasan pada forum rapat guru sampai disyahkan menjadi program kerja laboratorium tata busana.&lt;br /&gt;Evaluasi dalam perencanaan laboratorium tata busana dilaksanakan pada saat rapat guru dan saat informal. Semangat dan prinsip yang digunakan adalah serius, terbuka, kekeluargaan, dan saling menghargai. Dengan demikian ada upaya meningkatkan kualitas perencanaan dengan memperhatikan aspirasi guru.&lt;br /&gt;2.    Saran&lt;br /&gt;Nilai-nilai sekolah yang dijadikan dasar dalam perencanaan laboratorium tata busana harus dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam proses pembelajaran di laboratorium tata busana. Sasaran dan tujuan dalam perencanaan laboratorium tata busana perlu lebih dipertegas. Pertimbangan dalam penentuan personil juga harus diperketat demi peningkatan pengelolaan laboratorium&lt;br /&gt;Evaluasi fungsinya sangat penting dalam setiap unsur manajemen, untuk itu pelaksanaan evaluasi harus dilaksanakan secara rutin dan berkesinambungan, sehingga hasilnya dapat dipergunakan untuk menyempurnakan perencanaan. Semangat dan prinsip yang ada perlu dipertahankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;Arsyad Azhar. 2002. Pokok-Pokok Manajemen Panduan Praktis bagi Pimpinan dan Eksekutif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.&lt;br /&gt;Dikmenjur. 2004. Kurikulum SMK Edisi 2004. Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional&lt;br /&gt;Kusdyah Rahmawati, Ike. 2004. Manajemen: Konsep-konsep dasar dan Pengantar Teori. Malang: UMM Press&lt;br /&gt;Mulyasa, E. 2005. Kurikulum Berbasis Kompetensi: Konsep, Karakteristik, dan implementasi. Bandung: Rosda&lt;br /&gt;Naisbitt, J. 1995. Megatrend Asia: Delapan Megatrend Asia yang Mengubah Dunia, (Alih bahasa oleh Danan Triyatmoko dan Wandi S. Brata): Jakarta: Gramdeia&lt;br /&gt;Tim. 2003. Standar Kompetensi Nasional Bidang Produksi Garmen. Jakarta. Depdiknas Dikdasmen Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan&lt;br /&gt;Undang-undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2003. Semarang: Diperbanyak oleh Aneka Ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Widowati&lt;br /&gt;Jurusan Teknologi Jasa dan Produksi FT Universitas Negeri Semarang&lt;br /&gt;Alamat: Jl. Karonsih Utara 238 Ngaliyan Semarang Telpon (024) 7600614 HP 08122911295 email: widowati.unnes@gmail.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-7298528896150426002?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/7298528896150426002/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2012/01/perencanaan-laboratorium-tata-busana.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/7298528896150426002'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/7298528896150426002'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2012/01/perencanaan-laboratorium-tata-busana.html' title='PERENCANAAN LABORATORIUM TATA BUSANA PADA KELAS UNGGULAN PROGRAM KEAHLIAN TATA BUSANA DI SMK NEGERI 3 MAGELANG'/><author><name>Teras Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14732676323560413012</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_jPYUd5dZY8o/TN9Q9GckyrI/AAAAAAAAABk/SEB4NP_haK8/S220/DS.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-8560600454834338398</id><published>2012-01-24T19:58:00.001-08:00</published><updated>2012-01-24T20:01:38.355-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Pendidikan'/><title type='text'>MENINGKATKAN RESPONS SISWA KELAS VIII-D SMP NEGERI 15 PURWOREJO  TERHADAP MATA PELAJARAN IPS PADA JAM TERAHIR MELALUI PRAMEK (Pembelajaran Rekreatif,</title><content type='html'>Muh. Sholeh dan Kusnan Kadari&lt;br /&gt;Fakultas Ilmu Sosial Unnes dan SMP Negeri 15 Purworejo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abstract&lt;br /&gt;Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan respons siswa terhadap pelajaran IPS pada jam terahir yang ditandai dengan siswa mendengarkan penjelasan guru, berani menjawab pertanyaan, aktif mengerjakan tugas, berani bertanya, dan berani menyampaikan pendapat. Langkah yang ditempuh adalah perencanaan tindakan dan pelaksanaan. Perencanaan dilaksanakan dengan mengidentifikasi berbagai permasalahan yang muncul dalam setiap proses pembelajaranr, sedangkan tindakan yang dilakukan adalah melaksanakan pembelajaran rekreatif, aktif, menantang, efektif, dan kontektual (PRAMEK). Pelaksanaan PRAMEK untuk meningkatkan respon siswa tidak berjalan dengan mudah. Penyebabnya adalah guru masih kesulitan menerjemahkan PRAMEK dalam pembelajaran di kelas, belum sepenuhnya ihlas melakukan perubahan pembelajaran, masih beranggapan kelas tersebut memang berbeda dengan kelas lain, dan masih berusaha mencari formula yang lebih pas dalam melaksanakan pembelajaran. Belajar dari pengalaman sebelumnya guru semakin menguasai PRAMEK. Dalam pelaksanaan pembelajaran guru semakin nyaman melaksanakan pembelajaran, sehingga respon siswa mengalami peningkatan sesuai dengan tujuan penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keywords: Respon siswa, PRAMEK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Pembelajaran yang baik mampu mendorong siswa belajar dengan baik. Pembelajaran yang baik salah satunya dicirikan oleh tingginya respon siswa terhadap materi pelajaran. Siswa berani mengajukan pertanyaan kepada guru jika ada penjelasan guru yang masih belum bisa diterima, berani menjawab pertanyaan dari guru, mengerjakan tugas yang diberikan guru tepat waktu, dan berani mengemukakan pendapat secara lisan.&lt;br /&gt;Dalam kenyataanya respons siswa di kelas VIII-D SMP Negeri 15 Purworejo terhadap mata pelajaran IPS masih rendah. Situasi tersebut terjadi pada saat jam pelajaran terahir. Rendahnya renspon siswa kelas VIII-D terhadap mata pelajaran IPS pada jam tersebut ditandai dengan a) hanya 20 siswa dari 36 (60%) yang memperhatikan penjelasan guru, b) hanya ada 1 atau 2 siswa dari 36 siswa yang berani bertanya tentang materi pelajaran yang disampaikan guru, c) hanya 3 sampai 4 siswa dari 36 siswa berani menjawab pertanyaan guru, d) hanya 12 siswa dari 36 siswa mengerjakan tugas tepat waktu, dan e) tidak ada siswa yang berani berani mengemukakan pendapat secara lisan.&lt;br /&gt;Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selama ini pembelajaran pada jam terakhir dilaksanakan dengan cara a) penyampaian materi hanya dengan metoda ceramah yang diberi selingan tanya jawab, baik di awal, tengah-tengah, maupun di akhir pembelajaran, b) pemberian tugas pada siswa tidak di awasi dan hasilnya tidak di nilai oleh guru, c) pengawasan pada siswa saat kegiatan pembelajaran kurang, d) tidak mendorong siswa untuk aktif bertanya. Tampaknya model pembelajaran seperti ini tidak mendorong siswa merespons pelajaran dengan baik.&lt;br /&gt;Guru dituntut untuk itu guru  mampu a) mengubah penyampaian materi agar lebih menarik, b) memperbaiki pertanyaan guru yang terlalu sulit, c) mengatasi keterbatasan buku-buku dan sumber belajar, dan e) melakukan pendekatan kepada siswa. Pembelajaran tersebut mengandung unsur rekreatif, aktif, menantang, efektif, dan kontekstual atau dapat diberi istilah PRAMEK (Pembelajaran Rekreatif, Aktif, Menantang, Efektif, dan Kontekstual). Pembelajaran Rekreatif adalah pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan kesenangan.&lt;br /&gt;Pembelajaran PRAMEK memiliki potensi a) mendorong siswa dapat lebih aktif dalam pembelajaran, b) mendorong siswa dapat lebih tertarik pada materi yang diajarkan, c) siswa lebih merasa dihargai hasil pekerjaannya, d) siswa lebih berani untuk bertanya tentang materi yang disampaikan, e) suasana kelas tetap menarik dan menyenangkan.&lt;br /&gt;Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan PTK dengan judul  “Meningkatkan Respons Siswa Kelas VIII-D SMP Negeri 15 Purworejo  Terhadap Mata Pelajaran IPS Pada Jam Terahir Melalui PRAMEK (Pembelajaran Rekreatif, Aktif, Menantang, Efektif, dan Kontekstual).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;METODE PENELITIAN&lt;br /&gt;Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas untuk meningkatkan respons siswa terhadap pelajaran IPS pada jam terahir. Respons tersebut ditandai dengan a) siswa mendengarkan penjelasan guru, b) berani menjawab pertanyaan, c) aktif mengerjakan tugas, d) berani bertanya, dan e) berani menyampaikan pendapat. Berdasarkan tujuan tersebut maka pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, yaitu pendekatan yang dibangun dari cara berpikir induktif, yaitu cara berpikir dari hal-hal yang bersifat nyata (khusus) kemudian ditarik kearah yang lebih abstrak atau umum. Penelitian ini mencoba meningkatkan respons siswa pada mata pelajaran IPS pada jam terahir pada kelas VIII-D SMP Negeri 15 Purworejo. PTK dilaksanakan di kelas ini karena pembelajaran mata pelajaran IPS di kelas ini dilaksanakan pada jam terahir, dan respons siswa dalam menerima materi pelajaran sangat rendah.&lt;br /&gt;Dalam penelitian ini langkah-langkah yang ditempuh adalah perencanaan tindakan dan pelaksanaan. Langkah perencanaan dilaksanakan dengan mengidentifikasi berbagai permasalahan yang muncul dalam setiap proses pembelajaran, yaitu rendahnya respon siswa terhadap mata pelajaran IPS pada jam terahir. Rencana tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah melaksanakan pembelajaran rekreatif, aktif, menantang, efektif, dan kontektual (PRAMEK). Adapun pelaksanaan dalam penelitian ini dibagi menjadi 2 siklus. Masing-masing siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN&lt;br /&gt;Hasil Penelitian&lt;br /&gt;1.    Deskripsi Tindakan dan Hasil Siklus 1&lt;br /&gt;Tindakan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru yang mencerminkan pembelajaran rekreatif masih belum terlihat. Itu terjadi pada pertemuan 1, 2, dan 3. Hal itu juga terjadi pada indikator aktif, menantang, efektif, dan kontekstual. Baru pada pertemuan ke-4, pembelajaran rekreatif, efektif, dan kontekstual sudah muncul. Pada indikator aktif, menantang, dan efektif belum juga tercapai.&lt;br /&gt;Wujud pembelajaran rekreatif yang dilaksanakan guru diantaranya guru membagikan lembar kerja (LK) kepada siswa yang berisi naskah drama yang akan dipentaskan oleh siswa, dan guru memberi aba-aba atau perintah pada siswa untuk  beryel-yel dan menunjuk salah satu anggota kelompok   untuk  maju  mengambil lintingan yang  dibuat guru.&lt;br /&gt;Tindakan guru yang mencerminkan pembelajaran aktif diantaranya guru memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya pada materi yang belum jelas, dan guru memberi kesempatan pada siswa menjalankan tugas sesuai peran masing-masing.&lt;br /&gt;Pembelajaran menantang diwujudkan dalam bentuk guru memberi perintah pada siswa untuk membuat kelompok secara bebas, guru menulis di papan tulis membuat setting kelas sambil berkata “silahkan tempat duduk diatur seperti pada gambar dengan hitungan 1 sampai 5 (5 menit), dan guru mengingatkan pada siswa untuk bersungguh-sungguh dalam memainkan peran tokoh sesuai karakter tokohnya dalam upacara proklamasi.&lt;br /&gt;Pembelajaran efektif tercermin pada tindakan guru membatasi waktu untuk pembagian kelompok dan setting kelas, dan guru memberi instruksi pada siswa dengan menggunakan kata-kata yang mudah dipahami oleh siswa.&lt;br /&gt;Tindakan yang menunjukkan pembelajaran kontekstual  adalah guru memberi contoh  peran atau kata-kata seorang tokoh  yang akan  diperankan oleh siswa, dan guru memberi pengarahan pada siswa untuk memerankan situasi sidang BPUKI, dan guru memberi pertanyaan kepada siswa.&lt;br /&gt;Berdasarkan penilaian yang dilakukan dengan menggunakan skala penilaian pada tindakan guru diperoleh data sebagaimana pada tabel 01.&lt;br /&gt;Tabel: 01&lt;br /&gt;Tren Tindakan PRAMEK&lt;br /&gt;Siklus 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indikator    Pertemuan 1    Pertemuan 2    Pertemuan 3    Pertemuan 4      &lt;br /&gt;Rekreatif (target 70%)    19 (48%)    24 (60%)    24 (60%)    30 (75%)      &lt;br /&gt;Aktif (Target 70%)    13 (33%)    21 (53%)    23 (58%)    24 (60%)      &lt;br /&gt;Menantang (Target 70%)    5 (13%)    13 (33%)    16 (40%)    18 (45%)      &lt;br /&gt;Efektif (Target 70%)    24 (48%)    26 (52%)    32 (64%)    36 (72%)      &lt;br /&gt;Kontekstual (Target 70%)    14 (35%)    18 (45%)    (23 (58%)    29 (73%)    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Hasil penilaian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui perkembangan ketercapaian hasil tindakan. Secara umum tiap tindakan mengalami peningkatan. Indikator rekreatif meningkat dari tindakan 1 ke 2, stabil pada tindakan ke-3, dan meningkat lagi pada tindakan 4. Indikator aktif dari tindakan 1 sampai tindakan ke-4. Indikator menantang juga terus mengalami peningkatan, dari tindakan ke-1 sampai ke-4. Indikator efektif  dan kontekstual mengalami peningkatan dari tindakan 1, 2, 3, dan 4.&lt;br /&gt;Pada siklus 1 ini aktivitas siswa yang muncul juga masih belum memenuhi harapan yang diinginkan. Ketika guru mengajukan pertanyaan, tidak ada satu siswapun yang berani menjawab atas inisiatif sendiri. Siswa hanya berani menjawab bersama-sama. Itu terjadi pada pertemuan 1, 2, dan pertemuan ke-3. Selama proses pembelajaran berlangsung, tidak ada siswa yang berani bertanya tentang materi pelajaran yang disampaikan guru. Itu terjadi diseluruh pertemuan. Siswa yang berani mengemukakan pendapat juga tidak ada sama sekali. Ini terjadi pada pertemuan 1 dan 2. Di awal tindakan, siswa yang mengerjakan tugas tepat waktu masih terbatas.&lt;br /&gt;Target yang ingin dicapai pada tindakan ini adalah 4 siswa berani bertanya tentang materi pelajaran yang disampaikan guru, 6 siswa berani menjawab pertanyaan guru, 25 siswa siswa aktif mengerjakan tugas tepat waktu, dan 3 siswa berani mengemukakan pendapat. Melihat hasil respon yang ada, target tujuan belum tercapai sampai pertemuan ke-4, kecuali pada indicator jumlah siswa yang berani mengemukakan pendapat. Pada indicator ini target telah tercapai pada pertemuan ke-4. Respon siswa dalam pembelajaran pada siklus 1 terpaparkan pada tabel 02.&lt;br /&gt;Tabel 02&lt;br /&gt;Tren Indikator Ketercapaian Tujuan&lt;br /&gt;Siklus 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No    Indikator Ketercapaian    Pertemuan 1    Pertemuan 2    Pertemuan 3    Pertemuan 4      &lt;br /&gt;1    Jumlah siswa yang memperhatikan materi yang disampaikan guru    15    13    24    28      &lt;br /&gt;2    Jumlah siswa yang berani bertanya tentang materi pelajaran yang disampaikan guru    0    0    0    0      &lt;br /&gt;3    Jumlah siswa yang berani menjawab pertanyaan guru    0    0    0    1      &lt;br /&gt;4    Jumlah siswa siswa yang aktif mengerjakan tugas tepat waktu    5    16    20    30      &lt;br /&gt;5    Jumlah siswa berani yang mengemukakan pendapat    0    0    2    4    &lt;br /&gt;Sumber: hasil pengamatan&lt;br /&gt;Dari data tersebut di atas diperoleh gambaran bahwa sebagian besar respon siswa masih belum memenuhi harapan, meskipun pada beberapa indikator mengalami peningkatan.&lt;br /&gt;Faktor yang menyebabkan tujuan belum tercapai adalah a) guru masih kesulitan menerjemahkan PRAMEK dalam pembelajaran di kelas, b) guru belum sepenuhnya ihlas melakukan perubahan pembelajaran, c) guru masih beranggapan kelas tersebut memang berbeda dengan kelas lain, dan d) guru masih berusaha mencari formula yang lebih pas dalam melaksanakan pembelajaran. Dalam melaksanakan tindakan, guru belum sepenuhnya melaksanakan pembelajaran sesuai yang direncanakan. Guru belum mampu menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan, merubah cara memberikan pertanyaan, mencari solusi keterbatasan bahan ajar, dan belum mampu melakukan pendekatan terhadap siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Deskripsi Tindakan dan Hasil Siklus 2&lt;br /&gt;Berdasarkan pengamatan, pembelajaran aktif yang dilaksanakan oleh guru adalah guru memberi pengarahan tentang pekerjaan yang ada pada LK, tiap-tiap kelompok mengerjakan LK. Mendiskusikan dan mempersiapkan hasil karyanya untuk presentasi, guru memberikan penegasan lagi tentang materi diskusi, dengan panduan lembar kerja yang telah disiapkan oleh guru, dan guru memberi pertanyaan kepada siswa tentang perasaan mereka ketika mereka menawar barang, dan berusaha membeli berbagai macam barang.&lt;br /&gt;Kegiatan pembelajaran menantang yang dilaksanakan oleh guru adalah guru membagikan LK pada masing-masing kelompok, guru menawarkan pada peserta didik kelompok mana yang akan presentasi dulu, dan guru memberikan reward pada kelompok berpenampilan terbaik, hasil karya terbaik, kerjasama terbaik.&lt;br /&gt;Kegiatan pembelajaran rekreatif yang dilaksanakan oleh guru adalah mengajak siswa ke pasar, melakukan penyegaran (ice breaking), dan menyuruh siswa bernyanyi. Kegiatan pembelajaran efektif  yang dilaksanakan oleh guru adalah guru memberi intruksi kepada siswa agar kelas dibagi menjadi 6 kelompok dengan tak bersuara selama 5 menit, guru melakukan pengawasan terhadap jalannya diskusi dengan berkeliling ke kelompok per kelompok sambil  mencatat keaktifan siswa, guru juga mengingatkan beberapa siswa yang belum melaksanakan aktifitas  secara maksimal.&lt;br /&gt;Kegiatan pembelajaran kontekstual yang dilaksanakan oleh guru adalah guru menyuruh siswa untuk mencari contoh-contoh penyimpangan sosial yang ada di lingkungan rumahnya, guru memberi pertanyaan pada siswa bagaimana caranya menasehati jika dirumahmu ada KDRT (kekerasan dalam rumah tangga)?, dan guru mengajak siswa untuk mengamati proses jual beli di pasar tradisional.&lt;br /&gt;Berdasarkan pengamatan menggunakan skala penilaian, diperoleh data hasil  pengamatan terhadap tren pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Data hasil pengamatan sebagaimana pada tabel 03 berikut ini.&lt;br /&gt;Tabel: 03&lt;br /&gt;Tren Tindakan PRAMEK&lt;br /&gt;Siklus 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indikator    Pertemuan 1    Pertemuan 2     3 Pertemuan     4 Pertemuan       &lt;br /&gt;Rekreatif (target 70%)    35 (89%)    36  (90%)    35  (89%)    37  (92%)      &lt;br /&gt;Aktif (Target 70%)    36 (90%)    36 (90%)    37 (92%)    35  (89%)      &lt;br /&gt;Menantang (Target 70%)    31 (79%0    38   (95%)    38  (95%)    38 (95%)      &lt;br /&gt;Efektif (Target 70%)    32 (64 %)    35 70%)    40 (80%)    45 (90%)      &lt;br /&gt;Kontekstual (Target 70%)    26  (65%)    26 (65%)    31 (79%)    34 (85%)    &lt;br /&gt;Sumber: Hasil penilaian&lt;br /&gt;Berdasarkan tabel tersebut diketahui bahwa guru telah melaksanakan pembelajaran yang rekreatif, aktif, menantang, efektif, dan kontekstual sesuai target. Tabel tersebut juga menginformasikan perkembangan atau dinamika ketercapaian hasil tindakan.&lt;br /&gt;Berdasarkan pengamatan juga diketahui respon siswa terhadap mata pelajaran IPS mengalami peningkatan. Siswa sudah berani bertanya, mengemukakan pendapat, menjawab pertanyaan, dan mengerjakan tugas tepat waktu. Secara kuantitatif, perhitungan terhadap respon siswa terhadap mata pelajaran IPS dipaparkan pada tabel 04 berikut.&lt;br /&gt;Tabel 04&lt;br /&gt;Tren Indikator Ketercapaian Tujuan&lt;br /&gt;Siklus 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No    Indikator Ketercapaian    Pertemuan 1    Pertemuan 2    Pertemuan 3    Pertemuan 4      &lt;br /&gt;1    Jumlah siswa yang memperhatikan materi yang disampaikan guru    28    30    30    34      &lt;br /&gt;2    Jumlah siswa yang berani bertanya tentang materi pelajaran yang disampaikan guru    2    2     4     6      &lt;br /&gt;3    Jumlah siswa yang berani menjawab pertanyaan guru    3     4    8     8      &lt;br /&gt;4    Jumlah siswa siswa yang aktif mengerjakan tugas tepat waktu    25    25    30    32      &lt;br /&gt;5    Jumlah siswa berani yang mengemukakan pendapat    3     4    6    8    &lt;br /&gt;Sumber: hasil pengamatan&lt;br /&gt;Berdasarkan tabel tersebut diketahui respon siswa terhadap mata pelaran IPS pada jam terahir mengalami peningkatan dan sesuai dengan target. Secara keseluruhan ada peningkatan yang berarti pada siklus 2. Siswa yang memperhatikan guru mencapai 34 siswa (94,4%) dari seluruh kelas yang berjumlah 36, dan sudah melampaui target indikator keberhasilan 70%, atau kalau dirata-rata dari pertemuan 1,2,3 dan 4 ada 31 siswa 86,1 % dari 36 , ini juga sudah melampui target yang 70 % .&lt;br /&gt;Untuk siswa yang berani bertanya pada guru pada pertemuan 4 ada 6 siswa dari 36 siswa sedang target ketercapaian ada 4 siswa, kalau dirata-rata pertemuan 1-4,  ada 5 siswa yang berani bertanya, berarti untuk keberanian siswa bertanya pada guru ada diatas target indikator keberhasilan. Respons siswa dalam menjawab pertanyaan guru pada pertemuan ke 4 ada  6, jika dirata-rata pertemuan 1-4 ada 6, jadi sudah mencapai target keberhasilan indikator. Untuk mengerjakan tugas tepat waktu kalau dirata-rata dari pertemuan 1-4 ada 28 siswa, target keberhasilan indikator 25 siswa, jadi sudah tercapai. Respons siswa untuk mengemukakan pendapat kalau dirata-rata pertemuan 1-4 ada 5 siswa, target indikator keberhasilan ada 3 siswa yang berani mengemukakan pendapat 5 siswa, jadi keberhasilan sudah tercapai.&lt;br /&gt;Dengan demikian bahwa tindakan yang dilakukan tim PTK pada silkus 2 sudah berhasil sesuai target indikator keberhasilan. Untuk itu penelitian tindakan kelas dapat dihentikan.&lt;br /&gt;Pembahasan&lt;br /&gt;Mata pelajaran IPS bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan a) mengenal  konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan  masyarakat dan lingkungannya, b) memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu,  inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial, c) memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan, dan d) memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional, dan global.&lt;br /&gt;Untuk mendukung tujuan tersebut diperlukan proses pembelajaran yang mampu menempatkan siswa sebagai subyek pembelajaran. Siti Prihatiningtyas (2004) berpendapat bahwa pembelajaran merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Guru harus menggunakan strategi yang baik agar siswa mampu mencapai tujuan.&lt;br /&gt;Dalam pandangan teori belajar humanistik, belajar menekankan pada isi dan proses yang berorientasi pada peserta didik sebagai subyek belajar (Rianto, 2000). Teori ini bertujuan untuk memanusiakan manusia agar mampu mengaktualisasikan diri dalam kehidupan. Pembelajaran juga harus berpedoman pada pandangan pembelajaran konstruktivisme. Paradigma konstruktivistik merupakan basis reformasi pendidikan saat ini. Menurut paradigma konstruktivistik, pembelajaran lebih mengutamakan penyelesaian masalah, mengembangkan konsep, konstruksi solusi dan algoritma daripada  menghafal prosedur dan menggunakannya untuk memperoleh satu jawaban benar.&lt;br /&gt;Jika respons siswa merupakan indikator yang dianggap penting dalam pembelajaran, maka seorang guru perlu memahami bahwa model pembelajaran inovatif dapat diterapkan pada kesempatan tertentu dan subjek tertentu. Artinya, tidak ada model pembelajaran yang dianggap paling baik untuk mendorong  respons siswa terhadap pelajaran, tetapi guru perlu menguasai dan mampu menerapkan model-model pembelajaran tersebut di dalam kelas.&lt;br /&gt;Guru dituntut melaksanakan pembelajaran yang baik, pembelajaran yang mampu mendorong siswa secara aktif terlibat dalam kegiatan pembelajaran yang menyenangkan. Dalam kenyataannya tidak selamanya siswa mempunyai respon yang baik terhadap seluruh mata pelajaran, apalagi pada mata pelajaran IPS yang dilaksanakan pada jam-jam terahir. Untuk itu Guru IPS mensiasati dengan melaksanakan PRAMEK (pembelajaran rekreatif, aktif, menantang, efektif, dan kontekstual).&lt;br /&gt;Nyatanya pelaksanaan pembelajaran tersebut tidak mudah. Sebagaimana yang telah dipaparkan pada deskripsi hasil, PRAMEK yang telah dilaksanakan ternyata tidak berjalan dengan baik. Guru belum sepenuhnya melaksanakan pembelajaran sesuai yang direncanakan. PRAMEK belum sepenuhnya diimplementasikan melalui pembelajaran yang nyata. Guru belum mampu menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan, merubah cara memberikan pertanyaan, mencari solusi keterbatasan bahan ajar, dan belum mampu melakukan pendekatan terhadap siswa.&lt;br /&gt;Akibatnya, respon siswa masih dibawah yang diharapkan. Tidak ada siswa yang berani bertanya tentang materi pelajaran yang disampaikan guru, jumlah siswa yang berani menjawab pertanyaan guru dibawah target, dan jumlah siswa berani yang mengemukakan pendapat hanya beberapa orang.&lt;br /&gt;Faktor penyebabnya berdasarkan refleksi yang dilakukan tim adalah guru masih kesulitan menerjemahkan PRAMEK dalam pembelajaran di kelas, guru belum sepenuhnya ihlas melakukan perubahan pembelajaran, guru masih beranggapan kelas tersebut memang berbeda dengan kelas lain, dan guru masih berusaha mencari formula yang lebih pas dalam melaksanakan pembelajaran.&lt;br /&gt;Untuk mengatasi masalah tersebut, guru terus didukung sepenuhnya oleh tim dalam memahami dan menerjemahkan PRAMEK melalui diskusi yang berlangsung intensif. Guru perlu didorong lebih terbuka dalam memahami kekurangan siswa, sehingga guru lebih ihlas dalam melaksanakan pembelajaran tersebut. Guru perlu diberi pemahaman bahwa kondisi kelas yang di treatment tersebut kondisi kelas dan waktunya memang berbeda, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk melaksanakan pembelajaran yang rekreatif, aktif, menantang, efektif, dan kontekstual. Dengan kata lain, guru memang tidak perlu bosan-bosan mencoba menerapkan pembelajaran yang mengandung unsur rekreatif, aktif, menantang, efektif, dan kontekstual.&lt;br /&gt;Setelah guru melakukan siklus kedua, ternyata pembelajaran yang dilaksanakan mengalami perubahan yang signifikan. Belajar dari pengalaman sebelumnya guru semakin menguasai PRAMEK. Dalam pelaksanaan pembelajaran guru semakin nyaman melaksanakan pembelajaran, sehingga respon siswa mengalami peningkatan. Peningkatan respon yang diperlihatkan siswa adalah mempunyai keberanian bertanya terhadap materi yang telah diajarkan, berani menjawab pertanyaan guru atas inisiatif sendiri, mengerjakan tugas tepat waktu, dan mempunyai keberanian mengemukakan pendapat.&lt;br /&gt;Keberhasilan guru dalam melaksanakan PRAMEK tidak terwujud begitu saja, tapi membutuhkan waktu, proses, kerjasama, bimbingan, dan keterbukaan dari guru yang bersangkutan. Guru perlu waktu untuk memahami karakteristik siswa dan menyesuaikan pula dengan waktu pembelajaran. Guru perlu waktu untuk bisa membedakan perbedaan pengaruh secara psikologis antara pelajaran pagi dengan siang. Guru membutuhkan proses yang relativ panjang untuk bisa menerima kenyataan bahwa siswa mempunya kemampuan yang bermacam-macam.&lt;br /&gt;Guru perlu membuka diri dalam memahami perbedaan siswa. Tidak semua siswa cerdas, dan siswa cerdas akan mengalami kesulitan belajar ketika waktu pembelajaran mengalami hambatan. Untuk itu diperlukan kreatifitas dan inovasi guru dalam pembelajaran. Salah satunya melalui pembelajaran yang rekreatif, aktif, menantang, efektif, dan kontekstual (PRAMEK).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;Pelaksanaan pembelajaran rekreatif, aktif, menantang, efektif, dan kontekstual untuk meningkatkan respon siswa ternyata tidak berjalan dengan mudah. Faktor yang menyebabkan tujuan belum tercapai adalah guru masih kesulitan menerjemahkan PRAMEK dalam pembelajaran di kelas, belum sepenuhnya ihlas melakukan perubahan pembelajaran, masih beranggapan kelas tersebut memang berbeda dengan kelas lain, dan masih berusaha mencari formula yang lebih pas dalam melaksanakan pembelajaran.&lt;br /&gt;Belajar dari pengalaman sebelumnya guru semakin menguasai PRAMEK. Dalam pelaksanaan pembelajaran guru semakin nyaman melaksanakan pembelajaran, sehingga respon siswa mengalami peningkatan. Peningkatan respon yang diperlihatkan siswa adalah mempunyai keberanian bertanya terhadap materi yang telah diajarkan, berani menjawab pertanyaan guru atas inisiatif sendiri, mengerjakan tugas tepat waktu, dan mempunyai keberanian mengemukakan pendapat.&lt;br /&gt;Guru mata pelajaran mempunyai permasalahan dan kesulitan yang beragam sesuai dengan mata pelajaran, siswa, dan waktu, disamping faktor-faktor lain yang saling berpengaruh. Pembelajaran inovatif perlu dilaksanakan guru dengan pendekatan yang menempatkan siswa sebagai subyek. Respon siswa sebagai salah satu indikator keberhasilan proses pembelajaran perlu dipahami dan disikapi dengan pelaksanaan pembelajaran yang inovatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;Herdian. 2009. Model Pembelajaran Cooperatif Tipe TGT (Teams Games Tournament)&lt;br /&gt;Kristinawati. Upaya Mewujudkan Pakem (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif Dan Menyenangkan) Melalui Pembelajaran Kooperatif Model Teams Games Tournaments Pada Siswa Kelas VII SMP Muhammadiyah 9 Yogyakarta. Yogyakarta. UIN&lt;br /&gt;Martiningsih. 2007. Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bagaimana Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan ? www. Martiningsih.online&lt;br /&gt;Prihatiningtyas, Siti. 2004. Penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah dalam Proses Belajar Mengajar da MTs Al Khoiriyah Semarang. Tesis. Semarang: Program Pascasarjana Unnes&lt;br /&gt;Sudrajad Ahmad. 2009. Model Cooperatif learning dan pendekatan ICARE (1). http://smacepiring.wordpress.com/&lt;br /&gt;Udin S. Winataputra. 2003. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.&lt;br /&gt;Wina Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-8560600454834338398?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/8560600454834338398/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2012/01/meningkatkan-respons-siswa-kelas-viii-d.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/8560600454834338398'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/8560600454834338398'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2012/01/meningkatkan-respons-siswa-kelas-viii-d.html' title='MENINGKATKAN RESPONS SISWA KELAS VIII-D SMP NEGERI 15 PURWOREJO  TERHADAP MATA PELAJARAN IPS PADA JAM TERAHIR MELALUI PRAMEK (Pembelajaran Rekreatif,'/><author><name>Teras Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14732676323560413012</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_jPYUd5dZY8o/TN9Q9GckyrI/AAAAAAAAABk/SEB4NP_haK8/S220/DS.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-6385691397732728869</id><published>2012-01-22T05:32:00.000-08:00</published><updated>2012-01-22T05:32:56.200-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Pendidikan'/><title type='text'>Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Mata Pelajaran IPS SMP Melalui Pengajaran Profesional dan Pembelajaran Bermakna (Better Teaching and Learning)</title><content type='html'>Oleh Muh. Sholeh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Abstrak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Untuk membantu siswa mencapai tujuan belajar sesuai kompetensinya, guru harus melaksanakan pengajaran professional dan pembelajaran bermakna. Perubahan harus dilaksanakan dalam hal pendekatan, strategi, dan teknik pembelajaran di kelas. Guru punya otonomi dalam memilih pendekatan, strategi, dan pembelajaran, disesuaikan dengan tujuan pembelajaran masing-masing.&lt;br /&gt;Pilihan tersebut harus didasarkan pada criteria-kriteria tertentu. Pengajaran professional dan pembelajaran bermakna dapat dilaksanakan melalui beberapa langkah, yaitu telaah kurikulum, pembuatan lembar kerja, pengembangan media pembelajaran, Penilaian dan penyusunan rublik penilaian, dan penyusunan jurnal refleksi.&lt;br /&gt;Telaah kurikulum dilaksanakan dalam bentuk pemetaan SK/KD untuk menghasilkan tema. LK/LT ditujukan menggali ide siswa dalam bentuk hasil karya orisinil untuk menjawab pertanyaan tingkat tinggi. Pengembangan media diarahkan pada pemanfaatan lingkungan sekitar dengan berpedoman pada media pembelajaran yang efektif dan terjangkau. Teknik penilaian dan penyusunan rubrik merupakan standar obyektif dalam memberikan penilaian terhadap karya siswa. Adapun jurnal refleksi merupakan langkah bijak guru untuk memperbaiki diri agar menjadi lebih baik dalam melaksanakan pembelajaran di kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Kunci: Pengajaran professional, pembelajaran Bermakna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pengantar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tujuan utama pembelajaran di kelas adalah membantu siswa mencapai tujuan belajar sesuai dengan kompetensinya masing-masing. Untuk mewujudkan tujuan tersebut guru harus melaksanakan pengajaran secara professional dan pembelajaran bermakna. Guru harus berani melakukan perubahan. Perubahan tersebut diantaranya perubahan peran guru dari pengajar di depan kelas menjadi fasilitator di dalam kelas, dari pelaksanakan pembelajaran berorientasi guru ke siswa, dari orientasi produk ke peningkatan kualitas proses, dan dari pembelajaran menegangkan menjadi menyenangkan. &lt;br /&gt;Salah satu wujud perubahan tersebut adalah melaksanakan pembelajaran kooperatif, yaitu pembelajaran yang mendorong siswa belajar baik secara kelompok maupun individual untuk mempelajari materi dengan menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.&lt;br /&gt;Sesuai dengan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi, Tujuan mata pelajaran IPS adalah 1) Mengenal&amp;nbsp; konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan&amp;nbsp; masyarakat dan lingkungannya, 2) Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu,&amp;nbsp; inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial, 3) Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan, dan 4) Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional, dan global. Untuk mencapai tujuan tersebut guru melaksanakan pembelajaran di kelas.&lt;br /&gt;Dalam bukunya yang berjudul Handbook of Cooperatif Learning karya Shlomo Sharan (2009), ada beberapa metode cooperative learning, diantaranya Student Teams Acheavement Divisions (STAD), Team Assisted Individualization dan Cooperatife Integrated Reading and Composition (TAI dan CIRC), Interdependensi Alami:Jigsaw, Belajar Bersama, Pengelolaan Perdebatan Akademis, dan Penugasan Kompleks: Pemikiran Canggih di Kelas. Tentu masih banyak metode yang lain yang dapat diaplikasikan oleh guru di kelas.&lt;br /&gt;Namun demikian yang harus diperhatikan oleh guru adalah, bahwa pemilihan strategi pembelajaran harus didasarkan pada criteria tertentu.Mager (1977) dalam Hamzah (2007) menyampaikan beberapa criteria yang dapat digunakan dalam memilih strategi pembelajaran, yaitu a) berorientasi pada tujuan pembelajaran, b) pemilihan teknik pembelajaran yang sesuai, dan c) pemilihan media pembelajaram.&lt;br /&gt;Semua diserahkan sepenuhnya pada guru, karena guru adalah pelaku utama dalam pelaksanaan pembelajaran. Namun demikian guru perlu menempuh beberapa langkah dalam rangka pelaksanaan pengajaran professional dan pembelajaran bermakna (Better Teaching and Learning) sebagaimana yang direkomendasikan oleh program Decentralized Basic Education 3 (DBE3). Langkah-langkah yang ditempuh guru dalam rangka pelaksanaan pengajaran profesional dan pembelajaran bermakna adalah telaah kurikulum, pembuatan lembar kerja, pengembangan media pembelajaran, Penilaian dan penyusunan rublik penilaian, dan penyusunan jurnal refleksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Telaah Kurikulum &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Romine (1954) dalam Hamalik (2007) menjelaskan bahwa ”Curriculum is interpreted to mean all of the organized courses, activities, and experiences which pupils have under direction of the school, wheter in the classroom or not”. Dalam bukunya "Curriculum Development Theory and Practice” yang diunduh dari www.depdiknas go.id&amp;nbsp; Hilda Taba (1962)&amp;nbsp; mengatakan bahwa kurikulum sebagai a plan for learning, yakni sesuatu yang direncanakan untuk dipelajari oleh siswa. Sementara itu, pandangan lain mengatakan bahwa kurikulum sebagai dokumen tertulis yang memuat rencana untuk peserta didik selama di sekolah. Untuk melaksanakan pengajaran professional dan pembelajaran bermakna, guru harus memahami dan mampu menelaah kurikulum yang berlaku.&lt;br /&gt;Telaah kurikulum dilaksanakan dengan cara mengkaji secara mendalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SK dan KD) yang terdapat dalam Standar Isi (SI) di setiap mata pelajaran melalui suatu proses yang dikenal dengan pemetaan kompetensi atau ’competency mapping/Scanning’. Dengan proses ini, kita mendapatkan gambaran menyeluruh tentang kompetensi-kompetensi yang ada dan ditemukan cara mengorganisasikannya dengan baik.&lt;br /&gt;Pemetaan kompetensi ini dimulai dengan mengumpulkan kompetensi-kompetensi yang memiliki kesamaan aspek tertentu. Kesamaan-kesamaan ini selanjutnya dikemas menjadi tema/konteks/teks/unit.&amp;nbsp; Selanjutnya, konteks/ tema/teks/unit ini dijadikan wadah bagi pengembangan pembelajaran yang lebih bermakna. Kompetensi-kompetensi tersebut akan terkembangkan secara terpadu, saling berhubungan, dan lebih utuh. Hal tersebut akan berdampak pada pembelajaran yang menjadi lebih kontekstual.&lt;br /&gt;Pada mata pelajaran IPS, pemetaan kurikulum dapat dilaksanakan dengan memadukan seluruh kompetensi dasar dalam satu tahun. Pemetaan tersebut dapat dihimpun dalam beberapa tema aktual yang sedang hangat di tengah masyarakat. Karena pemetaan berbasis tema, maka keberadaan standar kompetensi seolah-olah diabaikan. Ini terjadi karena tema tertentu akan didukung oleh beberapa KD yang kemungkinan tersebar di beberapa SK.&lt;br /&gt;Contoh, guru IPS kelas dapat membuat tema ”Cicak VS Buaya”. Tema tersebut dipilih karena beritanya sedang aktual pada saat itu. Tema tersebut dapat didukung oleh KD a) mendeskripsikan interaksi sebagai proses sosial, b) mengidentifikasi bentuk-bentuk&amp;nbsp; interaksi sosial, dan c) mendeskripsikan manusia sebagai makhluk sosial dan ekonomi yang bermoral dalam memenuhi kebutuhan. KD pendukung tema tersebut berada di dua SK, yaitu a) memahami kehidupan sosial manusia, dan b) memahami usaha manusia memenuhi kebutuhan.&lt;br /&gt;Dalam satu tahun guru setidak-tidaknya dapat membuat 4 tema yang sesuai dengan selera guru masing-masing. Dalam prakteknya akan ada beberapa KD yang dapat masuk dalam beberapa tema tetapi ada juga KD yang tidak dapat masuk dalam tema-tema yang ada. Untuk itu guru garus mensiasati dengan baik. Misalnya KD yang tidak masuk tema dipisahkan tersendiri, artinya akan ada waktu khusus membahas KD tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pembuatan Lembar Kerja/Lembar Tugas (LK/LT)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Selama ini guru telah menjadikan Lembar Kerja Siswa (LKS) sebagai salah satu sumber belajar. Pemanfaatan LKS tersebut tidak sebatas pengganti jika guru tidak bisa hadir di kelas, tetapi harus diperluas pada mendorong siswa berpikir tingkat tinggi. Jika selama ini guru memanfaatkan LKS buatan pihak lain dan harganya mahal, maka guru harus melakukan perubahan dengan membuat LKS sendiri yang disesuaikan dengan kondisi kelas masing-masing. LKS dapat juga disebut Lembar Kerja/Lembar Tugas (LK/LT). LK/LT dimaksudkan untuk memicu dan membantu siswa melakukan kegiatan belajar dalam rangka menguasai suatu pemahaman, keterampilan, dan/atau sikap. &lt;br /&gt;Beberapa kenyataan menunjukkan LK/LT digunakan hampir di akhir suatu sesi, yaitu setelah guru menjelaskan suatu konsep/pemahaman, sehingga LK/LT lebih terasa sebagai soal latihan atau bahkan sebagai soal tes terhadap konsep yang telah dijelaskan guru. LK/LT yang ada sering meminta siswa hanya mengisi titik-titik dengan kata atau kalimat pendek &lt;br /&gt;LK/LT merupakan bagian dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan merupakan sebagian alat yang digunakan guru dalam mengajarnya. Oleh karena itu, LK/LT tidak dimaksudkan untuk mengganti guru. Guru masih memiliki peran, yaitu menjadikan suasana pembelajaran menjadi interaktif dengan cara mengatur agar hasil belajar siswa melalui LK/LT tersebut terkomunikasikan dan didiskusikan di antara para siswa.&lt;br /&gt;Tidak setiap mengajar diperlukan LK/LT dalam bentuk lembaran. Pengertian LK/LT sebaiknya tidak terpaku pada lembarannya melainkan pada isi, yaitu struktur yang ada pada LK/LT tersebut; sehingga bila tidak memungkinkan untuk memperbanyaknya, maka isinya cukup ditulis di papan tulis bahkan jika singkat, isi LK/LT cukup dikemukakan secara lisan oleh guru.&lt;br /&gt;Secara umum struktur LK/LT terdiri dari 2 hal, yaitu informasi atau konteks permasalahan dan pertanyaan atau perintah. Informasi atau konteks permasalahan, hendaknya menginspirasi siswa untuk menjawab/mengerjakan tugas. Dalam mata pelajaran IPS informasi dapat berupa gambar, teks, tabel, atau benda konkret.&lt;br /&gt;Pertanyaan atau perintah, hendaknya memicu siswa untuk menyelidiki, menemukan, memecahkan masalah dan/atau berimajinasi/mengkreasi. Usahakan jumlah pertanyaan dibatasi agar siswa dapat lebih leluasa mengeksplorasi ide-idenya. Guru IPS harus mampu menyusun LK/LT yang berkualitas sehingga mampu mendorong siswa memproduksi hasil karya asli (orisinal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pengembangan Media Pembelajaran&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Schramm (1977) dalam Akhmad Sudrajat (2009) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Sementara itu, National Education Associaton (1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras. Menurut Yamin (2007), manfaat media dalam pembelajaran adalah memperlancar proses interaksi antara guru dengan siswa, dalam hal ini membantu siswa belajar secara optimal. Manfaat ini tentu dipahami oleh guru.&lt;br /&gt;Bagi sebagian guru, media pembelajaran ideal adalah media yang dapat menunjukkan tingkat kemajuan dan teknologi yang berkembang. Guru yang mampu menguasai teknologi modern dan mengaplikasikan dalam pembelajaran di kelas dianggap kompeten. Ini menjadi sumber masalah bagi sekolah-sekolah kelas menengah kebawah. Tuntutan guru terhadap sekolah cenderung mengarah pada tuntutan pada penyediaan sekolah terhadap instrumen-instrumen modern, seperti OHP, LCD, computer, laptop, dan sejenisnya. Semangat guru yang sebelumnya membara mendadak redup karena keterbasan sekolah menyediakan tuntutan guru. Hal tentu tidak diinginkan oleh semua pihak karena media pembelajaran merupakan salah satu dari sekian instrumen pendukung proses belajar siswa di kelas.&lt;br /&gt;Kekeliruan lain yang kadang terjadi dalam memanfaatkan media pembelajaran adalah, pengguna media pembelajaran didominasi oleh guru. Posisi siswa berada pada tempat duduk masing-masing sambil menyaksikan guru memanfaatkan media pembelajaran. Contoh, guru IPS dengan lancer menunjukkan kota-kota yang tertera pada selembar peta yang dipasang di papan tulis, sementara siswa tidak dapat membaca nama kota yang ditunjuk oleh guru. &lt;br /&gt;Media pembelajaran yang dapat dikembangkan dan dimanfaatkan guru sangat bervariasi. Beberapa contoh media pembelajaran yang dimaksud adalah: foto, karikatur, poster, koran, bagan, grafik, peta, benda model, permainan, slide, proyeksi komputer, overhead transparansi, radio, televisi, lingkungan (fisik, alam, sosial, dan peristiwa). Beberapa media, seperti media sederhana, kadang perlu dikembangkan, dimodifikasi, dikombinasikan dengan media lain, atau dicari alternatif media lainnya yang juga relevan&amp;nbsp; untuk membantu pencapaian tujuan pembelajaran. Media dari alat dan bahan sederhana seringkali menarik dan menantang karena dapat merangsang kreativitas guru dalam mengembangkan dan siswa dalam menggunakannya. Media sederhana sangat disarankan meskipun media-media yang lebih modern seperti komputer dapat dimanfaatkan jika tersedia.&lt;br /&gt;Guru-guru dapat memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Guru IPS selama ini dikenal kreatif dalam memanfaatkan barang-barang bekas baik Koran, ember, bekas minuman mineral, wadah sabun, dan sebagainya sebagai sumber belajar. Dengan demikian, semangat yang diusung dalam memanfaatkan media pembelajaran adalah bagaimana guru memanfaatkan media pembelajaran yang efektif dan terjangkau. Efektif sesuai tema pembelajaran, terjangkau secara ekonomi dan ketersediaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Teknik Penilaian dan Penyusunan Rubrik Penilaian&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengetahui kompetensi siswa, guru dapat melakukan penilaian. Ada beberapa teknik penilaian yang dapat dikembangkan oleh guru IPS, yaitu penilaian kinerja, penilaian sikap, penilaian tertulis, penilaian proyek, penilaian produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.&lt;br /&gt;Penilaian kinerja dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kinerja siswa. Penilaian kinerja dilakukan melalui pengamatan. Kinerja yang dapat diamati seperti: bermain peran, memainkan alat musik, bernyanyi, membaca puisi/deklamasi, menggunakan peralatan laboratorium, mengoperasikan suatu alat, dan lain-lain. Alat pengamatan yang digunakan dapat berupa Daftar Cek atau Skala Rentang.&lt;br /&gt;Sikap terdiri dari tiga komponen, yakni: komponen afektif (perasaan), komponen kognitif (keyakinan), dan komponen konatif (kecenderungan berbuat) . Objek sikap yang perlu dinilai dalam proses pembelajaran berbagai mata pelajaran adalah a) sikap terhadap subjek, b) sikap positif terhadap belajar, c) sikap positif terhadap diri, dan d) sikap terhadap seseorang yang berbeda. Teknik penilaian sikap dapat berupa: observasi perilaku, pertanyaan langsung, dan laporan pribadi. Observasi&amp;nbsp; perilaku di sekolah dapat dilakukan dengan menggunakan buku catatan khusus tentang kejadian-kejadian berkaitan dengan peserta.&lt;br /&gt;Penilaian secara tertulis dilakukan dengan tes tertulis. Dalam menjawab soal siswa tidak selalu merespon dalam bentuk menulis jawaban tetapi dapat juga dalam bentuk yang lain, seperti memberi tanda, mewarnai, menggambar dan lain sebagainya. Dalam mengembangkan instrumen penilaian ini, guru perlu mencermati kesesuian antara soal (materi)&amp;nbsp; dengan indikator pada kurikulum. Selain itu, rumusan soal atau pertanyaan (konstruksi) harus jelas dan tegas. Rumusan soal tidak menggunakan kata/ kalimat (bahasa) yang menimbulkan penafsiran ganda.&lt;br /&gt;Penilaian proyek adalah penilaian terhadap suatu tugas (suatu investigasi sejak dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan dan penyajian data) yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu.&amp;nbsp; Penilaian ini dimaksudkan untuk mengetahui pemahaman dan pengetahuan dalam bidang tertentu, kemampuan siswa mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam penyelidikan tertentu, dan kemampuan siswa dalam menginformasikan subyek tertentu secara jelas. &lt;br /&gt;Penilaian produk meliputi penilaian terhadap kemampuan siswa membuat produk-produk teknologi dan seni, seperti: makanan, pakaian, hasil karya seni (patung, lukisan, gambar), barang-barang terbuat dari kayu, keramik, plastik, dan logam. Pada umumnya pengembangan produk meliputi 3 (tiga) tahap dan dalam setiap tahapan perlu diadakan penilaian, yaitu tahap persiapan, pembuatan, dan penilaian.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Penilaian Portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan siswa dalam satu periode tertentu. Portofolio dapat memperlihatkan perkembangan kemajuan belajar siswa melalui karya siswa. &lt;br /&gt;Teknik penilaian diri dapat digunakan dalam berbagai aspek penilaian, yang berkaitan dengan kompetensi kognitif, afektif dan psikomotor. Dalam menerapkan penilaian diri ini, guru perlu melakukan hal-hal: a) menentukan kompetensi atau aspek kemampuan yang akan dinilai, b) menentukan kriteria penilaian yang akan digunakan, c) merumuskan format penilaian, dapat berupa pedoman penskoran, daftar tanda cek, atau skala rentang, d) meminta siswa untuk melakukan penilaian diri, e) mendorong siswa supaya senantiasa melakukan penilaian diri secara cermat dan objektif.&lt;br /&gt;Tanpa mengabaikan teknik penilaian yang ada, guru perlu menyusun rubrik penilaian. Rubrik penilaian yang dimaksud di sini adalah pembuatan rambu-rambu secara obyektif, terukur dan akurat sebagai standar dalam memberikan penilaian terhadap hasil karya siswa. Penyusunan rublik penilaian perlu dilakukan untuk menghindari subyektivitas guru dalam memberikan penilaian terhadap hasil karya siswa. Dengan rublik tersebut penilaian terhadap hasil karya siswa dapat dipertanggungjawabkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penyusunan Jurnal Refleksi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Guru yang baik adalah guru yang selalu ingin meningkatkan kualitasnya dari waktu kewaktu. Peningkatan yang dimaksud meliputi penguasaan materi pelajaran, kemampuan mengajar, dan kepribadian sebagai pendidik. Peningkatan kualitas seorang guru harus merupakan dorongan alamiah, sehingga guru harus mampu melaksanakan refleksi diri. refleksi berkaitan dengan kegiatan merenung, memikirkan dengan sungguh-sungguh suatu peristiwa, mengevaluasi kebermanfaatannya, dan merencanakan tindak lanjut untuk perbaikan.&lt;br /&gt;Kemampuan untuk berefleksi tentang pelaksanaan belajar mengajar sehari-hari di kelas merupakan keterampilan yang sangat penting untuk&amp;nbsp; dikembangkan guru. Guru yang dapat berefleksi, merenungkan dan menganalisis apa saja yang dilakukannya dan pengaruhnya pada pembelajaran murid, akan dapat menemukan kelebihan dan kelemahan proses belajar mengajar mereka. Guru akan terbantu untuk meneruskan dan memperbaharui hal-hal yang sudah baik, tidak mengulangi kesalahan yang sama, dan mencari jalan keluar untuk memecahkan kelemahan mengajar yang ditemukannya dan masalah belajar yang dihadapi siswanya. &lt;br /&gt;Sarana yang dapat membantu guru melakukan refleksi adalah jurnal fefleksi. Jurnal refleksi merupakan kumpulan catatan&amp;nbsp; perenungan dan analisis guru tentang proses belajar mengajar sehari-hari di kelas serta rencana tindak lanjut untuk hal-hal yang ditemukan dalam perenungannya.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Setidaknya jurnal refleksi terdiri dari 6 unsur yang membentuk siklus atau terus berputar sampai menemukan kondisi ideal. Unsur-unsur tersebut adalah deskripsi, rasa dan pikiran, evaluasi, analisis, kesimpulan, dan rencana kedepan.&lt;br /&gt;Deskripsi berisi paparan tentang apa yang terjadi/apa yang kita lihat/apa yang kita alami /apa yang kita lakukan dalam kegiatan pembelajaran. Rasa dan pikiran berisi paparan tentang apa yang kita rasakan /pikirkan sehubungan dengan yang kita alami. Evaluasi berisi apa yang baik/tidak baik, bermanfaat/tidak bermanfaat dari peristiwa/pengalaman tersebut. Analisis berisi tentang apa yang kita pahami dari peristiwa/pengalaman itu, misalnya, mengapa hanya beberapa anak yang aktif bekerja dalam kerja kelompok, dan sebagainya. Kesimpulan berisi tentang apa yang seharusnya dilakuka/sebaiknya dilakukan. Rencana kedepan berisi tentang langkah yang akan dilakukan untuk memperbaiki tindakan di kelas dalam kegiatan pembelajaran.&lt;br /&gt;Tekanan yang harus diperhataikan dalam menyusun jurnal refleksi adalah, kita menyusun berdasarkan apa yang kita lakukan dan kita rasakan. Artinya kita lebih merefleksi diri kita masing tentang kekurangan dan kelemahan kita, bukan terhadap pihak lain, sehingga dengan penuh kesadaran kita akan melakukan perbaikan secara terus menerus untuk melaksanakan pengajaran professional dan pembelajaran bermakna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penutup&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tekanan pembelajaran pada mata pelajaran IPS adalah informasi, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan. Ketiga hal itu harus dapat diterjemahkan oleh guru melalui pembelajaran yang bermakna. Pembelajaran bermakna dapat terlaksana melalui pengajaran professional yang dilaksanakan guru melalui beberapa tahapan, yaitu telaah kurikulum, pembuatan lembar kerja/lembar tugas, pengembangan media pembelajaran, Penilaian dan penyusunan rublik penilaian, dan penyusunan jurnal refleksi.&lt;br /&gt;Telaah kurikulum dilaksanakan dalam bentuk pemetaan SK/KD untuk menghasilkan tema. LK/LT ditujukan menggali ide siswa dalam bentuk hasil karya orisinil untuk menjawab pertanyaan tingkat tinggi. Pengembangan media diarahkan pada pemanfaatan lingkungan sekitar dengan berpedoman pada media pembelajaran yang efektif dan terjangkau. Teknik penilaian dan penyusunan rubrik merupakan standar obyektif dalam memberikan penilaian terhadap karya siswa. Adapun jurnal refleksi merupakan langkah bijak guru untuk memperbaiki diri agar menjadi lebih baik dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Daftar Pustaka&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Hamalik Oemar. 2007. Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum.Bandung: Rosda&lt;br /&gt;Modul Pelatihan. 2009. Pengajaran Profesional dan Pembelajaran Bermakna 3 (Better Teaching and Learning 3). Program DBE3&lt;br /&gt;Peraturan Menteri pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi&lt;br /&gt;Shlomo Sharan. 2009. Handbook of Cooperative Learning: Inovasi Pengajaran dan Pembelajaran Intuk Memacu Keberhasilan Siswa di Kelas. Yogyakarta: IMPERIUM&lt;br /&gt;Sudrajad Akhmad. 2008. Media Pembelajaran. Diunduh dari&amp;nbsp; akhmadsudrajat.wordpress.com tanggal 12 Januari 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uno Hamzah B. 2007. Model Pembelajaran: Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara&lt;br /&gt;Wina Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.&lt;br /&gt;Yamin Martinis. 2007. Desain Pembelajaran Berbasis Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: GP Press&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-6385691397732728869?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/6385691397732728869/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2012/01/meningkatkan-kualitas-pembelajaran-mata.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/6385691397732728869'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/6385691397732728869'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2012/01/meningkatkan-kualitas-pembelajaran-mata.html' title='Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Mata Pelajaran IPS SMP Melalui Pengajaran Profesional dan Pembelajaran Bermakna (Better Teaching and Learning)'/><author><name>Muh. Sholeh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09255886548890166137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_6BdsiwGInjM/TN5WxEU67NI/AAAAAAAAAHE/3Ty1264IaP0/S220/DSC00124.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-5367792051684691974</id><published>2012-01-21T17:47:00.000-08:00</published><updated>2012-01-21T17:47:37.801-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Pendidikan'/><title type='text'>IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING) PADA MATERI PENGINDERAAN JAUH</title><content type='html'>Oleh Muh. Sholeh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ABSTRAK&lt;br /&gt;Tujuan penulisan ini adalah mendeskripsikan konsep dasar pembelajaran kontekstual, penginderaan jauh, dan implementasi pembelajaran kontekstual pada materi penginderaan jauh. CTL merupakan salah satu pendekatan yang direkomendasikan untuk dilaksanakan dalam pembelajaran di kelas untuk memberi efek pengalaman belajar optimal kepada siswa. Hal tersebut dapat dipahami karena di dalam CTL melibatkan tujuh komponen utama, yaitu constructivisme (membangun), questioning (bertanya), inquiry (mencari), learning community (masyarakat belajar), modelling (pemodelan), reflection (umpan balik), dan authentic assessment (penilaian sebenarnya).&lt;br /&gt;Kegiatan belajar materi inderaja di menara MAJT nampaknya sangat sederhana karena yang muncul adalah kesan bermain, santai berpotret ria dan kegiatan ringan lain. Namun demikian, jika dikaitkan dengan karakteristik CTL, kegiatan tersebut merupakan salah satu contoh bentuk pembelajaran kontekstual.&lt;br /&gt;Sebab dalam pemanfaatan MAJT siswa secara nyata berhadapan dengan dunia kehidupan yang betul-betul ada. Melalui pembelajaran tersebut komponen pembelajaran kontekstual yang terdiri dari constructivisme, questioning, inquiry, learning community, modelling, reflection, dan authentic assessment dapat diwujudkan. &lt;br /&gt;Kata Kunci: Pembelajaran Kontekstual, Penginderaan Jauh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;Salah satu topik hangat dibidang pengajaran adalah wacana mengenai pembelajaran kontekstual (Contextual Teching and Learning/CTL), yaitu menghubungkan materi pelajaran dengan dunia nyata siswa. Topik ini menghangat seiring dengan kebijakan perubahan kurikulum yang mengedepankan kompetensi, Kompetensi menurut Moh Arsyad (2007) didefinisikan sebagai kemampuan siswa mengaplikasikan semua materi pelajaran dalam kehidupan mereka sehingga memungkinkan siswa mampu berkiprah dengan baik dalam hidupnya.&lt;br /&gt;Namun demikian, sebenarnya pembelajaran kontekstual sejujurnya sudah lama jadi bahan pembicaraan guru-guru, khususnya pada forum-forum informal. Keluhan tentang kemampuan siswa yang hanya mengedepankan aspek kognitif saja, lulusan sekolah dengan nilai bagus kesulitan mendapat pekerjaan, atau munculnya istilah verbalisme, merupakan cerminan obyektif yang menunjukkan pembelajaran kontekstual sebenarnya sudah muncul di kawasan diskusi. Hanya saja suara-suara tersebut belum mampu keluar ke ruang publik, sehingga seolah-olah wacana pembelajaran kontektual merupakan wacana baru.&lt;br /&gt;Sengatan wacana pembelajaran kontekstual terasa di hampir seluruh mata pelajaran, termasuk mata pelajaran geografi. Guru geografi juga dituntut mampu melaksanakan pembelajaran kontekstual agar siswa mampu mengkaitkan antara materi yang diterima dengan kehidupan nyata. Seluruh materi geografi tak terkecuali materi penginderaan jauh (inderaja) harus didekatkan dengan dunia nyata supaya pengetahuan dapat terbangun oleh siswa melalui pengalaman yang mereka terima.&lt;br /&gt;Fakta di lapangan menunjukkan bahwa inderaja bagi sebagian guru masih dianggap sebagai materi yang sulit dan menjadi salah satu faktor kesulitan mendorong siswa mencintai materi geografi. Bayangan tentang proses pembelajaran yang harus menggunakan media high-tech menjadi salah satu faktor tidak optimalnya pembelajaran materi inderaja. Padalah inderaja diharapkan menjadi salah satu jendela agar siswa mencintai materi geografi.&lt;br /&gt;Pertanyaan yang muncul adalah, mungkinkah pembelajaran kontekstual dapat diimplementasikan pada materi inderaja? Pertanyaan tersebut sederhana, mudah, tapi butuh kemauan untuk melaksanakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan&lt;br /&gt;Berdasarkan paparan tersebut, permasalahan yang di kemukakan dalam tulisan ini adalah bagaimana implementasi pembelajaran kontesktual pada materi penginderaan jauh?&lt;br /&gt;Pembahasan&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Deskripsi Tentang Pembelajaran Kontektual&lt;br /&gt;Belajar inderaja diharapkan mampu memberi pengalaman berkesan bagi siswa. Untuk itu proses pembelajaran tidak hanya menyertakan otak atau kemampuan kognitif, tetapi tangan, kaki, mata, dan indera lain juga terlibat secara aktif sehingga kebermaknaan pengalaman belajar betul-betul dirasakan siswa. Wina Sanjaya (2008) mendefinisikan pengalaman belajar (learning experiences) sebagai sejumlah aktivitas siswa yang dilakukan untuk memperoleh informasi dan kompetensi baru sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Ada delapan tipe pengalaman belajar yang digagas oleh Gagne (1991), yaitu:&lt;br /&gt;a.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Belajar signal, yaitu belajar melalui isyarat atau tanda.&lt;br /&gt;b.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Belajar mereaksi perangsang melalui penguatan, yaitu pengalaman belajar yang terarah.&lt;br /&gt;c.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pengalaman belajar yang membentuk rangkaian (chaining), yaitu belajar merangkai atau menghubungkan gejala atau faktor sehingga menjadi satu kesatuan rangkaian yang utuh.&lt;br /&gt;d.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Belajar asosiasi verbal, yaitu pengalaman belajar dengan kata-kata manakala menerima perangsang.&lt;br /&gt;e.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Belajar membedakan atau deskriminasi, yakni pengalaman belajar mengenal sesuatu karena ciri-ciri yang memiliki kekhasan tertentu.&lt;br /&gt;f.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Belajar konsep, yaitu pengalaman belajar dengan menentukan ciri atau atribut dari objek yang dipelajarinya sehingga objek tersebut ditempatkan dalam klasifikasi tertentu.&lt;br /&gt;g.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Belajar aturan atau hukum, yaitu pengalaman belajar dengan menghubungkan konsep-konsep.&lt;br /&gt;h.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Belajar problem solving, yaitu pengalaman belajar untuk memecahkan sesuatu persoalan melalui penggabungan beberapa kaidah atau aturan.&lt;br /&gt;Pengalaman belajar menurut Jean Piaget berlangsung dalam diri individu melalui proses konstruksi pengetahuan. Pengetahuan bukanlah hasil pemberian dari orang lain seperti gurunya, akan tetapi hasil dari proses mengkonstruksi yang dilakukan setiap individu melalui aktivitas belajar yang melibatkan individu secara utuh melalui pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning atau CTL).&lt;br /&gt;CTL adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata siswa, dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Pengetahuan dan keterampilan siswa diperoleh dari usaha siswa mengkontruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru ketika ia belajar. Belajar tidak hanya menghafal, tetapi merekonstruksi atau membangun pengetahuan dan keterampilan baru lewat fakta-fakta atau proposisi yang mereka alami dalam kehidupannya.&lt;br /&gt;Center for Occupational Research (COR) menjabarkan CTL menjadi lima konsep bawahan, yaitu relating, experiencing, applying, coorperating, dan transferring. Kelima konsep tersebut jika dipaparkan secara detail akan mencerminkan karakteristik CTL, yaitu:&lt;br /&gt;a.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pembelajaran dilaksanakan dilaksanakan dalam konteks autentik yang yang mengarah pada ketercapaian keterampilan dalam kehidupan nyata.&lt;br /&gt;b.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pembelajaran memberikan kesempatan siswa untuk mengerjakan tugas-tugas yang bermakna.&lt;br /&gt;c.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan pengalaman bermakna kepada siswa.&lt;br /&gt;d.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pembelajaran dilaksanakan melalui kerja kelompok, berdiskusi, dan saling mengoreksi.&lt;br /&gt;e.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pembelajaran memberikan kesempatan untuk menciptakan rasa kebersamaan, bekerja sama, dan saling memahami antar satu dengan lain secara mendalam.&lt;br /&gt;f.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pembelajaran dilaksanakan secara aktif, kreatif, produktif, dan mementingkan kerja sama.&lt;br /&gt;g.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pembelajaran dilaksanakan dalam situasi yang menyenangkan.&lt;br /&gt;Kata kunci yang melekat sebagai karakteristk CTL menurut Nurhadi (2002) adalah kerja sama, saling menunjang, menyenangkan, belajar dengan gairah, pembelajaran terintegrasi, menggunakan berbagai sumber, siswa aktif, sharing dengan teman, siswa kritis, dan guru kreatif.&lt;br /&gt;CTL merupakan salah satu pendekatan yang direkomendasikan untuk dilaksanakan dalam pembelajaran di kelas untuk memberi efek pengalaman belajar optimal kepada siswa. Hal tersebut dapat dipahami karena di dalam CTL melibatkan tujuh komponen utama, yaitu constructivisme (membangun), questioning (bertanya), inquiry (mencari), learning community (masyarakat belajar), modelling (pemodelan), reflection (umpan balik), dan authentic assessment (penilaian sebenarnya).&lt;br /&gt;Chaedar Al Wasilah (2008) menawarkan tujuh strategi yang harus dilaksanakan dalam pembelajaran CTL, yaitu pengajaran berbasis problem, menggunakan konteks yang beragam, mempertimbangkan kebinekaan siswa, memberdayakan siswa untuk belajar sendiri, belajar melalui kolaborasi, menggunakan penilaian autentik, dan mengejar standar tinggi.&lt;br /&gt;Mengajarkan materi inderaja dapat menggunakan pendekatan CTL. Agar CTL berlangsung dengan baik, John A. Zahorik (1995) dalam Masnur Muslich (2008) mengingatkan beberapa elemen yang harus diperhatikan oleh guru, yaitu:&lt;br /&gt;a.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge).&lt;br /&gt;b.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge) dengan cara mempelajari secara keseluruhan dulu, kemudian mempelajari detailnya.&lt;br /&gt;c.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pemahaman pengetahuan dengan cara menyusun konsep sementara, melakukan sharing kepada orang lain, dan mengembangkan konsep tersebut.&lt;br /&gt;d.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mempraktikan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge).&lt;br /&gt;e.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut.&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Konsep Dasar Inderaja dan Kedudukannya dalam KTSP&lt;br /&gt;Definisi tentang penginderaan jauh (inderaja) lebih menekankan pada dua aspek mendasar, yaitu seni di satu sisi dan teknik pada sisi yang lain. Lillesand dan Kiefer (1979) mendefinisikan inderaja (remote sensing) sebagai ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu obyek, daerah atau fenomena dengan jalan analisis data yang diperoleh melalui alat perekam (sensor) yang menggunakan gelombang elektromagnetik sebagai media perantaranya tanpa menyentuh obyek.&lt;br /&gt;Menurut Lindgren (1985) inderaja yaitu berbagai teknik yang dikembangkan untuk perolehan dan analisis informasi tentang bumi. Informasi tersebut khusus berbentuk radiasi elektromagnetik yang dipantulkan atau dipancarkan dari permukaan bumi. Inderaja (remote sensing) adalah penggunaan sensor radiasi elektromagnetik untuk merekam gambar lingkungan bumi yang dapat diintepretasikan sehingga menghasilkan informasi yang berguna (Curran, 1985).&lt;br /&gt;Berdasarkan beberapa definisi tersebut dapat dinyatakan bahwa inderaja adalah ilmu, seni, dan teknik untuk mendapat informasi permukaan bumi dengan cara menganalisis gambaran permukaan bumi tanpa kontak langsung dengan obyek permukaan bumi tersebut. Inderaja dalam kehidupan sehari-hari dapat dideskripsikan sebagai pengamatan terhadap objek oleh seseorang, dimana orang tersebut tidak menyentuh objek secara langsung.&lt;br /&gt;Jika seseorang berada di atas permukaan bumi, maka dia akan melihat bagaimana kondisi permukaan bumi. Dia dapat menyaksikan deretan pohon, rumah, dan objek lain yang kebetulan dia amati. Namun demikian jika dia tidak melakukan analisis terhadap apa yang telah diamati, maka proses definisi inderaja jauh tidak langkap karena deskripsi inderaja adalah ilmu, seni dan teknik yang menggabungkan antara perasaan, analisis dan penarikan kesimpulan terhadap objek permukaan bumi tanpa kontak secara langsung.&lt;br /&gt;Dalam inderaja, terdapat beberapa komponen yang saling berhubungan, yaitu tenaga, atmosfer, objek, interaksi tenaga dengan objek, sensor, perolehan data, dan pengguna. Komponen-komponen tersebut mempunyai keterkaitan yang saling menguatkan sehingga inderaja sebagai ilmu, seni, dan teknik dapat memberi manfaat bagi proses pembangunan, khususnya dibidang pengelolaan ruang permukaan bumi.&lt;br /&gt;Secara umum hasil teknologi inderaja dibedakan menjadi dua, yaitu citra foto dan citra non foto. Citra foto merupakan hasil teknologi inderaja yang berupa data visual. Citra foto dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu:&lt;br /&gt;a.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Berdasarkan spektrum elektromagnetik, terdiri dari foto ultraviolet, foto ortokromatik, foto nonkromatik, foto inframerah asli, dan foto inframerah modifikasi.&lt;br /&gt;b.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Berdasarkan sistem wahana yang digunakan, terdiri dari foto udara dan citra satelit atau orbithal.&lt;br /&gt;c.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Berdasarkan jumlah dan jenis kamera yang digunakan, terdiri dari foto tunggal dan foto jamak.&lt;br /&gt;d.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Berdasarkan sumbu kamera, terdiri dari foto vertikal, foto agak condong,dan&amp;nbsp; foto sangat condong.&lt;br /&gt;e.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Berdasarkan warna yang digunakan, terdiri dari foto warna semu (false color), dan foto warna asli (true color).&lt;br /&gt;Citra non-foto adalah gambaran yang dihasilkan dengan menggunakan sensor bukan kamera. Citra non-foto dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu:&lt;br /&gt;a.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Berdasarkan spektrum elektromagnetik yang digunakan, terdiri dari citra inframerah termal dan citra gelombang mikro.&lt;br /&gt;b.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Berdasarkan sumber sensor yang digunakan, terdiri dari citra tunggal dan citra multispectral.&lt;br /&gt;c.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Berdasarkan wahana yang digunakan, terdiri dari citra dirgantara dan citra satelit.&lt;br /&gt;Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi dan Kompetensi Dasar dinyatakan bahwa mata pelajaran Geografi diharapkan mampu mendorong peserta didik untuk memahami aspek dan proses fisik yang membentuk pola muka bumi, karakteristik dan persebaran spasial ekologis di permukaan bumi. Selain itu peserta didik dimotivasi secara aktif dan kreatif untuk menelaah bahwa kebudayaan dan pengalaman&amp;nbsp; mempengaruhi persepsi manusia&amp;nbsp; tentang tempat dan wilayah.&lt;br /&gt;Pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang diperoleh dalam mata pelajaran Geografi diharapkan dapat membangun kemampuan peserta didik untuk bersikap, bertindak cerdas, arif, dan bertanggungjawab dalam menghadapi masalah sosial, ekonomi, dan ekologis. Pada tingkat pendidikan dasar mata pelajaran Geografi diberikan sebagai bagian integral dari Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), sedangkan pada tingkat pendidikan menengah diberikan sebagai mata pelajaran tersendiri.&lt;br /&gt;Tujuan mata pelajaran Geografi adalah agar peserta didik memiliki kemampuan a) memahami pola spasial, lingkungan dan kewilayahan serta proses yang berkaitan, b) menguasai keterampilan dasar dalam memperoleh data dan informasi, mengkomunikasikan dan menerapkan pengetahuan geografi, dan c) menampilkan perilaku peduli terhadap lingkungan hidup dan memanfaatkan sumber daya alam secara arif serta memiliki toleransi terhadap keragaman budaya masyarakat.&lt;br /&gt;Salah satu ruang lingkup mata pelajaran Geografi adalah pengetahuan dan keterampilan dasar tentang seluk beluk dan pemanfaatan peta, Sistem Informasi Geografis (SIG) dan citra penginderaan jauh. Adapun materi inderaja diberikan kepada siswa kelas XII Program Ilmu Sosial.&lt;br /&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Implementasi Pembelajaran Kontekstual Pada Materi Inderaja&lt;br /&gt;Bagi siswa SMA, khususnya kelas XII Program Ilmu Sosial, inderaja tidak sekedar media pembelajaran, tetapi secara khusus siswa diajak untuk mengenal tentang inderaja. Siswa diajak untuk mengetahui sisi konsep, sistem kerja, sampai bagaimana melakukan intepretasi terhadap produk inderaja. Siswa dituntut mampu membedakan antara gedung sekolah dengan kantor pemerintahan, antara semak-semak dengan perkebunan tebu, dan sebagainya. Pada gilirannya, guru dituntut cerdas menyampaikan materi inderaja menggunakan pendekatan sederhana, tidak rumit, mudah dipahami, murah, ringan, menyenangkan, dan bermakna bagi siswa.&lt;br /&gt;Dilihat dari materinya dapat dinyatakan bahwa inderaja bersifat teknis dan cenderung kearah ilmu-ilmu teknik, sehingga jika diberikan kepada siswa program ilmu sosial sebenarnya mengandung kekhawatiran. Kekhawatiran yang muncul adalah pertama, siswa kesulitan memahami konsep dasar inderaja, apalagi menerapkan atau mempraktekannya. Harus diakui materi inderaja cukup sulit, dan materi ini relatif baru, dimana tidak semua guru geografi pernah menerima. Jika materi tersebut lebih bersifat teknik, maka semangat anak sosial pasti terbatas, karena materi ini dianggap bukan wilayah belajar mereka. &lt;br /&gt;Kedua, materi ini membutuhkan visualisasi yang cukup. Tidak semua sekolah mempunyai contoh yang pas untuk menjelaskan materi tersebut. Citra satelit sebagai salah satu contoh inderaja tidak semua dimiliki oleh siswa, sehingga guru dituntut kerja ekstra untuk menjelaskan materi tersebut kepada siswa. Dapat dibayangkan bagaimana guru menjelaskan konsep inderaja kepada siswa program Ilmu Sosial tanpa peralatan yang memadai.&lt;br /&gt;Namun demikian ada celah yang bisa dilakukan oleh guru geografi dalam menyampaikan materi inderaja dengan pendekatan kontekstual. Baik karakteristik, komponen, maupun strategi yang ditempuh, pembelajaran kontekstual tidak mensyaratkan penggunaan teknologi atau peralatan yang rumit. Guru hanya dituntut cerdas dalam menggali sumber belajar yang ada disekitarnya. Menurut Winataputra, sumber belajar terdiri dari manusia, buku/perpustakaan, media massa, alam lingkungan, dan media pendidikan.&lt;br /&gt;Bagi guru-guru yang mengajar SMA di Kota Semarang dan sekitarnya, penggunaan menara Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) merupakan salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk melaksanakan pembelajaran kontekstual. Pertimbangan sederhananya adalah menara MAJT punya ketinggian 99 meter dan terbuka bagi masyarakat umum untuk melihat landascape Kota Semarang.&lt;br /&gt;Dari menara tersebut bentanglahan sebagian Kota Semarang dapat diamati secara jelas. Lekuk Sungai Banjir Kanal Timur terlihat jelas, pusat-pusat pemukiman di sekitar menara juga dapat dilihat dengan jelas. Penggunaan lahan juga dapat dilihat dengan mata telanjang. Ini karena ketinggian menara mampu mendukung pandangan pengunjung. Inilah prasyarat sebagai pendukung pembelajaran kontekstual, yaitu mengkaitkan antara materi pelajaran dengan kehidupan sebenarnya. Di tempat ini siswa dapat menyaksikan landscape Kota Semarang, kemudian dapat membandingkan dengan ketika siswa melihat contoh inderaja berupa citra satelit dan foto udara.&lt;br /&gt;Ada beberapa tahap yang harus ditempuh dalam pembelajaran kontekstual pada materi inderaja menggunakan media menara MAJT, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan pasca pelaksanaan. Persiapan merupakan serangkaian kegiatan berupa perencanaan yang dilakukan guru dan siswa untuk menyusun kegiatan yang akan dilakukan. Pada tahapan ini direncanakan waktu, siswa yang terlibat, pembagian kelompok, tugas-tugas yang harus dikerjakan, peralatan yang dipersiapkan, sampai dana yang dibutuhkan.&lt;br /&gt;Tahap berikutnya adalah pelaksanaan. Pada tahap ini siswa sudah dibagi menjadi beberapa kelompok yang masing-masing anggotanya sudah mempunyai tugas dan tanggungjawab masing-masing, selanjutnya siswa dipersilahkan untuk melakukan kegiatan masing-masing, yaitu:&lt;br /&gt;a.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Masing-masing kelompok berkoordinasi. Segala perlengkapan diperiksa untuk memastikan seluruh anggota dapat mengambil gambar/ memotret landscape Kota Semarang dari menara MAJT.&lt;br /&gt;b.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Secara bergiliran masing-masing kelompok mengambil gambar landscape Kota Semarang baik arah utara, timur, selatan, maupun barat dari posisi menara. Sebagian siswa juga dipersilahkan untuk melakukan pengamatan dan mencatat segala sesuatu yang dianggap penting.&lt;br /&gt;c.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Masing-masing kelompok berkumpul untuk mendiskusikan kegiatan yang telah dilakukan. &lt;br /&gt;Tahap ketiga adalah tahap pasca pelaksanaan. Pada tahap ini ada dua alternatif yang dapat dilakukan. Pertama, gambar pemotretan yang telah dilakukan oleh siswa dipilih, dicetak, dianalisis, dan dibuat peta sederhana tentang penggunaan lahan Kota Semarang. Kemudian siswa ditugaskan membuat intepretasi dalam bentuk deskripsi terhadap landscape Kota Semarang. Tugas tersebut tetap dilaksanakan oleh masing-masing kelompok.&lt;br /&gt;Kedua, Secara berkelompok siswa langsung diberi penugasan untuk membuat intepretasi dalam bentuk deskripsi berdasarkan pengamatan yang dilakukan dari menara MAJT. Tugas tersebut tetap dilaksanakan oleh masing-masing kelompok.&lt;br /&gt;Kegiatan belajar materi inderaja di menara MAJT nampaknya sangat sederhana karena yang muncul adalah kesan bermain, santai berpotret ria dan kegiatan ringan lain. Namun demikian, jika dikaitkan dengan karakteristik CTL, kegiatan tersebut merupakan salah satu contoh bentuk pembelajaran yang berusaha memanfaatkan lingkungan sekitar untuk mempelajari materi inderaja.&lt;br /&gt;Komponen utama CTL yang berupa constructivisme (membangun) dapat ditemukan ketika secara aktif siswa terlibat dalam kegiatan perencanaan, pengambilan gambar, mengamati landscape Kota Semarang, dan mendeskripsikan hasil pengamatan. Komponen questioning (bertanya), dapat ditemukan dari hasil perbincangan antar siswa maupun antara siswa dengan guru. Siswa yang melakukan pengamatan punya kesempatan untuk bertanya kepada guru. Komponen inquiry (mencari), terwujud pada saat siswa melakukan pemotretan atau pengambilan gambar dan melalui pengamatan, dimana siswa akan menemukan hal-hal baru yang sebelumnya belum pernah diketahui.&lt;br /&gt;Komponen learning community (masyarakat belajar) ditemukan pada saat siswa bersama-sama bekerja dalam satu kelompok. Melalui kegiatan pengamatan tukar informasi akan berlangsung, baik antar siswa maupun siswa dengan guru. Komponen modelling (pemodelan) tergali ketika guru memberikan beberapa tugas dan arahan, kemudian siswa melakukan kegiatan yang telah direncanakan.&lt;br /&gt;Komponen reflection (umpan balik) secara nyata akan muncul manakala siswa bertanya kepada guru tentang fenomena yang diamati. Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan dijawab oleh guru, sehingga komunikasi dua arah akan terbangun dengan baik. Sementara komponen authentic assessment (penilaian) sebenarnya dapat dilakukan oleh guru berdasarkan partisipasi siswa dalam melaksanakan kegiatan, dan pengamatan yang dilakukan terhadap hasil pekerjaan siswa. Guru juga dapat melakukan tanya jawab untuk menggali hasil kegiatan tersebut sebagai modal melakukan penilaian autentik.&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Belajar inderaja diharapkan mampu memberi pengalaman berkesan bagi siswa. Untuk itu proses pembelajaran tidak hanya menyertakan otak atau kemampuan kognitif, tetapi tangan, kaki, mata, dan indera lain juga terlibat secara aktif sehingga kebermaknaan pengalaman belajar betul-betul dirasakan siswa. Untuk itulah perlu dilaksanakan pembelajaran kontekstual. Pembelajaran kontekstual bukan teks yang tidak bisa dimodifikasi. Pembelajaran kontekstual memberi ruang kreatifitas kepada guru untuk mengembangkan pembelajaran dari teoritis menjadi praktis, dari membosankan menjadi menyenangkan, dari berbasis individu ke kelompok.&lt;br /&gt;Guru adalah dalang yang baik, artinya segala keterbatasan yang ada tidak menjadi alasan untuk melaksanakan pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa. Dalam pembelajaran geografi, pemanfaatan MAJT sebagai sumber belajar belajar adalah alternatif pembelajaran yang perlu dipertimbangkan dalam melaksanakan pembelajaran kontekstual sehingga mendukung siswa lebih mudah memahami, khususnya materi inderaja. Sebab dalam pemanfaatan MAJT siswa secara nyata berhadapan dengan dunia kehidupan yang betul-betul ada. Melalui pembelajaran tersebut komponen pembelajaran kontekstual yang terdiri dari constructivisme, questioning, inquiry, learning community, modelling, reflection, dan authentic assessment dapat diwujudkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;Elaine. B. Johnson. 2008. Contextual Teaching and Learning: Menjadikan Kegiatan belajar mengajar Mengasikkan dan Bermakna.Bandung. MLC&lt;br /&gt;Isjoni, dkk. 2007. Pembelajaran Visioner: perpaduan Indonesia Malaysia. Yogyakarta. Pustaka Pelajar&lt;br /&gt;Masnur Muslich. 2008. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual: Panduan bagi Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas Sekolah. Jakarta. Bumi Aksara&lt;br /&gt;Mulyadi, K, dkk. 2007. Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra: Buku Pengantar Penginderaan Jauh Bagi Kalangan Pendidik, Praktisi dan Ilmuwan Berbagai Bidang.Semarang. LAPAN-Geografi Unnes&lt;br /&gt;Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi dan Standar Kompetensi&lt;br /&gt;Sutanto. 1994. Penginderaan Jauh Jilid 1 (revisi). Yogyakarta. Gajah Mada University Press&lt;br /&gt;Wina Sanjaya. 2008. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta. Kencana&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-5367792051684691974?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/5367792051684691974/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2012/01/implementasi-pembelajaran-kontekstual.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/5367792051684691974'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/5367792051684691974'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2012/01/implementasi-pembelajaran-kontekstual.html' title='IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING) PADA MATERI PENGINDERAAN JAUH'/><author><name>Muh. Sholeh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09255886548890166137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_6BdsiwGInjM/TN5WxEU67NI/AAAAAAAAAHE/3Ty1264IaP0/S220/DSC00124.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-662528165362439712</id><published>2012-01-21T17:37:00.000-08:00</published><updated>2012-01-21T17:37:59.739-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Pendidikan'/><title type='text'>PELATIHAN BETTER TEACHER AND LEARNING BAGI GURU IPS SMP DAN MTs SWASTA DI KECAMATAN GENUK KOTA SEMARANG</title><content type='html'>Eko Handoyo dan Muh. Sholeh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abstrak&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tujuan kegiatan ini adalah a) meningkatkan keterampilan guru dalam memetakan kurikulum, b) meningkatkan keterampilan guru dalam menyusun lembar kerja, c) meningkatkan keterampilan guru dalam memanfaatkan media pembelajaran, d) meningkatkan keterampilan guru dalam menyusun rubrik penilaian, dan e) meningkatkan keterampilan guru dalam menyusun jurnal refleksi. Pelatihan Better Teacher and Learning Bagi Guru Mata Pelajaran IPS SMP dan MTs Swasta di Kecamatan Genuk Kota Semarang mempunyai manfaat bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran yang berkualitas. Melalui kegiatan tersebut, guru dapat memdapatkan manfaat berupa peningkatan keterampilan dalam memetakan kurikulum, peningkatan keterampilan dalam menyusun lembar kerja, peningkatan keterampilan dalam memanfaatkan media pembelajaran, peningkatan keterampilan dalam menyusun rubrik penilaian, dan peningkatan keterampilan dalam menyusun jurnal refleksi.&lt;/div&gt;Kata Kunci: Pengajaran Profesional, Pembelajaran Bermakna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abstract&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;The purpose of this activity is to a) improve the skills of teachers in curriculum mapping, b) improve teachers 'skills in preparing the worksheet, and c) improve teachers' skills in using instructional media, d) improving teachers 'skills in preparing the assessment rubric, and e) improve teachers' skills in prepare journal reflection.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Professional Teaching Training and Learning Meaningful (Better Teacher and Learning) for Subject Teacher IPS SMP and MTs Private Sub Genuk of Semarang has benefits for teachers in implementing quality learning. Through these activities, teachers can clearance can benefit by increasing skills in mapping the curriculum, improving skills in preparing a worksheet, improving skills in using instructional media, improving skills in preparing the assessment rubric, and improving skills in preparing journal reflection.&lt;/div&gt;Keywords: Teaching Professional, Meaningful Learning&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Secara umum guru mata pelajaran IPS SMP dan MTs berasal dari lulusan ekonomi, sejarah, dan geografi. Hal ini mengakibatkan penguasaan materi pelajaran IPS pada setiap guru tidak merata. Artinya guru secara maksimal menguasai materi yang menjadi latar belakang pendidikannya tetapi relatif lemah terhadap materi yang lain. Hal inilah yang menjadi kelemahan guru dalam mengelola pembelajaran di kelas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kelemahan umum yang terjadi dalam melaksanakan pengajaran profesional dan pembelajaran bermakna adalah a) melakukan pemetaan dalam telaah kurikulum, b) pembuatan lembar kerja, c) pengembangan media pembelajaran, d) penilaian dan penyusunan rublik penilaian, dan e) penyusunan jurnal refleksi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Secara umum SMP dan MTS yang ada di wilayah Kecamatan Genuk adalah sekolah pada level menengah kebawah. Secara geografis wilayah ini relatif jauh dengan pusat kota sehingga akses mendapatkan guru-guru yang sesuai dengan bidang masing-masing agak terbatas. Adapun sekolah-sekolah swasta yang ada di wilayah Kecamatan Genuk antara lain SMP Al Huda, SMP Hassanudin 10, SMP Nurul Ulum, SMP Al Islam, MTs Futuhiyyah, MTs Tanwirul Qulub, MTs Nadlotussubban, dan MTs Darul Hasanah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tujuan umum kegiatan ini adalah meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan pengajaran profesional dan pembelajaran bermakna. Secara khusus tujuan kegiatan ini adalah 1) Meningkatkan keterampilan guru IPS dalam memetakan kurikulum, 2) Meningkatkan keteramplan guru dalam menyusun lembar kerja, c) Meningkatkan keterampilan guru dalam memanfaatkan media pembelajaran, d) Meningkatkan keterampilan guru dalam menyusun rubrik penilaian, e) Meningkatkan keterampilan guru dalam menyusun jurnal refleksi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Melalui pelatihan yang diikuti oleh para guru, maka manfaat yang akan diperoleh peserta adalah 1) Peserta mempunyai wawasan baru tentang pengajaran profesional dan pembelajaran bermakna di kelas, 2) Peserta mempunyai keberanian dan mampu melakukan perubahan cara mengajar di kelas, 3) Peserta mempunyai keterampilan dalam melaksanakan pengajaran profesional dan pembelajaran bermakna, 4) Dengan demikian pada akhirnya yang akan merasakan manfaat kegiatan tersebut adalah siswa di kelas masing-masing.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut Fandi Tjiptono (1996) pelatihan mengandung makna yang lebih khusus (spesifik), dan berhubungan dengan pekerjaan/tugas yang dilakukan seseorang. Sedangkan yang dimaksudkan praktis adalah, bahwa respondensi yang sudah dilatihkan dapat diaplikasikan dengan segera sehingga harus bersifat praktis.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut Center for Development Management and Productivity pelatihan adalah belajar untuk mengubah tingkah laku orang dalam melaksanakan pekerjaan mereka. Tingkah laku yang dimaksud adalah tingkah laku yang menuju ke arah lebih baik, lebih disiplin, lebih loyal, lebih termotivasi maju, dan lebih terampil.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pelatihan menurut adalah proses memberikan bantuan bagi para pekerja untuk menguasai keterampilan khusus atau membantu untuk memperbaiki kekurangannya dalam melaksanakan pekerjaan. Fokus kegiatannya adalah untuk meningkatkan kemampuan kerja dalam memenuhi kebutuhan tuntutan cara bekerja yang paling efektif pada masa sekarang. Karena itu pelatihan lebih dekat dengan pembelajaran. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari persepktif tindakan, pelatihan adalah suatu upaya sistematis untuk mengembangkan sumber daya manusia, perorangan dan kelompok dan juga kemampuan keorganisasian yang diperlukan untuk mengurus tugas sekarang maupun masa depan dan menanggulangi persoalan atau masalah yang timbul.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan paparan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pelatihan adalah proses yang disusun secara sistematis dan logis melalui berbagai tindakan yang bertujuan memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada peserta untuk membentuk sikap tertentu. Kegiatan yang dilaksanakan melalui tahapan-tahapan yang mendukung tujuan yang telah ditentukan. Dapat dinyatakan bahwa secara umum tujuan pelatihan adalah untuk memenuhi kebutuhan dan untuk meningkatkan kemampuan kerja karyawan agar sesuai dengan kebutuhan kerjanya masing-masing. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan pengetahuan, keterampilan, wawasan, dan motivasi yang baru, maka seorang peserta pelatihan akan mempunyai semangat dalam melaksanakan apa yang baru saja diperolehnya, dan tentunya akan membawa perubahan. Pelatihan Pengajaran Profesional dan Pembelajaran Bermakna akan lebih efektif memberikan pengetahuan dan wawasan bagi para peserta tentang model pembelajaran yang bermutu, dikarenakan model pelatihan tersebut didesain lebih mengarah kepembekalan teknis ketimbang hanya sebatas penyampaian materi. Model hand out yang dibagikan dan langsung dikerjakan oleh para peserta mengindikasikan lebih banyaknya keaktifan peserta dalam menggali dan menemukan informasi penting dalam pelatihan. Selain itu, presentasi dan diskusi selama pelatihan makin menyempurnakan perolehan wawasan dan pengetahuan oleh peserta.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;METODE PELAKSANAAN&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Metode kegiatan ini adalah pelatihan yang menekankan pada pemberdayaan peserta. Secara umum akan nampak dua aktivitas, yaitu ceramah dan mengerjakan tugas. Ceramah akan disampaikan oleh fasilitator dalam rangkan menjelaskan tujuan tiap unit. Peserta akan dipandu oleh fasilitator mengerjakan tugas-tugas yang telah disiapkan oleh fasilitator. Dengan metode ini diharakan peserta akan lebih memahami tentang pentingnya memberi kepercayaan kepada siswa untuk menemukan pengetahuan dan keterampilan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;HASIL KEGIATAN&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tahap perencanaan&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam kegiatan ini tim pengabdian menginventarisasi berbagai permasalahan yang dihadapi oleh guru IPS di SMP. Berdasarkan pengamatan dan diskusi dengan beberapa guru IPS diketahui, identifikasi permasalahan yang dihadapi oleh guru IPS adalah:&lt;/div&gt;a.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Guru mata pelajaran IPS berasal dari latar belakang mata pelajaran yang berbeda, yaitu geografi, sejarah, dan ekonomi.&lt;br /&gt;b.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kemampuan penguasaan terhadap materi pelajaran tidak merata&lt;br /&gt;c.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Guru-guru perlu meningkatkan pengajaran profesional dan pembelajaran bermakna.&lt;br /&gt;d.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kelemahan umum yang terjadi dalam melaksanakan pengajaran profesional dan pembelajaran bermakna adalah 1) melakukan pemetaan dalam telaah kurikulum, 2) pembuatan lembar kerja, 3) pengembangan media pembelajaran, 4) penilaian dan penyusunan rublik penilaian, dan 5) penyusunan jurnal refleksi.&lt;br /&gt;Berdasarkan inventarisasi terhadap masalah yang dihadapi, tim pengabdian mulai menyusun beberapa langkah, yaitu:&lt;br /&gt;a.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Menyusun alternatif pemecahan masalah yang dihadapi oleh guru melalui diskusi sesama tim pengabdian dan mencari refrensi yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi oleh guru-guru.&lt;br /&gt;b.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mengumpulkan beberapa bahan yang sekiranya dapat dimanfaatkan dalam proses kegiatan yang akan diberikan kepada guru. Bahan-bahan yang terkumpul berupa materi dalam bentuk power point yang diperoleh tim pengabdian melalui pelatihan.&lt;br /&gt;c.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Menentukan waktu dan tempat kegiatan yang akan dilaksanakan.&lt;br /&gt;d.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Menentukan subyek kegiatan, yaitu guru-guru yang mengajar mata pelajaran IPS di SMP/MTs swasta di Kecamatan Genuk Kota Semarang.&lt;br /&gt;e.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Menyusun proposal kegiatan.&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tahap Persiapan&lt;br /&gt;Pada tahapan ini tim pengabdian mempersiapkan berbagai hal agar kegiatan dapat terlaksana dengan baik dan memberi manfaat epada peserta, dan yang lebih penting adalah mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh guru. Kegiatan pada tahap ini adalah:&lt;br /&gt;a.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mengurus surat ijin dari Dinas Pendidikan Kota Semarang&lt;br /&gt;b.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Menginventarisasi dan mengumpulkan berbagai kebutuhan berupa barang dan perlengkapan untuk mendukung kegiatan.&lt;br /&gt;c.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Menyusun dan mengedarkan surat undangan yang ditujukan kepada kepala sekolah di lingkungan SMP/MTs swasta se Kecamatan Genuk. Adapun sekolah yang diundang&amp;nbsp; adalah guru-gurunya SMP Al Huda, SMP Hassanudin 10, SMP Nurul Ulum, SMP Al Islam, MTs Futuhiyyah, MTs Tanwirul Qulub, MTs Hidayatussubban, dan MTs Darul Hasanah.&lt;br /&gt;Kegiatan ini berupa pelatihan yang melibatkan seluruh aktivitas guru IPS. Artinya selama pelatihan berlangsung, guru secara aktif terlibat menyusun segala sesuatu yang harus diselesaikan. Engan demikian, tidak ada istilah pemateri. Istilah tepatnya adalah fasilitator, yaitu Drs. Eko Handoyo, M. Si, Andi Suryadi, S. Pd dan Muh. Sholeh, S. Pd, M. Pd. Adapun materi yang dipelajari adalah telaah kurikulum, lembar kerja, rubrik penilaian, dan jurnal refleksi.&lt;br /&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Teknis Kegiatan&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagaimana yang telah dipaparkan sebelumnya, bahwa kegiatan ini berupa pelatihan yang melibatkan aktivitas guru. Guru tidak hanya duduk manis, tetapi secara aktif terlibat dalam kegiatan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada awalnya, peserta dibentuk ke dalam tiga kelompok. Setelah kelompok terbentuk, maka secara proaktif, peserta akan dipandu oleh fasilitator untuk mengikuti tiap sesi. Tiap sesi dipandu oleh fasilitator yang jumlahnya 2 orang yang saling membantu. Fasilitator menggali informasi peserta tentang materi yang dipelajari, misalnyanya tentang kompetensi, bagaimana cara mengajar selama ini di kelas masing-masing, dan pertanyaan lain yang sifatnya sebagai appersepsi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah tanya jawab selesai, fasilitator mulai menyampaikan informasi-informasi secara umum, kemudian membagikan handout. Di dalam handout, peserta dapat membaca apa yang harus dilaksanakan. Fasilitator memberi waktu kepada peserta untuk bekerja dalam kelompok menyelesaikan tugas, fasilitator terus mendapingi diselingi tanya jawab yang sifatnya santai. Setelah selesai mengerjakan tugas, peserta kembali mendiskusikan pekerjaan dalam kelompok. Setelah berdiskusi dalam kelompok, peserta menyusun pekerjaan dan memindahkan pekerjaanya ke kertas manila yang telah disediakan.&lt;/div&gt;Pekerjaan peserta secara berkelompok kemudian dipresentasikan di depan peserta lain, peserta lain memberi tanggapan atas pekerjaan yang telah dipresentasikan. Setelah satu peserta mempresentasikan ekerjaan, dilanjutkan dengan presentasi kelompok lain. Begitu seterusnya sampai sesi kedua, yaitu Lembar Kerja/Lembar Tugas (LK/LT).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dunia pendidikan membutuhkan guru profesional, baik dalam mengajar, menguasai materi, bersikap, dan bermasyarakat. Tuntutan itulah yang akhir-akhir ini sering ditujukan karena masih ada kelompok guru yang dianggap belum memenuhi tuntutan tersebut. Krena sudah diatur dalam perundang-undangan, maka guru harus berusaha menjadi profesional. Menjadi profesional, berarti menjadi ahli dalam bidangnya, dan seorang ahli, tentunya berkualitas dalam melaksanakan pekerjaannya. Akan tetapi tidak semua ahli dapat menjadi berkualitas. Karena menjadi berkualitas bukan hanya persoalan ahli, tetapi juga menyangkut persoalan integritas dan personaliti. Dalam perspektif pengembangan sumber daya manusia, menjadi profesional adalah satu kesatuan antara konsep personaliti dan integritas yang dipadupadankan dengan skil atau keahliannya.&lt;/div&gt;Kalau mengacu pada konsep di atas, menjadi profesional adalah meramu kualitas dengan intergiritas, menjadi guru pforesional adalah pihan utama, ada unsur kecintaan di dalamnya. Namun demikian, profesi guru juga sangat lekat dengan peran yang psikologis, humanis bahkan identik dengan citra kemanusiaan. Karena ibarat sebuah laboratorium, seorang guru seperti ilmuwan yang sedang bereksperimen terhadap nasib anak manusia dan juga suatu bangsa. Ada beberapa kriteria untuk menjadi guru profesional. Desi (2008) menyatakan, bahwa ada 3 kriteria menjadi guru profesional, yaitu&amp;nbsp; a) memiliki skill/keahlian dalam mendidik atau mengajar, b) personaliti, dan c) memposisikan profesi guru sebagai&amp;nbsp; The High Class profesi.&lt;br /&gt;Guru profesional seharusnya memiliki empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogis, kognitif, personaliti, dan sosial. Oleh karena itu, selain terampil mengajar, seorang guru juga memiliki pengetahuan yang luas, bijak, dan dapat bersosialisasi dengan baik. Profesi guru dan dosen merupakan bidang pekerjaan khusus yang memerlukan prinsip-prinsip profesional. Menurut Dede Mohamad Riva (2007), prinsip-prinsip professional yang harus dipenuhi guru adalah&amp;nbsp; a) memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme, b) memiliki kualifikasi pendidikan dan latar belakang pendidikan yang sesuai dengan bidang tugasnya, c) memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugasnya.&lt;br /&gt;Di samping itu, mereka juga harus a) mematuhi kode etik profesi, b) memiliki hak dan kewajiban dalam melaksanakan tugas, c) memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerjanya, d) memiliki kesempatan untuk&amp;nbsp; mengembangkan profesinya secara berkelanjutan, d) memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas profesionalnya, dan e) memiliki organisasi profesi yang berbadan hukum. Dalam pelaksanaannya, ada beberapa titik lemah uantuk menciptakan guru professional.&lt;br /&gt;Kelemahan umum yang terjadi dalam melaksanakan pengajaran profesional dan pembelajaran bermakna adalah a) melakukan pemetaan dalam telaah kurikulum, b) pembuatan lembar kerja, c) pengembangan media pembelajaran, d) penilaian dan penyusunan rubrik penilaian, dan e) penyusunan jurnal refleksi.&lt;br /&gt;Sebenanya kelemahan tersebut dapat diatasi dengan cara, materi pelajaran IPS terpadu disampaikan oleh guru dengan latar belakang pendidikan masing-masing. Artinya, dalam satu tingkatan, harus ada 4 guru untuk mengampu materi Sejarah, Geografi, Ekonomi, dan Sosiologi.&lt;br /&gt;Untuk mewujudkan kondisi tersebut, hanya sekolah-sekolah tertentu saja, yaitu sekolah yang secara ekonmi mampu membiayai guru-guru sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Namun, secara umum SMP dan MTS swasta yang ada di wilayah Kecamatan Genuk adalah sekolah pada level menengah kebawah. Secara geografis wilayah ini relatif jauh dengan pusat kota sehingga akses mendapatkan guru-guru yang sesuai dengan bidang masing-masing agak terbatas.Bahkan, sebagian guru pengampu mata pelajaran IPS berasal dari lulusan IAIN yang tidak pernah mendapat materi IPS selama di bangku kuliah.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Pelatihan Pengajaran Profesional dan Pembelajaran Bermakna (Better Teacher and Learning) Bagi Guru Mata Pelajaran IPS SMP dan MTs Swasta di Kecamatan Genuk Kota Semarang merupakan upaya sederhana mengatasi masalah yang telah diuraikan.&lt;br /&gt;Melalui kegiatan tersebut peserta dapat meningkatkan kemampuan dalam melaksanakan pengajaran profesional dan pembelajaran bermakna. Secara khusus tujuan kegiatan ini adalah a) meningkatkan keterampilan guru IPS dalam memetakan kurikulum, b) meningkatkan keteramplan guru dalam menyusun lembar kerja, c) meningkatkan keterampilan guru dalam memanfaatkan media pembelajaran, d) Meningkatkan keterampilan guru dalam menyusun rubrik penilaian, dan e) meningkatkan keterampilan guru dalam menyusun jurnal refleksi.&lt;br /&gt;Melalui pelatihan yang telah diikuti oleh para guru, maka manfaat yang akan diperoleh peserta adalah:&lt;br /&gt;a.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Peserta mempunyai wawasan baru tentang pengajaran profesional dan pembelajaran bermakna di kelas&lt;br /&gt;b.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Peserta mempunyai keberanian dan mampu melakukan perubahan cara mengajar di kelas&lt;br /&gt;c.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Peserta mempunyai keterampilan dalam melaksanakan pengajaran profesional dan pembelajaran bermakna.&lt;br /&gt;d.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dengan demikian pada akhirnya yang akan merasakan manfaat kegiatan tersebut adalah siswa di kelas masing-masing.&lt;br /&gt;Pelatihan Pengajaran Profesional dan Pembelajaran Bermakna (Better Teacher and Learning) Bagi Guru Mata Pelajaran IPS SMP dan MTs Swasta di Kecamatan Genuk Kota Semarang&amp;nbsp; telah dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang ingin capai melalui tahapan-tahapan kegiatan yang disusun secara sistematis, dan terarah. Kegiatan tersebut akan mendorong terwujudnya guru profesional, yaitu guru yang mempunyai ciri-ciri selalu punya energi untuk siswanya, b) punya tujuan jelas untuk pelajaran, c) punya keterampilan mendisiplinkan yang efektif, d) punya keterampilan manajemen kelas yang baik, e) bisa perkomunikasi dengan baik orang tua, f) punya harapan yang tinggi pada siswa nya, g) pengetahuan tentang kurikulum, h) pengetahuan tentang subyek yang diajarkan, i) selalu memberikan yang terbaik &amp;nbsp;untuk anak-anak dan proses pengajaran, dan j) punya hubungan yang berkualitas dengan siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;Pelatihan Pengajaran Profesional dan Pembelajaran Bermakna (Better Teacher and Learning) Bagi Guru Mata Pelajaran IPS SMP dan MTs Swasta di Kecamatan Genuk Kota Semarang mempunyai manfaat bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran yang berkualitas. Melalui kegiatan tersebut, guru dapat memdapatkan manfaat berupa peningkatan keterampilan dalam memetakan kurikulum, peningkatan keterampilan dalam menyusun lembar kerja, peningkatan keterampilan dalam memanfaatkan media pembelajaran, peningkatan keterampilan dalam menyusun rubrik penilaian, dan peningkatan keterampilan dalam menyusun jurnal refleksi. &lt;br /&gt;Sebagai tenaga pendidik, guru dituntut kompeten dalam 4 hal, yaitu akademik, pedagogik, profesional, dan sosial. Guru harus jadi guru profesional dengan melaksanakan pembelajaran yang berkualitas di kelas, untuk itu ketarampilan dasar guru harus dilengkapi dengan kemampuan tingkat lanjut, yaitu memetakan kurikulum, menyusun lembar kerja, menyusun rubrik, dan menyusun refleksi. Untuk itu, guru harus aktif dalam meningkatkan keterampilannya melalui pertemuan MGMP maupun pertemuan ilmiah sejenis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;Desireminsa. 2008. Menjadi Guru Profesional. Diunduh dari www.desireminsa.multiply tanggal 20 Pebruari 2010&lt;br /&gt;Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi 2. Jakarta: Balai Pustaka&lt;br /&gt;Modul Pelatihan. 2009. Pengajaran Profesional dan Pembelajaran Bermakna 3 (Better Teaching and Learning 3). Program DBE3&lt;br /&gt;Mohammad Reva dede. 2007. Upaya Meningkatkan Profesionalaisme Guru.Diunduh dari dunia Esai tanggal 20 Pebruari 2010&lt;br /&gt;Papu. Johanes. 2002. Analisis Kebutuhan Pelatihan. Jakarta&lt;br /&gt;Sampurno Agus. 2009. 10 Ciri Guru Profesional. Diunduh dari&amp;nbsp; www.education.blog tanggal 20 Pebruari 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-662528165362439712?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/662528165362439712/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2012/01/pelatihan-better-teacher-and-learning.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/662528165362439712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/662528165362439712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2012/01/pelatihan-better-teacher-and-learning.html' title='PELATIHAN BETTER TEACHER AND LEARNING BAGI GURU IPS SMP DAN MTs SWASTA DI KECAMATAN GENUK KOTA SEMARANG'/><author><name>Muh. Sholeh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09255886548890166137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_6BdsiwGInjM/TN5WxEU67NI/AAAAAAAAAHE/3Ty1264IaP0/S220/DSC00124.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-389361347362640174</id><published>2012-01-21T17:28:00.000-08:00</published><updated>2012-01-21T17:28:43.344-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Kebumian'/><title type='text'>KARAKTERISTIK BENCANA DI INDONESIA DAN IMPLEMENTASI  PEMBELAJARAN WAWASAN KEBENCANAAN DI SEKOLAH</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:DoNotShowRevisions/&gt;   &lt;w:DoNotPrintRevisions/&gt;   &lt;w:DoNotShowMarkup/&gt;   &lt;w:DoNotShowComments/&gt;   &lt;w:DoNotShowInsertionsAndDeletions/&gt;   &lt;w:DoNotShowPropertyChanges/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--"/&gt;    &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;    &lt;m:dispDef/&gt;    &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;    &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;    &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;    &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapedefaults v:ext="edit" spidmax="1026"/&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapelayout v:ext="edit"&gt;   &lt;o:idmap v:ext="edit" data="1"/&gt;  &lt;/o:shapelayout&gt;&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Oleh Muh. Sholeh&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Jurusan Geografi FIS Universitas Negeri Semarang&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Surel: muh.5eh@gmail.com&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: center;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Abstrak&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Bencana alam dan sosial merupakan peristiwa rutin di Indonesia. Peristiwa tersebut seolah akrab dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Ini tentu sangat memprihatinkan dan mengkhawatirkan bagi kita semua. Melalui tayangan televisi maupun bacaan media massa, ada saja peristiwa memilukan terjadi, baik yang disebabkan oleh alam maupun kelalaian manusia. Peristiwa yang disebabkan oleh alam banyak sumbernya, baik aktivitas pergerakan tanah yang menghasilkan tanah longsor dan gempa, aktivitas air yang menghasilkan banjir bandang, maupun aktivitas angin yang menghasilkan badai dasyat. Adapun bencana sosial disebabkan oleh konflik kepentingan baik sifatnya ekonomi, politik, sosial, maupun factor SARA.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Secara keseluruhan karakteristik bencana di Indonesia dipengaruhi oleh posisi geologis, posisi astronomis, dan perilaku manusianya yang menghasilkan berbagai bencana, yaitu banjir, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, angin badai, gelombang badai/pasang, gempa bumi, letusan gunung api, kegagalan teknologi, dan wabah penyakit. Untuk mewujudkan masyarakat yang mampu mengenali, memahami, dan bersikap produktif bukan hal mustahil asal pendidikan yang dilaksanakan di sekolah secara rutin mengajarkan kepada siswa untuk mampu menumbuhkan sikap tersebut. Maka dapat kita nyatakan bahwa pendidikan di sekolah punya peran penting dalam menumbuhkan wawasan kebencanaan bagi siswa. Pembelajaran wawasan kebencanaan dapat dilaksanakan di tingkat SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA. Tanpa bermaksud menakut-nakuti, dapat menyertakan materi-materi kebencanaan yang potensial terjadi di sekitar siswa. Guru secara berkala dapat melaksanakan simulasi bencana dengan tujuan melatih kebiasaan siswa jika bencana betul terjadi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Kata Kunci:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt; Karakteristik bencana di Indonesia, Pembelajaran wawasan kebencanaan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Bencana alam dan sosial menjadi peristiwa rutin di Indonesia, dan seolah akrab dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Banjir, tanah longsor, gempa bumi, puting beliung, kerusuhan massa, korupsi massal, dan gunung meletus adalah contoh bencana yang rajin menyambangi masyarakat Indonesia. Ini tentu sangat memprihatinkan dan mengkhawatirkan kita semua. Melalui tayangan televisi maupun bacaan media massa, banyak peristiwa memilukan terjadi, baik yang disebabkan oleh alam maupun kelalaian manusia. Peristiwa yang disebabkan oleh alam banyak sumbernya, baik aktivitas pergerakan tanah, aktivitas, aktivitas angin, maupun konflik masyarakat yang dipicu oleh kepentingan baik sifatnya ekonomi, politik, sosial, maupun factor SARA. Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, oleh faktor alam dan/atau faktor non alam sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Semua menyadarkan kepada kita bahwa bencana hampir mustahil kita hindari selama kita hidup di muka bumi. Korban harta benda dan nyawa sudah tidak terhitung. Gedung-gedung hancur jembatan runtuh, rumah sakit dan fasilitas publik lain rusak. Semua itu menegaskan, betapa mengerikan bencana yang terjadi. Sebagai manusia terdidik tentunya kita menginginkan bencana tidak terjadi karena itu mengusik rasa kemanusiaan kita. Namun demikian, jika bencana tetap terjadi kita menginginkan korban jiwa semaksimal mungkin dikurangi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Untuk itu diperlukan kesiapan dan kesadaran dari seluruh elemen masyarakat. Kita perlu belajar dari Jepang dalam hal menghadapi bencana, terutama gempa dan tsunami. Masyarakat Jepang sangat siap jika sewaktu-waktu terjadi gempa dan tsunami, sehingga korban jiwa dapat diminimalisir. Mengapa kita perlu belajar dari Jepang? Karena jujur saja, ketika bencana terjadi, kita nampak gagap, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Semua terjadi karena kita tidak siap mental dan struktural. Selama ini kita menganggap tempat tinggal kita aman, bebas dari bencana, sehingga ketika terjadi bencana, kita &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;shock&lt;/i&gt; dan tidak bisa berbuat apa-apa. Secara struktural kita masih mengandalkan peran pemerintah mengatasi bencana, padahal semua tahu, kemampuan pemerintah mempunyai keterbatasan. Akibatnya, setiap bencana terjadi korban harta dan jiwa sangat tinggi, dan masalah baru bermunculan karena ketidaksiapan kita menghadapinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Semua itu menyadarkan kepada kita betapa pentingnya pembelajaran wawasan kebencanaan, baik bagi masyarakat umum maupun siswa sekolah. Masyarakat perlu diberi wawasan pentingnya kesiapan menghadapi bencana yang terjadi di sekitar mereka. Masyarakat harus jadi komunitas siaga bencana. Masyarakat perlu diberdayakan melalui pendidikan mitigasi bencana agar mereka tidak tergantung sepenuhnya pada bantuan pemerintah. Masyarakat juga perlu dibiasakan bagaimana bersikap professional dalam mengelola sumber daya yang ada.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Pada level dasar, pembelajaran wawasan kebencanaan sangat layak diberikan kepada siswa sekolah. Sekolah merupakan institusi efektif untuk mengembangkan kurikulum kebencanaan dalam rangka meluaskan informasi kebencanaan melalui pembelajaran intra dan ekstrakurikuler. Melalui pembelajaran di kelas, siswa dilatih untuk mengetahui, paham, dan bersikap produktif menghadapi bencana. Mengapa siswa? Karena secara psikologis, usia sekolah merupakan usia tepat untuk menyerap informasi dan membentuk karakter sehingga ketika dewasa sikap yang ditunjukkan adalah sikap-sikap positif, kreatif, dan produktif dalam menghadapi bencana. Jika saat ini masyarakat masih cenderung gagap pada saat menghadapi bencana, maka kedepan, masyarakat kita adalah masyarakat yang siap menghadapi bencana.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Rumusan Permasalahan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Pengenalan kebencanaan di Indonesia sudah selayaknya mulai dilaksanakan di bangku sekolah karena usia sekolah merupakan usia tepat untuk mengenal, memahami, dan mensikapi terjadinya bencana. Untuk itu rumusan permasalahn dalam artikel ini adalah, bagaimana karakteristik bencana di Indonesia dan bagaimana implementasi pembelajaran wawasan kebencanaan di sekolah?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Karakteristik Bencana di Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Bencana adalah seluruh peristiwa yang terjadi di permukaan bumi yang menyebabkan terjadinya korban, baik harta benda dan nyawa. Di dalam undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 pasal 1 disebutkan bahwa bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor. Bencana nonalam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit. Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat, dan teror. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Paparan dari Satkorlak PBA menyebutkan bahwa bencana adalah &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;suatu kejadian yang merusak, sehingga mengakibatkan tidak berfungsinya suatu kehidupan masyarakat, meskipun dengan mengerahkan segala &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;sumberdaya&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; yang dimiliki tidak mampu mengatasinya. Bencana dapat terjadi jika ada: bahaya atau ancaman, kerentanan, dan pemicu kejadian. &lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Bencana bersifat antroposentris&lt;/span&gt;, maksudnya adalah bahwa bencana mempunyai karakteristik tertentu, yaitu a) tolak ukur bencana adalah kemanusiaan (humanity), bukan alam (natural), b) bencana sangat &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;terkait&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; dengan manusia dan komunitasnya dalam menghadapi ancaman bahaya alam, c) jika proses alam tidak mengancam jiwa / kehidupan manusia, maka fenomena alam itu sekedar peristiwa biasa., d) proses alam selalu terjadi, tetapi akar penyebab bencana adalah kerentanan yang diciptakan sendiri oleh manusia atau komunitas, dan e) kejadian alam mungkin berlangsung cepat atau mendadak, tetapi bencana merupakan akibat dari sifat kemanusiaan (pengambilan keputusan, perilaku, nilai-nilai dan kegiatan-kegiatan) yang berlangsung dalam jangka panjang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Secara geologis wilayah Indonesia merupakan daerah pertemuan 3 lempeng tektonik besar, yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia dan lempeng Pasific. Lempeng Indo-Australia bertabrakan dengan lempeng Eurasia di lepas pantai Sumatra, Jawa dan Nusatenggara, &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;sedangkan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt; dengan Pasific di utara Irian dan Maluku utara. Di sekitar lokasi pertemuan lempeng ini akumulasi energi tabrakan terkumpul sampai suatu titik dimana lapisan bumi tidak lagi sanggup menahan tumpukan energi sehingga lepas berupa gempa bumi. Konsekuensinya, secara geologis wilayah Indonesia merupakan supermarket bencana.. Pernyataan tersebut tidak berlebihan jika kita inventarisasi peristiwa bencana alam yang terjadi di Indonesia. Data dari UN-ISDR yang dirilis detikcom pada Rabu, 10 Agustud 2011 memaparkan, Indonesia merupakan salah satu negara yang paling rawan terhadap bencana di dunia. Indonesia memiliki berbagai jenis bencana seperti gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, banjir, tanah longsor, kekeringan dan kebakaran hutan. Indonesia berada dalam posisi puncak dunia dari ancaman tsunami. Sebanyak 5.402.239 orang bisa kena dampaknya. Paparan tersebut menempatkan posisi Indonesia dalam posisi resiko bencana sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 14.2pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-font-size: 10.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;1.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Untuk bencana tsunami, Indonesia adalah rangking pertama dari 265 negara dengan jumlah 5.402.239 orang yang akan terkena dampaknya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 14.2pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-font-size: 10.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;2.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Untuk bencana tanah longsor, Indonesia rangking pertama dari 162 negara dengan 197.372 orang terkena dampaknya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 14.2pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-font-size: 10.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;3.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Untuk bencana gempa bumi, Indonesia adalah rangking ketiga dari 153 negara dengan 11.056.806 orang terkena dampaknya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 14.2pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-font-size: 10.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;4.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Untuk bencana banjir, Indonesia rangking keenam dari 162 negara dengan 1.101.507 orang terkena dampaknya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Secara keseluruhan karakteristik bencana di Indonesia dipengaruhi oleh posisi geologis, posisi astronomis, dan perilaku manusianya yang menghasilkan berbagai bencana. Bakornas menginventarisir karakteristik bencana di Indonesia, yaitu banjir, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, angin badai, gelombang badai/pasang, gempa bumi, letusan gunung api, kegagalan teknologi, dan wabah penyakit.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; tab-stops: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-fareast-font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;1.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Banjir&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; tab-stops: 21.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Banjir merupakan kondisi dimana permukaan air melebihi kondisi normal yang disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya oleh hujan lebat, pasang air laut, kegagalan bangunan air buatan manusia, maupun disebabkan oleh peristiwa runtuhnya bendungan alam. Banjir mengakibatkan kerugian berupa korban manusia dan harta benda, baik milik perorangan maupun umum yang dapat mengganggu dan melumpuhkan aktivitas sosial ekonomi penduduk. Salah satu jenis banjir yang dianggap menakutkan adalah banjir bandang yang mempunyai cirri berlangsung dengan cepat dan mendadak, sehingga banyak menimbulkan korban jiwa karena manusia tidak mempunyai kesempatan menyelamatkan diri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; tab-stops: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-fareast-font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;2.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Tanah longsor&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; tab-stops: 21.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Tanah longsor merupakan salah satu jenis gerakan massa tanah atau batuan, ataupun percampuran keduanya, menuruni atau keluar lereng akibat dari terganggunya kestabilan tanah atau batuan penyusun lereng tersebut. Tanah longsor terjadi karena ada gangguan kestabilan pada tanah/batuan penyusun lereng. Penyebab tanah longsoran dibedakan menjadi penyebab yang berupa faktor pengontrol gangguan kestabilan lereng dan proses pemicu longsoran. Tanah longsor meyebabkan kerugian harta dan benda, terutama pada pemukiman yang dibangun pada daerah berlereng terjal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; tab-stops: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-fareast-font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;3.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Kekeringan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; tab-stops: 21.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Kekeringan merupakan meristiwa dimana ketersediaan air jauh dibawah kebutuhan untuk kebutuhan hidup, pertanian, kegiatan ekonomi dan lingkungan. Kekeringan terjadi secara alamiah maupun karena kesalahan manusia dalam merencanakan pembangunan. Kekeringan akan berdampak pada kesehatan manusia, tanaman serta hewan baik secara langsung maupun tidak. Kekeringan juga dapat berdampak sosial karena dapat meyebabkan konflik antar petani, antar daerah, bahkan antar kelompok masyarakat yang lebih luas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; tab-stops: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-fareast-font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;4.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Kebakaran hutan dan lahan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; tab-stops: 21.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Kebakaran hutan dan lahan adalah perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat-sifat fisik dan atau hayatinya yang menyebabkan kurang berfungsinya hutan atau lahan dalam menunjang kehidupan yang berkelanjutan sebagai akibat penggunaan api yang tidak terkendali maupun factor alam yang dapat mengakibatkan terjadinya kebakaran hutan atau lahan. Kebakaran hutan dapat menyebabkan terjadinya kerusakan ekologis, hilangnya kekayaan alam, penyebab longsor, penurunan kualitas kesehatan masyarakat, turunnya pendapatan masyarakat, dan hilangnya aset Negara.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; tab-stops: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-fareast-font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;5.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Angin badai&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; tab-stops: 21.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Angin badai merupakan pusaran angin kencang dengan kecepatan angin 120 km/jam atau lebih yang terjadi di wilayah tropis di antara garis balik utara dan selatan, kecuali di daerah-daerah yang sangat dekat dengan khatulistiwa. Penyebab angin badai adalah perbedaan tekanan dalam suatu system cuaca. Angin paling kencang yang terjadi di daerah tropis ini umumnya berpusar dengan radius ratusan kilometer di sekitar daerah system tekanan rendah yang ekstrem. Angin badai disebut juga taifun, siklon dan hurricane. Angin badai merusak apapun yang ditemui, baik bangunan, tanaman, tiang listrik, kapal-kapal di laut, dan menyebabkan korban jiwa yang tidak sedikit.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; tab-stops: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-fareast-font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;6.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Gelombang pasang&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; tab-stops: 21.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Gelombang pasang adalah gelombang yang ditimbulkan oleh gaya tarik menarik antara bumi dengan planet-planet lain, terutama dengan bulan dan matahari. Gelombang ini mempunyai periode sekitar 12,4 jam dengan 24 jam. Gelobang pasang juga disebabkan oleh gempa di dasar laut dan badai yang sifatnya mendadak. Gelombang pasang dapat diperkirakan karena periodenya relative rutin, tetapi gelombang pasang yang berupa tsunami bisanya terjadi dengan tiba-tiba. Gelombang pasang merusak bangunan di sepanjang pesisir, fasilitas umum, dan secara pasti mengikis areal pertambakan dan persawahan. Pada kota-kota tertentu, dampak gelombang pasang diperparah dengan penurunan permukaan tanah yang menyebabkan suatu kota mengalami banjir permanen.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; tab-stops: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-fareast-font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;7.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Gempa bumi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; tab-stops: 21.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Gempa bumi adalah berguncangnya bumi yang disebabkan oleh tumbukan antar lempeng bumi, aktivitas gunung api, dan runtuhan batuan. Gempa bumi merupakan peristiwa pelepasan pelepasan energi yang menyebabkan dislokasi (pergeseran) pada bagian dalam bumi secara tiba-tiba. Dari semua penyebab gempa bumi, pergeseran antar lempeng menghasilkan gempa yang relative keras. Gempa bumi dapat merusak bangunan pemukiman, jembatan, gedung-gedung dan menyebabkan korban jiwa. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-list: l1 level1 lfo2; tab-stops: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-fareast-font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;8.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Letusan gunung api&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; tab-stops: 21.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Gunungapi adalah bentuk timbunan kerucut di permukaan bumi yang dibangun oleh timbunan rempah latusan, atau tempat munculnya batu lelehan (magma) yang berasal dari dalam bumi. Letusan gunungapi disebabkan oleh pencairan magma dari dalam bumi yang berasosiasi dengan arus konveksi panas, proses tektonik dari pergerakan dan pembentukan lempeng/kulit bumi, dan akumulasi tekanan dan temperatur dari fluida magma menimbulkan pelepasan energi. Bahaya primer dari peristiwa letusan gunung api adalah awan panas, lontaran material pijar, hujan abu, lava, gas beracun, tsunami. Bila suatu gunung meletus akan terjadi penumpukan material dalam berbagai ukuran di sekitar puncak dan lereng. Pada saat musim hujan tiba, maka tumpukan material tersebut akan terbawa air dalam volume besar yang disebut lahar dingin, dan tidak kalah bahayanya dengan bahaya primer.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; tab-stops: 14.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Implementasi Pendidikan Kebencanaan di Sekolah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Berdasarkan laporan yang disusun Bakornas disebutkan bahwa salah satu penyebab timbulnya bencana di Indonesia adalah kurangnya pemahaman terhadap karakteristik ancaman bencana. Seringkali seolah-olah bencana terjadi secara tiba-tiba sehingga masyarakat kurang siap menghadapinya, akibatnya timbul banyak kerugian bahkan korban jiwa. Padahal sebagian besar bencana dapat diprediksi waktu kejadiannya dengan tingkat ketepatan peramalan sangat tergantung dari kesediaan dan kesiapan alat serta sumber daya manusia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Pendidikan kebencanaan hakekatnya adalah pendidikan yang dilaksanakan secara sederhana agar masyarakat mengenal, memahami, dan bersikap produktif saat terjadi bencana. Melalui pendidikan bencana, masyarakat dituntun agar lebih mengenal lingkungan tempat tinggal sehari-hari, termasuk potensi terjadinya bencana. Bencana-bencana apa saja yang kemungkinan dapat terjadi di sekitar mereka, dan masyarakat harus diberi pengertian bahwa bencana alam yang biasanya terjadi pada wilayah jauh juga mungkin terjadi di tempat tinggalnya, contohnya, banjir bandang bukan hanya terjadi di daerah rendah, tetapi juga terjadi di daerah tinggi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Melalui pendidikan kebencanaan, masyarakat juga diberi kesempatan untuk memahami, bahwa ukuran bencana bukan peristiwanya, tetapi dampak yang diderita oleh masyarakat. Masyarakat juga diberi pemahaman faktor-faktor penyebab bencana, termasuk aktivitas masyarakat yang mendorong terjadinya bencana. Masyarakat diberdayakan agar secara mandiri mampu mengantisipasi bencana, dan secara mandiri menyusun prosedur sederhana jika terjadi bencana, disesuaikan dengan latar belakang lingkungannya. Masyarakat pesisir menyusun prosedur penanganan bencana sesuai dengan karakter kondisi pesisir, sementara masyarakat gunung juga mampu menyusun prosedur penanganan bencana sesuai dengan situasi pegunungan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Pendidikan kebencanaan juga mendorong masyarakat bersikap produktif saat terjadi bencana. Bersikap produktif artinya, masyarakat secara profesional mengelola sumber daya yang dimiliki dan berbagai macam bantuan yang datang. Masyarakat diberdayakan dalam mengelola bantuan agar tidak menumpuk di satu tempat. Masyarakat dapat menentukan prioritas kemana bantuan didistribusikan ke tempat-tempat strategis. Tujuannya, agar bantuan tidak salah sasaran.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Ketiga hal tersebut merupakan harapan yang sifatnya ideal. Ideal dalam artian kita membayangkan masyarakat dengan segala kepanikan yang menimpa masih mampu berfikir jernih sehingga dapat mensikapi kondisi darurat dengan langkah sistematis. Situasi itu sangat berat terwujud jika kita bandingkan dengan kondisi nyata masyarakat. Sejujurnya kita harus mengakui pada saat bencana, sikap dominan masyarakat adalah pasrah, putus asa, dan sensitif. Masyarakat tidak tahu apa yang harus dilakukan, dan justru sering bertindak kotra produktif, sehingga pengendalian penanganan bencana akhirnya harus dipegang pihak luar, baik oleh pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Namun demikian, untuk mewujudkan masyarakat yang mampu mengenali, memahami, dan bersikap produktif terhadap bencana yang terjadi bukan hal mustahil. Syaratnya adalah adanya adanya proses pembelajaran yang rutin dilaksanakan di sekolah, dan sejak dini diperkenalkan pada anak-anak. Maka dapat kita nyatakan bahwa pendidikan di sekolah punya peran penting dalam menumbuhkan wawasan kebencanaan bagi siswa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Tanpa bermaksud menakut-nakuti, pembelajaran di kelas dapat disertai materi-materi kebencanaan yang potensial terjadi di sekitar siswa, contoh, guru dapat mengenalkan kepada siswa tentang bencana tanah longsor dan banjir bandang pada siswa yang lokasi geografisnya ada di dataran tinggi. Guru juga dapat mengajarkan kepada siswa tentang bencana letusan gunung api pada siswa yang ada di daerah gunung aktif, termasuk bagaimana siswa harus bersikap jika bencana betul-betul terjadi. Guru secara berkala dapat melaksanakan simulasi bencana dengan tujuan melatih kebiasaan siswa jika bencana betul terjadi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Melalui intrakurikuler, pembelajaran wawasan kebencanaan dapat dilaksanakan di tingkat SD/MI, MTs, SMA/MA, terutama pada mata pelajaran IPS dan Geografi. &lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Permendiknas RI &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -.15pt;"&gt;Nomor 22 &lt;/span&gt;tahun 2006 menegaskan bahwa &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: FI;"&gt;Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt; &lt;/i&gt;diberikan mulai dari SD/MI/SDLB sampai SMP/MTs/SMPLB. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Pada jenjang SD/MI mata pelajaran IPS memuat materi Geografi, Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi. Melalui mata pelajaran IPS, peserta didik diarahkan untuk dapat menjadi warga negara Indonesia yang demokratis, dan bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Mata &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: FI;"&gt;pelajaran&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt; IPS disusun secara sistematis, komprehensif, dan terpadu dalam proses pembelajaran menuju &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: FI;"&gt;kedewasaan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt; dan keberhasilan dalam kehidupan di masyarakat. Dengan pendekatan tersebut diharapkan peserta didik akan memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam pada bidang ilmu yang berkaitan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Di tingkat SD/MI, mata pelajaran IPS bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan: a) &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: FI;"&gt;mengenal&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;masyarakat dan lingkungannya, b) memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu,&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial, c) m&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: FI;"&gt;emiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan, dan memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional, dan global.&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: FI;"&gt;Di tingkat SMP, tujuan mata pelajaran IPS adalah a) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;mengenal&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;konsep-konsep yang berkaitan &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: FI;"&gt;dengan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt; kehidupan&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;masyarakat dan lingkungannya, b) memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu,&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial, c) m&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: FI;"&gt;emiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan, d) memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional, dan global.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Ruang lingkup mata pelajaran IPS di tingkat SD/MI meliputi beberapa aspek, yaitu a) manusia, &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: FI;"&gt;tempat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;, dan lingkungan, b) waktu, keberlanjutan, dan perubahan, c) sistem sosial dan budaya, d) perilaku ekonomi dan kesejahteraan. Di &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: FI;"&gt;tingkat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt; SMP/MTs, ruang lingkup mata pelajaran IPS meliputi aspek-aspek: a) manusia, tempat, dan lingkungan, b) waktu, keberlanjutan, dan perubahan, c) sistem sosial dan budaya, d) perilaku ekonomi dan kesejahteraan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Pembelajaran wawasan kebencanaan pada siswa SD/MI berbeda dengan siswa SMP/MTs, hal tersebut disebabkan usia kedua tingkat tersebut berbeda. Siswa SD/MI mempunyai kecenderungan bermain, sehingga pembelajaran wawasan kebencanaan harus didominasi dengan kegiatan bermain, atau menggunakan media yang menarik bagi siswa. Salah satu media yang dapat dimanfaatkan guru untuk mendorong pemahaman siswa terhadap bencana adalah menggunakan komik. Komik yang dimaksud adalah gambar-gambar lucu yang di dalamnya memuat ilustrasi bencana yang dapat terjadi di Indonesia. Komik juga memuat informasi langkah-langkah apa saja yang dapat dilakukan siswa jika menghadapi bencana. Dengan gambar-gambar lucu tersebut, informasi dan pengetahuan akan terbangun secara mandiri, dan diharapkan siswa SD/MI lebih memahami bencana.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Pada siswa SMP/MTs, dominasi bermain siswa relatif berkurang, maka guru dapat melaksanakan pembelajaran yang mampu menjembatani dunia bermain siswa dengan mendorong siswa berpikir lebih tajam dalam menghadapi bencana, maka pembelajaran yang dapat dilaksanakan adalah melalui pembelajaran kooperatif. Secara umum pembelajaran kooperatif bertujuan mendorong terwujudnya komunikasi yang aktif diantara peserta didik di semua tingkatan. Pada pembelajaran ini peserta didik diberi ruang untuk berkomunikasi dengan teman dalam satu kelas atau rombel melalui kelompok masing-masing. Guru juga dapat melaksanakan pembelajaran di luar kelas dengan mengajak siswa mengunjungi lokasi-lokasi yang ada hubungannya dengan masalah bencana. Lokasi yang dikunjungi tidak harus jauh, cukup di sekitar sekolah, yang penting adalah adanya arus informasi yang masuk ke pengetahuan siswa sehingga siswa memahami makna bencana.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Simulasi bencana juga dapat dilaksanakan di SD/MI dan SMP/MTs. Untuk keperluan tersebut guru kelas atau guru mata pelajaran harus menjalin kerjasama dengan guru lain dan pihak sekolah. Guru perlu mempersiapkan simulasi dengan baik, baik tema, peralatan, dan prosedur yang harus ditempuh siswa ketika menghadapi bencana. Melalui simulasi tersebut, seolah-olah siswa berhadapan dengan bencana sesungguhnya, dan siswa diajari bagaimana mereka harus bertindak, bersikap, dan bagaimana agar mereka tetap aman dalam situasi bencana. Setelah selesai simulasi, guru dapat menjelaskan mengapa siswa harus melaksanakan simulasi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Implementasi pembelajaran wawasan kebencanaan juga dapat dilaksanakan pada mata &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: FI;"&gt;pelajaran&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt; Geografi di tingkat SMA/MA. Berdasarkan &lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Permendiknas RI &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -.15pt;"&gt;Nomor 22 &lt;/span&gt;tahun 2006 disebutkan bahwa &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: SV;"&gt;Geografi merupakan ilmu untuk menunjang kehidupan sepanjang hayat dan mendorong&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;peningkatan kehidupan. Lingkup bidang kajiannya memungkinkan manusia memperoleh jawaban atas pertanyaan dunia sekelilingnya yang menekankan pada aspek spasial, dan ekologis dari eksistensi manusia. Bidang kajian geografi meliputi bumi, aspek dan proses yang membentuknya, hubungan kausal dan spasial manusia dengan lingkungan, serta interaksi manusia dengan tempat. Sebagai suatu disiplin integratif, geografi memadukan dimensi alam fisik dengan dimensi manusia dalam menelaah keberadaan dan kehidupan manusia di tempat dan lingkungannya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: SV;"&gt;Mata pelajaran Geografi membangun dan mengembangkan pemahaman peserta didik tentang variasi dan organisasi spasial masyarakat, tempat dan lingkungan pada muka bumi. Peserta didik didorong untuk memahami aspek dan proses fisik yang membentuk pola muka bumi, karakteristik dan persebaran spasial ekologis di permukaan bumi. Selain itu peserta didik dimotivasi secara aktif dan kreatif untuk menelaah bahwa kebudayaan dan pengalaman&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;mempengaruhi persepsi manusia&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;tentang tempat dan wilayah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: SV;"&gt;Pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang diperoleh dalam mata pelajaran Geografi diharapkan dapat membangun kemampuan peserta didik untuk bersikap, bertindak cerdas, arif, dan bertanggungjawab dalam menghadapi masalah sosial, ekonomi, dan ekologis. Pada tingkat pendidikan dasar mata pelajaran Geografi diberikan sebagai bagian integral dari Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), sedangkan pada tingkat pendidikan menengah diberikan sebagai mata pelajaran tersendiri.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Mata pelajaran Geografi bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan: a) m&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: SV;"&gt;emahami pola spasial, lingkungan dan kewilayahan serta proses yang berkaitan, b) menguasai keterampilan dasar dalam memperoleh data dan informasi, mengkomunikasikan dan menerapkan pengetahuan geografi, c) menampilkan perilaku peduli terhadap lingkungan hidup dan memanfaatkan sumber daya alam secara arif serta memiliki toleransi terhadap keragaman budaya masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Ruang lingkup mata pelajaran Geografi meliputi aspek-aspek: a) k&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: SV;"&gt;onsep dasar, pendekatan, dan prinsip dasar Geografi, b) konsep dan karakteristik dasar serta dinamika unsur-unsur geosfer mencakup litosfer, pedosfer, atmosfer, hidrosfer, biosfer dan antroposfer serta pola persebaran spasialnya, c) jenis, karakteristik, potensi, persebaran spasial Sumber Daya Alam (SDA) dan pemanfaatannya, d) karakteristik, unsur-unsur, kondisi (kualitas) dan variasi spasial lingkungan hidup, pemanfaatan dan pelestariannya, d) kajian wilayah&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;negara-negara maju dan sedang berkembang, d) konsep wilayah dan pewilayahan, kriteria dan pemetaannya serta fungsi dan manfaatnya dalam analisis geografi, d) pengetahuan dan keterampilan dasar tentang seluk beluk dan pemanfaatan peta, Sistem Informasi Geografis (SIG) dan citra penginderaan jauh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: SV;"&gt;Implementasi pembelajaran wawasan kebencanaan pada mata pelajaran ini dapat dilaksanakan oleh guru melalui beberapa skenario. Skenario pertama, guru geografi mengambil salah satu kompetensi dasar yang mengandung materi kebencanaan. Contoh KD yang mengandung materi kebencanaan adalah: a) menganalisis dinamika dan kecenderungan perubahan litosfer dan pedosfer serta dampaknya terhadap kehidupan di muka bumi, b) menganalisis atmosfer dan dampaknya&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;terhadap kehidupan di muka bumi, c) menganalisis hidrosfer dan dampaknya terhadap kehidupan di muka bumi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: SV;"&gt;Melalui KD tersebut, guru dapat memberi penugasan kepada siswa menginventarisir potensi bencana di Indonesia dalam kurun waktu 10 tahun terahir melalui bermacam-macam sumber pustaka. Siswa juga diwajibkan mendeskripsikan faktor penyebab terjadinya bencana di Indonesia. Melalui penugasan tersebut, guru mendorong siswa mendeskripsikan potensi bencana di Indonesia dan upaya yang dapat dilakukan masyarakat dalam menghadapi bencana yang dihadapi. Penugasan dapat bersifat individu atau kelompok. Langkah berikutnya dalam kegiatan penugasan adalah presentasi kelompok atau individu di depan kelas untuk mendapatkan tanggapan dari siswa lain.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: SV;"&gt;Siswa juga dapat diajak mengunjungi tempat-tempat yang berhubungan dengan bencana. Kunjungan dapat dilaksanakan di lokasi potensi bencana, maupun mengunjungi tokoh saksi terjadinya bencana yang sudah terjadi. Kegiatan kunjungan dapat dilaksanakan di luar jam sekolah, misalnya sore atau hari libur dengan tetap sepengetahuan sekolah. Kegiatan dapat dilaksanakan secara berkelompok maupun dalam satu kelas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: SV;"&gt;Kegiatan pembelajaran wawasan kebencanaan berikutnya yang dapat dilaksanakan adalah bersama-sama menyusun langkah-langkah mitigasi bencana. Siswa secara berkelompok menyusun mitigasi bencana sesuai dengan pembagian yang telah dilakukan, misalnya ada kelompok yang menyusun mitigasi gempa, banjir, kebakaran, tanah longsor, dan bencana lain. Setelah siswa berhasil menyusun, maka langkah berikutnya adalah mensimulasikan rencana yang telah disusun. Tujuannya adala agar siswa lebih menghayati makna kejadian bencana yang terjadi, dan diharapkan pengetahuan dan pemahaman siswa terhadap bencana lebih terbuka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Hambatan implementasi pembelajaran wawasan kebencanaan di sekolah adalah hambatan waktu. Guru mata pelajaran IPS tentu harus cerdas mengelola pembagian waktu pembelajaran. Dalam 1 minggu, jatah waktu yang tersedia untuk pembelajaran IPS ditingkat SMP/MTs sebanyak 5 jam pelajaran yang mengakomodasi materi Geografi, Ekonomi, Sejarah, dan Sosiologi. Kondisi tersebut tentu menyulitkan bagi guru untuk mendistribusikan materi pelajaran. Jika ditambah dengan pembelajaran wawasan kebencanaan, tentu guru membuthkan strategi khusus pengaturan waktu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Hambatan lain yang tidak kalah besar adalah, tuntutan ujian ahir tahun dan Ujian Nasional yang memaksa guru memprioritaskan tuntutan kurikulum. Guru lebih memilih aman dengan cara menghabiskan materi yang diperkirakan dijadikan soal-soal Ujian Nasional. Kondisi ini memaksa guru menerapkan strategi yang tepat untuk mengelola materi tuntutan kurikulum dengan pembelajaran wawasan kebencanaan. Pembelajaran wawasan kebencanaan merupakan implementasi idealisme guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Melalui kegiatan ekstrakurikuler, sekolah dapat mengaktifkan dan menggiatkan kegiatan ekstrakurikuler, misalnya Pramuka, PMR, Paskibra, Pertahanan Sekolah, Pecinta alam, dan kegiatan ekstra lain yang terbukti ampuh memberikan keterampilan kepada siswa. Sekolah perlu mewajibkan siswa mengikuti salah satu kegiatan esktrakurikuler. Agar kegiatan tidak membosankan, maka pihak sekolah perlu melibatkan pihak lain agar kemasan kegiatan ekstrakurikuler tersebut lebih menarik dan menyenangkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Melalui kegiatan ekstrakurikuler, pembelajaran wawasan kebencanaan juga dapat dilaksanakan melalui kegiatan berkala berupa simulasi bencana yang dilaksanakan oleh sekolah bekerjasama dengan Badan Penganggulangan Bencana Daerah setempat. Penyertaan lembaga tersebut penting karena secara procedural, kegiatan mitigasi bencana dan sejenisnya membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang spesifik, dan badan penanggulangan bencana adalah salah satu institusi yang layak diajak kerja sama. Pihak BNPBD juga dapat melaksanakan sosialisasi bencana ke sekola-sekolah, baik atas undangan sekolah maupun inisiatif institusi melalui kegiatan terjadwal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Indonesia merupakan supermarket bencana yang terdiri dari banjir, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, angin badai, gelombang badai/pasang, gempa bumi, letusan gunung api, kegagalan teknologi, dan wabah penyakit. Masih banyak jenis bencana yang dihasilkan oleh manusia. Banyaknya jenis bencana tersebut menuntut masyarakat bersikap tanggap dan mandiri dalam menghadapinya, sehingga sikap dan keterampilan masyarakat perlu mendapat penguatan agar berdaya dalam menghadapi bencana. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Pembelajaran wawasan kebencanaan perlu dilaksanakan pada institusi pendidikan dari SD/MI, SMP.MTs, dan SMA/MA. Pertimbangan mendasarnya adalah, bahwa usia sekolah merupakan usia efektif untuk menyerap pengetahuan dan keterampilan, termasuk dalam menghadapi bencana. Guru dituntut kreatif dalam pelaksanaan pembelajaran wawasan kebencanaan di kelas. Kreatifitas tersebut perlu karena hambatan dan tantangan telah menanti, yaitu keterbatasan waktu dan tuntutan kurikulum. Hambatan lebih besar lagi karena Ujian Nasional merupakan prioritas utama yang harus dijawab guru dalam pembelajaran di kelas sehingga pembelajaran wawasan kebencanaan merupakan pembelajaran penuh idealisme. Melalui kreativitas guru, maka pembelajaran akan menghasilkan siswa yang paham, dan mampu bersikap produktif menghadapi bencana.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Daftar Pustaka&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 35.45pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-indent: -35.45pt;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Karakteristik Bencana di Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;. Bakornas&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 35.45pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-indent: -35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Detik.com “&lt;span class="judul"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Indonesia Rangking Pertama Dunia dari Ancaman Tsunami &amp;amp; Longsor&lt;/i&gt; “ Rabu, 10 Agustus 2011&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 35.45pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-indent: -35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Peraturan Menteri Pendidikan Nasional &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Republik Indonesia &lt;span style="letter-spacing: -.15pt;"&gt;Nomor 22 &lt;/span&gt;tahun 2006 tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah&lt;span class="judul"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 35.45pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-indent: -35.45pt;"&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Satkorlak PBA Edisi tahun 2006&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 35.45pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-indent: -35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Undang-undang Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 35.45pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-indent: -35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Warta PSBA Nomor 1 Tahun XIV Oktober 2009&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-389361347362640174?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/389361347362640174/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2012/01/karakteristik-bencana-di-indonesia-dan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/389361347362640174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/389361347362640174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2012/01/karakteristik-bencana-di-indonesia-dan.html' title='KARAKTERISTIK BENCANA DI INDONESIA DAN IMPLEMENTASI  PEMBELAJARAN WAWASAN KEBENCANAAN DI SEKOLAH'/><author><name>Muh. Sholeh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09255886548890166137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_6BdsiwGInjM/TN5WxEU67NI/AAAAAAAAAHE/3Ty1264IaP0/S220/DSC00124.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-7385078889241183428</id><published>2011-12-27T19:51:00.000-08:00</published><updated>2011-12-28T19:51:33.268-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Geomorfologi Umum'/><title type='text'>Soal Ujian Akhir Semester Geomorfologi Umum</title><content type='html'>Bagi mahasiswa yang mengikutin perkuliahan Geomorfologi Umum khususnya yang ikut hari Kamis, kerjakan 5 soal di bawah ini dengan singkat dan jelas.&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Gaya dan proses geomorfologi memegang peranan penting dalam menghasilkan bentuk-bentuk permukaan bumi. Bagaimana anda menjelaskan pernyataan tersebut?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bagaimana geofisika dan astronomis dapat membantu kita mempelajari bagian bumi?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bagaimana pendapat Maurice Evving dan Bruse C. Heezen tentang Teori Tektotik Lempeng?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jelaskan Bagaimana proses terbentuknya zona subduction?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jelaskan pengertian dan proses pelapukan kimia&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jelaskan istilah diagnesis, degradasi, dan peneplain dalam proses erosi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Salah satu gejala gerak massa batuan adalah tanah longsor. Jelaskan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jelaskan factor-faktor yang membedakan siklus geomorfik iklim basah dengan iklim kering&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Deskripsikan aspek ekonomi yang potensial pada daerah berstruktur lipatan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Deskripsikan bentuk-bentuk lahan khusus di kawasan dengan struktur patahan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Deskripsikan aspek ekonomi potensial pada daerah berstruktur vulkanisme&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Catatan: Saudara wajib mengumpulkan sertifikat PLG sebagai syarat keluarnya nilai Geomorfologi Umum &lt;br /&gt;Kumpulkan pekerjaan saudara di meja Pak Sholeh di C1 lt.2 paling lambat hari Kamis jam 15.00 &lt;br /&gt;Terima kasih&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-7385078889241183428?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/7385078889241183428/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2011/12/soal-ujian-akhir-semester-geomorfologi.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/7385078889241183428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/7385078889241183428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2011/12/soal-ujian-akhir-semester-geomorfologi.html' title='Soal Ujian Akhir Semester Geomorfologi Umum'/><author><name>Muh. Sholeh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09255886548890166137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_6BdsiwGInjM/TN5WxEU67NI/AAAAAAAAAHE/3Ty1264IaP0/S220/DSC00124.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-5215618571944396205</id><published>2011-09-19T02:10:00.000-07:00</published><updated>2011-09-19T02:10:01.261-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Geografi Pariwisata'/><title type='text'>Buku Ajar Kajian Geo Pariwisata</title><content type='html'>Bagi mahasiswa yang belum mempunyai buku ajar kajian Geografi Pariwisata, &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/16436817/DiktatPerkuliahanGeoWisata2006.doc.html"&gt;silahkan download di sini&lt;/a&gt;. Terima Kasih&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-5215618571944396205?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/5215618571944396205/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2011/09/buku-ajar-kajian-geo-pariwisata.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/5215618571944396205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/5215618571944396205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2011/09/buku-ajar-kajian-geo-pariwisata.html' title='Buku Ajar Kajian Geo Pariwisata'/><author><name>Muh. Sholeh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09255886548890166137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_6BdsiwGInjM/TN5WxEU67NI/AAAAAAAAAHE/3Ty1264IaP0/S220/DSC00124.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-5796584638734357666</id><published>2011-09-19T02:06:00.000-07:00</published><updated>2011-09-19T02:06:08.621-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Geografi Tumbuhan'/><title type='text'>Buku Ajar Geo Hewan Tumbuhan</title><content type='html'>Bagi mahasiswa yang belum mempunyai buku ajar Mata Kuliah Geografi Hewan dan Tumbuhan, &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/16436765/materiGeografiHewan-tumbuhan.doc.html"&gt;silahkan download di sini&lt;/a&gt;. Terima kasih&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-5796584638734357666?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/5796584638734357666/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2011/09/buku-ajar-geo-hewan-tumbuhan.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/5796584638734357666'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/5796584638734357666'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2011/09/buku-ajar-geo-hewan-tumbuhan.html' title='Buku Ajar Geo Hewan Tumbuhan'/><author><name>Muh. Sholeh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09255886548890166137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_6BdsiwGInjM/TN5WxEU67NI/AAAAAAAAAHE/3Ty1264IaP0/S220/DSC00124.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-8405243020062635678</id><published>2011-07-12T02:19:00.000-07:00</published><updated>2011-07-12T02:34:54.540-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Studi Bencana'/><title type='text'>PERAN PENDIDIKAN GEOGRAFI DALAM MENCIPTAKAN SEKOLAH BERWAWASAN KONSERVASI LINGKUNGAN DAN MITIGASI BENCANA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Eva Banowati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dosen Jurusan Geografi FIS Unnes&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam dekade terakhir masih segar dalam ingatan, di negara kita sering dilanda berbagai bencana, baik bencana alam maupun bencana yang diakibatkan oleh perilaku manusia yang tidak bersahabat dengan lingkungannya. Sebutlah bencana gempa yang melanda Banda Aceh di tahun 2004, disusul kembali bencana gempa di Suka Bumi-Jawa Barat, belum selesai bencana tersebut muncul kasus Lumpur Sidoarjo (lapindo),  kemudian disusul lagi Gempa Yogyakarta, Gempa di Mentawai, Meletusnya Gunung Merapi, Gunung Karakatau dan Bromo. Sederetan bencana telah memberkan pelajaran bagi bangsa kita, betapa tidak berdayanya kita menghadapi peristiwa tersebut. Belajar dari sejarah bencana tersebut, perlu kita sikapi bersama mitigasi apa yang akan dilakukan oleh berbagai komponen bangsa, agar secara mental dan teknis kita sudah siap menghadapinya bila terjadi bencana yang serupa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam makalah singkat ini, saya mencoba untuk memaparkan bagaimana peran pendidikan geografi di sekolah untuk menciptakan  sekolah berwawasan konservasi lingkungan dan mitigasi bencana.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Geografi Sebagai Persfektif Ilmu pengetahuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perbincangan tentang jati diri Geografi telah beberapa  kali dilakukan di Indonesia, baik melalui lokakarya, seminar maupun melalui sarasehan yang dilakukan oleh Fakultas/Jurusan/Departemen Geografi,  organisasi profesi (IGI) dan ikatan alumni (IGEGAMA). Jati diri suatu disiplin ilmu dapat ditelaah dari definisinya. Bintarto (1981) dalam papernya berjudul Suatu  Tinjauan Filsafat Geografi mengemukakan Geografi mempelajari hubungan kausal gejala-gejala di muka bumi dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di muka bumi baik yang fisikal maupun yang menyangkut mahkluk hidup beserta permasalahannya, melalui pendekatan keruangan, ekologikal dan regional untuk kepentingan program, proses dan keberhasilan pembangunan Seminar dan lokakarya yang dilaksanakan di Jurusan  Geografi, FKIP, IKIP Semarang tahun 1988 telah menghasilkan rumusan  Geografi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perbedaan dan persamaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kelingkungan, kewilayahan dalam konteks keruangan. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rumusan dua definisi Geografi tersebut sedikit berbeda namun memberikan ketegasan dan kejelasan tentang obyek kajian dalam Geografi baik obyek material maupun formalnya. Obyek materialnya adalah gejala, fenomena,  peristiwa di muka bumi (di geosfer), sedang obyek formalnya adalah sudut pandang atau pendekatan: keruangan, kelingkungan dan kompleks wilayah.  Ketegasan obyek formal kajian Geografi penting untuk membedakan kajian dengan disiplin ilmu lain yang obyek materialnya juga fenomena geosfer. Definisi Geografi versi Semlok Semarang tersebut masih banyak digunakan dalam proses pembelajaran geografi di  sekolah dan perguruan  tinggi, dan bukan satu-satunya yang  harus diajarkan kepada peserta didik, karena masih banyak definisi lain yang perlu disampaikan untuk memperkaya dan memperluas wawasan tentang jati diri geografi seperti yang dikemukakan oleh Hartshorne, 1964; Bradford, 1982; Suharyono dan Amien, 1994; Castre et al, 2005. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Variasi definisi tersebut di atas juga memberikan ketegasan kepada kita bahwa obyek kajian Geografi adalah fenomena geosfer dan sudut pandangnya adalah keruangan, kelingkungan dan kewilayahan meskipun dengan rumusan yang berbeda. Rumusan yang berbeda dari definisi Geografi dapat dipahami dengan munculnya pandangan Geografi yang menyatakan bahwa  geografi adalah apa yang  dikerjakan oleh Geograf. Dari definisi tersebut, aspek lingkungan mendapat tekanan yang lebih. Hal tersebut sangat mungkin diinspirasi oleh permasalahan lingkungan yang semakin meningkat dan mengglobal di muka bumi ini, seperti perubahan iklim global, penurunan kualitas lingkungan, bencana banjir, kekeringan, longsor, kemiskinan, penurunan dan kerusakan sumber daya alam. Permasalahan lingkungan dan bencana yang banyak terjadi sebagai akibat ketidak imbangan interaksi antara lingkungan dengan aktifitas manusia. Interaksi lingkungan-manusia merupakan sebagian dari kajian geografi yang menggunakan pendekatan kelingkungan. Oleh sebab itu permasalahan lingkungan menjadi perhatian geograf, dan selain itu geografi sebagai ilmu yang berorientasi pada pemecahan masalah (problems solving). Permasalahan lingkungan bersifat kompleks, multi dimensi, saling kait mengkait, sehingga pemecahannya memerlukan pendekatan terpadu. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk menuju geografi terpadu (unifying geography) perlu ditegaskan komponen inti Geografi. Matthews, et al., (2004) mengusulkan empat komponen inti Geografi: ruang (space), tempat (place), lingkungan (environment) dan peta (maps).  Ruang, tempat, lingkungan dan peta menjadi label dari Geografi. Komponen tersebut mempunyai kedudukan yang sama dalam kajian Geografi, baik dalam kajian Geografi Fisik maupun Geografi Manusia. Demikian juga dapat menjadi dasar konsep  untuk disiplin Geografi secara utuh.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Geografi dalam Pembelajaran di Sekolah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan geografi bergerak pada ranah pengetahuan, kecakapan, perilaku untuk membentuk pengalaman anak didik yang berwawasan konservasi dan kemampuan mitigasi bencana. Hal ini berkaitan dengan ruang lingkup lingkungan geografi yaitu lingkungan perilaku (behavior environment) dan lingkungan fenomena (phenomena environment). Konservasi dan mitigasi bencana penekanan kajiannya pada aspek aktivitas manusia dalam konteks keruangan dalam menyikapi alam. Hal ini merupakan fakta bahwa manusia bertempat tinggal di suatu ruang/ wilayah. Fenomena kerusakan lingkungan berpontensi mengancam eksistensi manusia. Sehubungan dengan hal itu pembelajaran geografi dalam pemecahan masalah membawa pertanyaan fundamental yakni: “Where is it?, Why is it there? dan What follow from it being there?&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan struktur keilmuannya, Geografi adalah disiplin ilmu yang mengkaji tentang fenomena permukaan bumi atau geosfer. Geografi merupakan ilmu yang mencitrakan, menerangkan sifat – sifat bumi, menganalisis gejala – gejala alam dan penduduk, serta mempelajari corak yang khas tentang kehidupan dari unsur-unsur bumi dalam ruang dan waktu. Berdasarkan pengertian di atas dapat dikatakan bahwa Geografi adalah ilmu pengetahuan yang menggambarkan, melukiskan atau mendeskripsikan hal – hal yang berkaitan dengan persamaan dan perbedaan, baik yang terdapat di daratan, lingkungan perairan, lingkungan udara, maupun lingkungan kehidupan. Geografi terutama merupakan kajian tentang fenomena alam, dan kaitannya dengan manusia di permukaan bumi (Bintaro, 1991; BSNP, 2006).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Hakekat sasaran geografi meliputi: hubungan manusia dan lingkungan, dan region sebagai hasil aktivitas manusia dalam ruang. Keeratan hubungan melalui relasi, interrelasi, interaksi, diferensiasi unsur-unsur alamiah dan manusiawi dalam ruang tertentu di permukaan bumi. Geografi terpadu atau unified geography yang tidak memisahkan geografi atas geografi fisis dan geografi sosial. Pada Kurikulum 1975, geografi masuk dalam pelajaran Ilmu Bumi di sekolah dasar (SD) diberikan sejak kelas 3 hingga kelas 6. Cakupan materi berjenjang mulai lingkup kecamatan dipelajari di kelas 3, kabupaten di kelas 4, lingkup propinsi di kelas 5, dan kelas 6 mempelajari materi dunia (panca benua). Di SLTP, diberikan secara integrasi dalam pengetahuan Negara-negara (regional). Di SLA geografi fisik dan antariksa menjadi IPBA masuk IPA. Geografi sosial ekonomi Indonesia dan geografi Regional Dunia masuk rumpun IPS. Pada Kurikulum 1984/1985, kedudukan mata pelajaran geografi di SD masuk rumpun IPS, SLTP geografi fisik dan antariksa menjadi IPBA, geografi sosial ekonomi Indonesia dan geografi Regional Dunia masuk rumpun IPS, begitu juga di SMA, kedudukan mata pelajaran geografi program inti.&lt;br /&gt;Kurikulum1994 menggunakan pendekatan konsep esensial materi, pendekatan pembelajarannya CBSA dan keterampilan proses dengan sistem cawu dan pendekatan tujuan pembelajaran. Kritik/ kelemahan mata pelajaran geografi kurikulum 1994 adalah:&lt;br /&gt;a.    sarat materi, suplemen 1999 berisi pengurangan pokok bahasan.&lt;br /&gt;b.    materi kurang terfokus pada fenomena atau gejala permukaan  bumi  yang  nyata terkait dengan wilayah dan kebutuhan hidup anak dalam masyarakat.&lt;br /&gt;c.    pendekatan  pembelajaran  serta  materi belum  sepenuhnya  dipahami  penulis  buku, guru akibatnya materi  lebih  banyak berupa fakta, kurang dijumpai contoh kasus aktual dan pemecahan masalahnya. Termasuk buku geografi SD, SLTP, SMA tidak terlihat gradasinya.&lt;br /&gt;Kurikulum 2004 dikenal dengan sebutan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) lebih menekankan pada aspek kompetensi siswa. Pada KBK, geografi mempunyai keleluasaan dalam pembelajaranya di SMA/MA karena pelajaran geografi diajarkan tidak  hanya di kelas X dan pogram IPS kelas XI dan XII saja, tetapi juga diterapkan pada program IPA kelas XI. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), digulirkan pada pertengahan 2006 mengacu pada standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan dan penilaian pendidikan. Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum.&lt;br /&gt;Disarankan harus berlatar belakang dan memperhatikan enam faktor, yaitu: globalisasi, 2) melakukan upaya-upaya mendasar untuk menemukan kembali substansi dan wawasan kegeografian, 3) pengajar (dosen/ guru) dituntut mampu menjalankan peranya secara professional, 4) mengajar geografi dengan baik dan tidak menyimpang, 5) relevansi pembelajaran geografi terhadap dunia kerja, dan 6) aplikasi pembelajaran geografi dalam kehidupan di masyarakat termasuk membekali siswa pengetahuan menjaga kelestarian alam (Mukminan, 2005).&lt;br /&gt;Pengembangan kurikulum dilihat dari subtansi menunjukkan kemajuan yang tinggi, namum masih terbatas pada geografi sebagai pengetahuan yang bersifat wajib karena menjadi mata pelajaran. Pembelajaran geografi hingga saat ini terasakan geografi masih terbatas pada “studi”, masih berpacu pada Cognitive Domain (Ranah Kognitif) tingkat rendah yaitu pada Pengetahuan (C1) dan Pemahaman (C2). Perilaku yang menekankan aspek intelektual sangat diperlukan terutama dalam percaturan global. Kondisi demikian sangat memprihatinkan karena hasil belajar geografi siswa Indonesia masih bersifat konseptual, belum mampu menghadirkan rasa cinta bertanah air dengan segala konsekuensinya (sense of belonging). &lt;br /&gt;Urutan topik dan diajarkan di geografi telah disesuaikan oleh pengembang kurikulum berdasarkan tingkat kematangan siswa. Jenis pengajaran dan strategi belajar secara umum telah pula dirancang oleh Tim Pengembangnya, meskipun belum dibarengi oleh teknologi yang semestinya menyertainya. Misalnya di SMA ada materi Sistem Informasi Geografi dan Penginderaan Jauh yang perlu didukung oleh Laboratorium (hal ini di Indonesia dipandang terlalu berlebihan/ pemborosan). Disarankan strategi yang diterapkan (teacher-centered atau student-centered) harus tampak pengembangan konten materi yang bersifat holistik baik aspek sosial maupun aspek fisik dari sudut pandang keruangan.&lt;br /&gt;Kajian Geografi menekankan pada fakta dan data dihubungkan dengan komponen-kompenen geosfera secara fungsional dan struktural sehingga membentuk suatu sistem geosfera. Pada mata pelajaran IPS, pembelajaran pendidikan lingkungan, konservasi dan mitigasi bencana dapat disisipkan pada kompetensi dasar: 1) pengetahuan mengenai dinamika masyarakat dalam menyikapi bencana; 2) ketrampilan menyelamatkan diri; 3) kepercayaan diri dan 4) kemampuan berekpresi. Pengkondisian tersebut berkaitan dengan geografi merupakan ilmu untuk menunjang kehidupan sepanjang hayat dan mendorong peningkatan kehidupan. Bidang kajian geografi meliputi bumi, aspek dan proses yang membentuknya, hubungan kausal dan spasial manusia dengan lingkungan, serta interaksi manusia dengan tempat. Sebagai suatu disiplin integratif, geografi memadukan dimensi alam fisik dengan dimensi manusia dalam menelaah keberadaan dan kehidupan manusia di lingkungannya.&lt;br /&gt;Mata pelajaran Geografi membangun dan mengembangkan pemahaman peserta didik tentang variasi dan organisasi spasial masyarakat, tempat dan lingkungan pada muka bumi. Peserta didik didorong untuk memahami aspek dan proses fisik yang membentuk pola muka bumi, karakteristik dan persebaran spasial ekologis di permukaan bumi. Selain itu peserta didik dimotivasi secara aktif dan kreatif untuk menelaah bahwa kebudayaan dan pengalaman  mempengaruhi persepsi manusia  tentang tempat dan wilayah (Depdiknas, 2006; Banowati, 2006).&lt;br /&gt;Pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang diperoleh dalam mata pelajaran Geografi diharapkan dapat membangun kemampuan peserta didik untuk bersikap, bertindak cerdas, arif, dan bertanggungjawab dalam menghadapi masalah sosial, ekonomi, dan ekologis. Pada tingkat pendidikan dasar Mata Pelajaran Geografi diberikan sebagai bagian integral dari Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), sedangkan pada tingkat pendidikan menengah diberikan sebagai mata pelajaran tersendiri. Mata Pelajaran Geografi bertujuan agar peserta didik berkemampuan: &lt;br /&gt;1.    Memahami pola spasial, lingkungan dan kewilayahan serta proses yang berkaitan&lt;br /&gt;2.    Menguasai keterampilan dasar dalam memperoleh data dan informasi, mengkomunikasikan dan menerapkan pengetahuan geografi&lt;br /&gt;3.    Menampilkan perilaku peduli terhadap lingkungan hidup dan memanfaatkan sumber daya alam secara arif serta memiliki toleransi terhadap keragaman budaya masyarakat.&lt;br /&gt;Kesemuanya dituangkan dalam ruang lingkup mata pelajaran Geografi meliputi aspek - aspek sebagai berikut.&lt;br /&gt;a.    Konsep dasar, pendekatan, dan prinsip dasar Geografi&lt;br /&gt;b.    Konsep dan karakteristik dasar serta dinamika unsur-unsur geosfer mencakup litosfer, pedosfer, atmosfer, hidrosfer, biosfer dan antroposfer serta pola persebaran spasialnya&lt;br /&gt;c.    Jenis, karakteristik, potensi, persebaran spasial Sumber Daya Alam (SDA) dan pemanfaatannya&lt;br /&gt;d.    Karakteristik, unsur-unsur, kondisi (kualitas) dan variasi spasial lingkungan hidup, pemanfaatan dan pelestariannya&lt;br /&gt;e.    Kajian wilayah  negara-negara maju dan sedang berkembang&lt;br /&gt;f.    Konsep wilayah dan pewilayahan, kriteria dan pemetaannya serta fungsi dan manfaatnya dalam analisis geografi&lt;br /&gt;g.    Pengetahuan dan keterampilan dasar tentang seluk beluk dan pemanfaatan peta, Sistem Informasi Geografis (SIG) dan citra penginderaan jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membelajarkan Konservasi Lingkungan dan Mitigasi Bencana&lt;br /&gt;Berdasarkan letak geografisnya, wilayah Indonesia di antara Benua Asia dan Benua Australia, serta di antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Indonesia berada pada posisi strategis, yang mempunyai arti penting dalam kaitannya dengan percaturan global. Letak setiap wilayah di permukaan bumi, merupakan tata geografis seluruh kondisi lingkungan yang dapat memberikan gambaran mengenai potensi yang dimilikinya, kemungkinan aktivitas yang dapat terjadi dan dapat dilakukan, serta prospek yang dapat dikembangkan untuk mencapai kemajuan-kemajuan di masa mendatang. Secara geologis Indonesia terletak pada pacific ring fire merupakan wilayah rawan bencana, karena banyaknya gunung berapi yang sewaktu-waktu bererupsi, gempa bumi bahkan tsunami. Kondisi ini diperlukan kemampuan penduduknya untuk mengelola agar tidak menjadi suatu bencana melalui pembudayaan dalam pendidikan (Leksono, 2008; Banowati 2010).&lt;br /&gt;Kemampuan profesional guru geografi dalam pembelajaran dituangkan dalam rencana pembelajaran yang digunakan sebagai acuan mengajar, yakni kemampuan membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan melaksanakan rencana tersebut. Dalam menjalankan profesinya diharapkan semua guru geografi, mengetahui tujuan RPP tentu saja beserta isi RPP diantaranya tentang pemilihan metode, kemampuan menggunakan media pembelajaran, dan melaksanakan penilaian. Membelajarkan konservasi berkaitan dengan menjaga flora, fauna, penduduknya didalam memelihara lingkungan, serta mitigasi bencana. Berkaitan dengan hal itu pengetahuan tentang konservasi, flora, fauna yang terancam punah serta mitigasi bencana sudah saatnya dimasukkan dalam muatan kurikulum mulai tingkat SD, SMP dan SMA. Hendaknya disampaikan menarik yang melibatkan aspek kognitif, afektif, motorik, dan sosial (hubungan antar manusia) untuk membentuk pembelajaran yang bermakna. Hubungan itu dapat bersifat interelatif, interaktif, dan intergratif sesuai dengan konteksnya dalam mengelola lingkungan sebagai sumber daya (Banowati, 2006;  2010).&lt;br /&gt;Mata pelajaran Geografi membangun dan mengembangkan pemahaman peserta didik tentang variasi dan organisasi spasial masyarakat, tempat dan lingkungan pada muka bumi. Peserta didik didorong untuk memahami aspek dan proses fisik yang membentuk pola muka bumi, karakteristik dan persebaran spasial ekologis di permukaan bumi. Selain itu peserta didik dimotivasi secara aktif dan kreatif untuk menelaah bahwa kebudayaan dan pengalaman mempengaruhi persepsi manusia tentang tempat dan wilayah. Pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang diperoleh dari mata pelajaran Geografi diharapkan dapat membangun kemampuan peserta didik untuk bersikap, bertindak cerdas, arif, dan bertanggungjawab dalam menghadapi masalah sosial, ekonomi, dan ekologis. Pada tingkat pendidikan dasar mata pelajaran Geografi diberikan sebagai bagian integral dari Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), sedangkan pada tingkat pendidikan menengah diberikan sebagai mata pelajaran tersendiri. Upaya-upaya pelestarian harus dilakukan dalam wacana membangun kembali lingkungan yang rusak. Metode yang paling tepat adalah memasukkan substansi konservasi karena berpandangan berkelanjutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan Geografi di Universitas Konservasi&lt;br /&gt;    Kerusakan lingkungan yang ditimbulkan manusia pada saat ini bertambah buruk dan menyebabkan masalah bagi manusia sendiri. UNNES sebagai perguruan tinggi yang mengusung konservasi berdasar keprihatinan dengan banyaknya kerusakan alam yang terjadi. Pendeklarasian sebagai Universitas Konservasi untuk menyelamatkan kondisi lingkungan alam yang semakin terpuruk. Program UNNES Konservasi di mulai dengan penanaman pohon di kampus dan sekitarnya termasuk pembangunan embung (danau kecil) sebagai cadangan air di musim kering. UNNES memiliki luasan areal 1.444.251 m2 berpotensi untuk di jadikan wilayah konservasi. Selain itu posisi geografisnya sangat mendukung untuk dijadikan wilayah konservasi yakni wilayah perbukitan sebagai fungsi hidrologis (recharge area). UNNES dikelilingi berbagai tipe habitat dan tutupan lahan (land cover) antara lain: hutan, kebun, sawah. Pada lingkungan alam ini telah diinventarisir dengan ditemukan 58 jenis flora dan fauna termasuk diantaranya 14 jenis yang dilindungi sesuai Peraturan Perundangan Indonesia (Unnes, 2010).&lt;br /&gt;Kebutuhan pendidikan yang menekuni bidang geografi pada tingkat Universitas semakin diperlukan. Jurusan geografi menghasilkan ilmuwan, yang dapat bekerja pada berbagai instansi berkaitan dengan fenomena geosfer yang menjadi kompetensinya. Demikian pula universitas yang memiliki jurusan pendidikan geografi menghasilkan guru geografi yang handal dan mampu mengembangkan pembelajaran geografi di sekolah. Jurusan geografi sebagai lingkungan budaya sejak semula jadi, telah berkomitmen menanamkan pengetahuan tentang konservasi, lingkungan hidup dan mitigasi bencana melalui perbaikan kurikulum, sehingga setiap civitas academica tahu bahwa bencana alam dapat terjadi sewaktu-waktu dan bagaimana cara menyikapinya. Membelajarkan fenomena geosfer tercermin dalam materi (teori) dan praktikum yang dijalankan secara indoor maupun out door study .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Pembelajaran lapangan atau kerja lapangan pada dasamya merupakan hal yang tak boleh ditinggalkan dalam geografi, karena disamping sangat membantu dalam mengembangkan kemampuan analisis, sintesis, interpretasi, mengamati korelasi dan menilai hubungan kausal, pelajaran di lapangan juga akan sangat berguna dalam hal menyamakan persepsi dan membakukan pengertian. Persepsi individu bersifat subjektif, dipengaruhi oleh derajat perhatian, diwarnai oleh pengalaman yang sudah ada dan dapat bersifat sangat khas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;Bintarto, R dan Surastopo H., 1991. Metoda, Analisa Geografi. Jakarta: LP3ES.&lt;br /&gt;Banowati, Eva. 2006. Membangun Pembelajaran Bermakna. Makalah. Semarang: Seminar Internasional Hispisi.&lt;br /&gt;_______. 2010. Kesiapan LPTK Dalam Menyonsong Pendidikan Profesi Guru (PPG) Untuk Menghasilkan Guru Profesional. Prosiding. Seminar Nasional, Revitalisasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) Untuk Menghasilkan Guru Profesional. Lampung: Lemlit Unila.&lt;br /&gt;Banowati, Eva, dkk. 2010. Kesiapan Masyarakat Sekitar Dalam Mewujudkan Unnes Konservasi. Laporan Penelitian. Semarang: LP2M UNNES.&lt;br /&gt;Bradford, M.G., and Kent, W.A., 1982. Human Geography. Great Britain: Oxford University Press.&lt;br /&gt;Castre, N.,R., Alisdair, dan S., Douglas. 2005. Questioning Geography Fundamental Debates. UK, USA, Australia: Blackwell&lt;br /&gt;Depdiknas. 2006. Petunjuk Teknis Pengembangan Silabus. Jakarta: BSNP&lt;br /&gt;Gregory, 1981. Man and Environmental Processes. Boston:  Mackays of Chathan.&lt;br /&gt;Grenier, L. 1970. Working With Indigenous Kwoledge: A Guide For Research. International Development Research Center.  Canada, Otawa&lt;br /&gt;Haggett, P., 1983. Geography: A Modern Synthesis, Revised Third Edition. New York: Harper &amp;amp; Row, Publisher.&lt;br /&gt;Hamalik, Oemar. 2005. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara&lt;br /&gt;Hartshorne, R., 1964. The Nature of Geography, The Association of American Geography. Lancaster.&lt;br /&gt;Leksono, Suroso Mukti, 2008. Pengembangan Kurikulum Pembelajaran Konservasi, Lingkungan Hidup dan Mitigasi Bencana Alam (Sebagai Upaya Pencegahan Kerusakan Lingkungan Hidup dan Mengatasi Bencana Secara Global). Laporan Penelitian. Serang: FKIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.&lt;br /&gt;Mukminan. 2005. Metode Pembelajaran Geograf. Makalah, Workshop Menuju Pembelajaran Geografi Di Era Global, Dalam Rangka Dies Natalis Ke-42 Fakultas Geografi UGM Yogyakarata.&lt;br /&gt;Natawidjaja, Rachman, dkk. 2007. Rujukan Filsafat, Teori dan Praksis Ilmu Pendidikan. Bandung: UPI Press.&lt;br /&gt;Suharyono dan Amien, Moch. 1994. Pengantar Filsafat Geografi. Jakarta: PMTK.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-8405243020062635678?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/8405243020062635678/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2011/07/peran-pendidikan-geografi-dalam.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/8405243020062635678'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/8405243020062635678'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2011/07/peran-pendidikan-geografi-dalam.html' title='PERAN PENDIDIKAN GEOGRAFI DALAM MENCIPTAKAN SEKOLAH BERWAWASAN KONSERVASI LINGKUNGAN DAN MITIGASI BENCANA'/><author><name>Teras Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14732676323560413012</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_jPYUd5dZY8o/TN9Q9GckyrI/AAAAAAAAABk/SEB4NP_haK8/S220/DS.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-7902278489149314695</id><published>2011-07-12T02:02:00.000-07:00</published><updated>2011-07-12T02:12:48.348-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Studi Bencana'/><title type='text'>Peran Penelitian Geografis dalam Pembangunan  Berwawasan Konservasi dan Pengurangan Risiko Bencana</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Junun Sartohadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kepala Pusat Studi Bencana Universitas Gadjah Mada&lt;br /&gt;Guru Besar Geografi Tanah di Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada&lt;br /&gt;(Disampaikan dalam Seminar Nasional Kontribusi Geografi dalam Konservasi Lingkungan dan Mitigasi Bencana. HIMA Geografi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Intisari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penulisan makalah berjudul “Peran Penelitian Geografis dalam Pembangunan Berwawasan Konservasi dan Pengurangan Risiko Bencana” bertujuan untuk: (1) memberikan pemahaman mengenai cakupan penelitian geografis, (2) memberikan pengertian penelitian geografis yang berbasis pada pemahaman konservasi, (3) memberikan pengertian penelitian geografis yang berbasis pada pengurangan risiko bencana. Trend penelitian geografis terkini beserta terapanan di dalam pembangunan wilayah di Indonesia khususnya juga diuraikan secara singkat di dalam makalah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Makalah disusun berdasarkan telaah pustaka dan penelitian terdahulu. Penelitian terdahulu yang dijadikan acuan untuk penulisan makalah ini khususnya bersumber dari penelitian-penelitian yang dilakukan oleh penulis dan institusi tempat penulis bekerja yang dilengkapi dengan telaah atas penelitian-penelitian yang dilakukan oleh peneliti lain di dalam maupun di luar negeri. Metode penyajian makalah secara deskriptif untuk menggambarkan secara singkat dan padat atas pokok-pokok pikiran yang diajukan di dalam makalah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Concluding remarks merupakan kesimpulan yang bersifat umum disampaikan dalam makalah ini. Penyampaikan concluding remarks berisi pernyataan singkat yang mengarisbawahi besarnya peran penelitian geografis di dalam pembangunan, khususnya pembangunan wilayah di Indonesia yang berbasis pada pengurangan risiko bencana. Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setiap bagian wilayah di permukaan bumi mempunyai karakteristik fisik, sosial, dan budaya yang khas. Karakterisik wilayah secara fisik mencakup karakteristik morfologi permukaan lahan (relief), batuan dan struktur batuan serta stratigrafi batuan, iklim, hidrologi, tanah, dan penutupan lahan. Karakteristik fisik suatu wilayah berubah-ubah dari waktu ke waktu seiring dengan dinamika iklim. Dinamika fisik wilayah yang dipengaruhi oleh iklim disebut dengan istilah morfodinamik. Karakteristik sosial dan budaya berkaitan dengan semua hal yang berhubungan dengan masyarakat yang menempati wilayah. Dinamika sosial budaya masyarakat yang menempati suatu wilayah akan mempengaruhi dinamika fisik wilayah dalam berbagai bentuk pemanfaatan lahan (Garcia and Batalla, 2005; Sartohadi and Giyanto, 2007). &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pembangunan wilayah harus mendasarkan pada karakteristik fisik, sosial dan budaya setempat. Pembangunan wilayah mencakup semua aktivitas memanfaatkan potensi/sumberdaya fisik wilayah untuk kepentingan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di suatu wilayah tertentu. Pemanfaatan sumberdaya fisik wilayah tidak dapat lepas dari kondisi sosial budaya masyarakat. Kondisi sosial dan budaya masyarakat yang ada pada suatu wilayah tertentu adalah hasil dari interaksi yang panjang dengan kondisi fisik wilayah. Tingkat penguasaan modal dan teknologi serta adat istiadat yang ada pada masyarakat sangat menentukan bentuk-bentuk pemanfaatan sumberdaya fisik wilayah (Aitken and Valentine, 2006; Lavigne et al., 2008).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pembangunan wilayah dimulai dengan pembangunan sumberdaya manusia yang berbasis pada kondisi sosial dan budaya yang ada pada masyarakat. Pembangunan sumberdaya manusia tanpa berbasis pada kondisi sosial dan budaya masyarakat akan menghasilkan manusia yang kurang dapat diterima di lingkungan budaya tempat asal. Adanya sumberdaya manusia yang memiliki modal dan menguasai teknologi namun kurang memahami kondisi sosial budaya masyarakat akan cenderung mengambil keputusan pemanfaatan sumberdaya fisik yang kurang sesuai. Pengambilan keputusan pemanfaatan sumberdaya fisik yang kurang sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat akan berakibat pada pemanfaatan sumberdaya fisik yang tidak efisien dan rusaknya kondisi sosial budaya masyarakat (Goodchild,  2007).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karakteristik fisik, sosial, dan budaya suatu wilayah saling berinteraksi satu sama lain menghasilkan proses-proses yang menentukan dinamika wilayah. Iklim hujan tropika akan menyebabkan proses pelapukan batuan yang relatif cepat dibandingkan dengan proses pelapukan batuan di wilayah iklim yang lain. Proses pelapukan batuan yang relatif cepat menghasilkan tanah yang tebal di wilayah iklim hujan tropika akan diimbangi oleh laju erosi dan lain-lain proses pengelupan permukaan bumi dan pengendapan yang releif cepat. Pada sisi yang lain kondisi iklim hujan tropika akan memberikan lingkungan yang nyaman untuk kehidupan makhluk hidup termasuk manusia dan berbagai macam flora dan biota. Masyarakat yang tinggal di wilayah hujan tropika akan mempunyai sistem kekerabatan dan budaya yang khas guna saling bahu membahu menghadapi ancaman lingkungan di sekitarnya dan sekaligus memanfaatkan sumberdaya alam yang tersedia (Aitken and Valentine, 2006). Perkembangan masyarakat akan selalu diikuti dengan peningkatan aktivitas pemanfaatan sumberdaya alam untuk pemenuhan kebutuhan hidup. Peningkatan aktivitas pemanfaatan sumberdaya alam akan berpengaruh pada dinamika fisik wilayah. Perubahan kondisi penutupan lahan akan diikuti dengan peningkatan laju erosi dan lain-lain proses pengelupan permukaan bumi dan pengendapan. Peningkatan laju erosi akan terus berakibat pada perubahan intensitas proses-proses fisik yang lain dan sampai pada ujungnya akan mempengaruhi kondisi iklim (Salerno et al, 2011).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemahaman mengenai dinamika wilayah yang kurang komprehensif akan mengakibatkan pada pengambilan keputusan pembangunan wilayah yang kurang sesuai. Dinamika wilayah mencakup dinamika fisik dan sosial budaya masyarakat yang tinggal pada suatu wilayah. Pemahaman mengenai dinamika fisik saja tidak cukup untuk melakukan pengambilan keputusan terkait dengan kebijakan pembangunan wilayah. Kondisi yang sebaliknya adalah pemahaman dinamika sosial budaya masyarakat saja juga masih kurang untuk dapat mengambil keputusan terkait kebijakan pembangunan wilayah. Pemahaman yang komprehensif mengenai dinamika fisik dan sosial budaya diperlukan dalam pengambilan keputusan yang tepat terkait dengan kebijakan pembangunan wilayah. Pelaksanaan pembangunan berbasis pada kebijakan pembangunan yang kurang tepat pada suatu wilayah akan cenderung menimbulkan degradsi lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Degradasi lingkungan dan peningkatan risiko bencana merupakan akibat yang timbul dari pengambilan keputusan pembangunan wilayah yang kurang sesuai pada suatu wilayah (Coppola, 2007). Peningkatan laju erosi pada wilayah hulu sungai dan laju sedimentasi pada wilayah muara sungai adalah bentuk degradasi lingkungan fisik yang relatif paling lama dicatat dan diteliti telah terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Pengenalan dan pemaksaan pemanfaatan lahan untuk komoditas tertentu yang bukan berasal dari Indonesia dan bukan merupakan budaya masyarakat lokal disertai dengan praktek konservasi yang kurang sesuai diduga telah menimbulkan permasalahan erosi dan sedimentasi (Blanco and Lal, 2008). Akibat lanjut dari permasalahan erosi adalah kemiskinan masyarakat baik di kawasan hulu sungai maupun di kawasan muara sungai. Salah satu permasalahan ikutan dari kemiskinan adalah ketidak mapuan masyarakat beradaptasi dengan perubahan dinamika fisik wilayah. Perubahan dinamika fisik wilayah yang dramatik akan cenderung mengakibatkan timbulnya berbagai bentuk kejadian bencana yang tidak mampu diadaptasi oleh masyarakat yang menderita kemiskinan (Huddart and Stott, 2010).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cakupan Penelitian Geografis &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Geografi adalah ilmu yang mengkaji hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan tempat tinggalnya. Cakupan lingkungan tempat tinggal manusia yang menjadi obyek penelitian dalam ilmu geografi adalah lingkungan fisik dan lingkungan non fisik. Cakupan lingkungan non fisik adalah masyarakat yang ada menempati suatu wilayah tertentu. Struktur sosial dan budaya masyarkat menjadi obyek penelitian yang menarik sejak awal perkembangan ilmu geografi. Pada perkembangan selanjutnya struktur permukiman dan struktur-struktur lain hasil budidaya masyarakat telah pula mejadi penelitian yang menarik bagi ilmuan geografi.  Penelitian mengenai lingkungan fisik mencakup penelitian tentang iklim, morfologi permukaan bumi, material penyusun yang mempengaruhi bentuk permukaan bumi, air permukaan dan air bawah permukaan, tanah, dan penutup lahan baik yang alami maupun budidaya manusia (Gomez and Jones III, 2010).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karakteristik ilmu geografi adalah terletak pada cara pandang terhadap obyek penelitian geografis dan bukan sepenuhnya pada obyek penelitian itu sendiri. Obyek material dalam ilmu geografi juga dipelajari oleh ahli dari berbagai disiplin ilmu non geografi. Para ilmuan non geografi mengkaji obyek-obyek penelitian geografis secara parsial dan pada umumnya merupakan penelitian yang mendalam khusus mengenai obyek yang dikaji. Keterikatan obyek penelitian geografis dengan lokasi keterdapatannya menjadi ciri utama penelitian geografis selain juga persebaran keberadaan objek penelitian di dalam ruang di permukaan bumi. Penelitian geografis juga dicirikan dengan perkembangan dari waktu ke waktu atas sistem yang berlaku pada obyek yang dikaji (Chapman, 1979; Gomez and Jones III, 2010).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kelemahan yang ada pada ilmu geografi adalah penelitian obyek geografi secara parsial lebih menonjol dibandingkan dengan penelitian secara integral antara penelitian fisik dan sosial budaya masyarakat. Ilmuwan geografi lebih didominasi oleh ahli Geografi Tanah, Geografi Perkotaan, Geografi Penduduk, Geomorfologi, Hidrologi dan masih banyak yang lain dibandingkan dengan ahli Geografi. Dominasi penelitian geografis secara parsial terjadi sebagai akibat dari banyaknya ilmuwan geografi yang menimba ilmu dari ilmuwan lain yang mempunyai obyek penelitian yang sama. Hal yang sebaliknya adalah ilmuwan lain yang mempunyai obyek penelitian yang sama belajar dari ilmuwan geografis masih terbatas jumlahnya. Tantangan bagi ilmuwan geografi adalah peningkatan jumlah penerapan ilmu geografi untuk penyelesaian permasalahan pembangunan yang saat ini timbul sebagai akibat pengambilan kebijakan pembangunan wilayah yang kurang tepat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemahaman yang hanya berbasis pada dinamika fisik wilayah telah menimbulkan kerancuan dalam pemahaman secara utuh terhadap munculnya berbagai gejala perubahan lingkungan. Peningkatan laju erosi dan sedimentasi telah mendapatkan perhatian yang berlebihan pada era tahun 70an. Berbagai usaha pengendalian erosi telah menyita banyak modal baik di tingkat lokal hingga global. Penerapan paham konservasi yang didasari pada pemahaman dinamika fisik wilayah telah menimbulkan ancaman bahaya longsor yang mulai dirasakan pada dekade setelah tahun 70an. Praktek konservasi tanah secara fisik telah diikuti dengan dinamika sosial budaya yang dilatarbelakangi peningkatan kebutuhan ekonomi sehingga menimbulkan bentuk pemanfaatan lahan untuk usaha produksi di daerah hulu yang berrelief terjal. Longsor di daerah hulu dan banjir bandang di daerah hilir menjadi sering terjadi pada saat ini (Sartohadi, 2005a; Sartohadi, 2007; Marfai et al., 2008).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Konservasi tanah telah dipahami secara sempit sebagai usaha atau praktek pengendalian secara fisik, vegetatif, dan kimiawi. Pengolahan tanah yang dilengkapi dengan berbagai macam bentuk konservasi telah dianggap sebagai usaha yang handal di dalam pengendalian kerusakan sumberdaya tanah dan air. Pemahaman yang lebih jauh bahwa usaha konservasi semestinya lebih ditekankan pada rekayasa sosial budaya atas masyarakat yang tinggal di daerah rawan erosi telah terlambat dilakukan. Masyarakat yang tinggal di daerah hulu semestinya mempunyai sikap dan perilaku pemanfaatan lahan yang berbeda dengan masyarakat yang tinggal di daerah hilir. Penyamarataan sikap dan perilaku pemanfaatan lahan oleh masyarakat di seluruh bagian wilayah daerah aliran sungai telah menimbulkan eksploitasi berlebihan terhadap sumberdaya alam yang ada (Sartohadi, 2005b). Contoh kasus pemanfaatan sumberdaya air yang berlebihan pada hulu sungai-sungai di Provinsi Jawa Tengah yang bermuara di Laut Jawa telah menyebabkan intrusi air laut melalui tubuh sungai di daerah muara. Pemanfaatan sumberdaya air permukaan untuk irigasi di daerah hulu telah menyebabkan menurunnya debit air sungai dibawah ambang batas minimum khususnya pada saat musim kemarau. Penurunan debit air di muara sungai hingga di bawah ambang batas minimum menyebabkan aliran air tawar tidak dapat membendung masuknya air laut ke arah daratan. Hal yang menyebabkan intrusi lebih parah terjadi adalah pemanfaatan sumberdaya air tanah di sekitar muara sungai yang umumnya berupa delta. Sungai efluent berubah menjadi sungai influent. Air sungai di daerah muara yang berisi air laut pada akhirnya masuk ke dalam sistem aquifer air tanah di wilayah muara sungai (Sartohadi, 2007; Sartohadi, Mardiatno, and Marfai, 2009).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gejala pemanasan global (global warming) adalah contoh dinamika fisik wilayah yang telah dipahami dengan kurang tepat. Gejala pemanasan global timbul sebagai akibat dari peningkatan aktifitas manusia dalam berbagai bentuk. Berbagai bentuk peningkatan aktivitas manusia tentu membutuhkan energi yang sebagian besar dipenuhi dengan cara pemanfaatan energi fosil yang menghasilkan CO2. Peningkatan kadar CO2 di atmosfir diduga kuat sebagai penyebab timbulnya gejala pemanasan global. Pada akhirnya pemanasan global menimbulkan kenaikan muka air laut dan akibat-akibat ikutan lain seperti kacaunya kondisi cuaca (Potter and Colman , 2003). Hujan lebat pada saat musim kemarau menjadi sering terjadi, demikian juga hujan ekstrim tinggi menjadi sering terjadi pada saat musim hujan. Gagal panen komoditas pertanian yang mestinya memberikan hasil maksimum ketika diusahakan pada musim kemarau sering terjadi. Kondisi sebaliknya adalah gagal panen pada saat musim hujan juga sering terjadi akibat lahan tergenang air. Usaha-usaha penanggulangan dampak pemanasan global melalui rekayasa sosial juga telah terlambat dikaji dan diterapkan oleh para ilmuwan khususnya ilmuwan geografi. Ilmuwan geografi di Indonesia bahkan telah lebih terkonsentrasi pada pemahaman proses terjadinya pemanasan global.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perkembangan dinamika penelitian sosial budaya masyarakat yang dikaitkan dengan lokasi keterdapatannya di suatu wilayah tertentu telah melahirkan penelitian Geografi Politik atau Geopolitik. Kepentingan-kepentingan tertentu seringkali muncul dari masyarakat dengan latar belakang sosial budaya tertentu yang mendiami suatu wilayah tertentu (Diehl, 2003). Kepentingan yang muncul dari masyarakat dengan latar belakang sosial dan budaya tertentu tidak dapat lepas dari keterdapatan sumberdaya alam di wilayah tempat tinggalnya dan atau ketertarikan akan sumberdaya alam di wilayah sekitarnya. Penelitian Geopolitik merupakan penelitian yang mungkin telah muncul sejak lama, namun hingga saat ini belum mendapat perhatian semestinya dari para ahli geografi di Indonesia. Pemekaran wilayah propinsi dan kabupaten di Indonesia yang marak mulai tahun 2000an adalah merupakan penelitian geopolitik yang menarik yang berasal dari dalam negeri Indonesia. Kejadian atau peristiwa kekisruhan politik di Timur Tengah, Afrika, Eropa, Amerika Latin, dan masih banyak lagi di wilayah lain (Dierwechter, 2008) adalah mememerlukan telaah dan ulur tangan dari para ahli geografi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cakupan penelitian geografis berspektrum luas. Penelitian yang berbasis pada obyek fisik, sosial budaya hingga politis dapat tercakup dalam penelitian geografis. Penelitian murni mengenai berbagai dinamika wilayah hingga penelitian praktis yang langsung dapat diterapkan pada kehidupan dapat pula tercakup dalam penelitian geografis. Luasnya cakupan penelitian geografis telah menjadi kekuatan dan kelemahan bagi geograf. Geograf dapat memberikan pertimbangan-pertimbangan kepada pembuat keputusan kebijakan terkait dengan pembangunan wilayah secara komprehensif atas berbagai faktor yang perlu dipertimbangkan. Pada sisi lain geograf dipandang tidak mempunyai pengetahuan yang mendalam atas satu pokok masalah yang menjadi sedang menjadi perhatian utama pembuat keputusan kebijakan. Penelitian geografis, apapun temanya, dapat dijadikan payung bagi penelitian-penelitian mengenai suatu obyek tertentu secara mendalam yang dikerjakan oleh individu yang berbeda. Penelitian individual yang bersifat parsial mengenai suatu obyek geografis tertentu dapat disatukan dan disimpulkan bersama menjadi sebuah rekomendasi pemecahan masalah secara komprehensif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tren (Trend) Penelitian Geografis Saat Ini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada beberapa kata kunci agar penelitian geografis mampu dijual di pasar dan mendapatkan sumber pendanaan dari berbagai donor baik di tingkat nasional maupun internasional, yaitu: pembangunan berkelanjutan, perubahan global, dan kota super besar (mega city). Penelitian geografis berbasis pada pemahaman konservasi dan pengurangan risiko bencana termasuk ke dalam kelompok pembangunan berkelanjutan. Penelitian geografis mengenai perubahan global antara lain mencakup dinamika pemanasan global, adaptasi masyarakat terhadap perubahan iklim global, perubahan sosial budaya masyarakat dalam menghadapi dinamika sosial budaya global. Berbagai penelitian geografis baik fisik maupun non fisik yang terjadi sebagai akibat dari pertumbuhan kota menjadi kota besar dan atau kota super besar  merupakan penelitian lain yang menjadi perhatian global. Para pengambil keputusan di tingkat lokal, nasional, dan internasional memerlukan dengan segera informasi mengenai penelitian-penelitian terkait dengan pembangunan berkelanjutan, perubahan global, dan kota super besar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penelitian-penelitian konservasi sumberdaya alam khususnya sumberdaya tanah dan air saat ini telah mengalami penurunan dalam hal perhatian dan minat dari para peneliti di tingkat nasional maupun internasional. Pemahaman mengenai konservasi yang telah dikuasai oleh para peneliti tetap mewarnai latar belakang penelitian-penelitian terkini. Penelitian mengenai kemampuan penyerapan karbon pada suatu wilayah dengan mengandalkan kelestarian vegetasi hutan adalah bentuk lain penelitian konservasi sumberdaya tanah dan air yang diungkapkan melalui cara yang berbeda. Penelitian mengenai usaha-usaha peningkatan ketahanan pangan baik lokal, nasional, maupun global tidak dapat lepas dari konservasi sumberdaya tanah dan air adalah salah satu contoh lain penelitian mengenai konservasi sumberdaya alam yang dikemas dalam bentuk yang berbeda. Penelitian berbasis pada pemahaman konservasi tidak hanya mencakup penelitian konservasi sumberdaya alam, namun juga penelitian konservasi sumberdaya sosial dan budaya masyarakat. Keterdapatan kearifan lokal, sistem sosial dan budaya masyarakat yang telah berlangsung secara turun temurun semestinya tidak dengan serta merta diubah menjadi sistem sosial dan budaya masyarakat yang baru. Penguatan sistem sosial, budaya, dan kearifan lokal dalam kaitannya untuk menghadapi perubahan global telah menjadi tren penelitian saat ini yang menarik perhatian ilmuwan sosial budaya, termasuk ilmuwan geografi manusia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Secara nasional tren penelitian geografis lebih terfokus pada penelitian kebencanaan. Penelitian kebencanaan mencakup bencana alam dan bencana non alam. Bencana akibat perilaku manusia terkait dengan penerapan teknologi tertentu dan konflik antar masyarakat termasuk di dalam kategori bencana non alam. Penelitian mengenai bencana alam banyak dilakukan oleh ahli-ahli ilmu kebumian termasuk di dalamnya adalah ahli ilmu geografi fisik (Sartohadi, 2011). Penelitian mengenai bencana non alam banyak dilakukan oleh ahli-ahli ilmu kedokteran dan kesehatan serta ilmu sosial humaniora. Peran ahli ilmu geografi manusia sangat diharapkan di dalam penelitian-penelitian kebencanaan non alam. Penelitian kebencanaan yang mencakup bencana alam dan non alam, hubungan antar bencana alam dan non alam, serta keterkaitan antar bencana baik alam maupun non alam dengan lokasi keterdapatannya beserta persebarannya di permukaan bumi semestinya hanya dikuasai oleh ahli geografi. Cakupan ilmu geografi mengenai obyek penelitian fisik dan non fisik, hubungan timbal balik antar obyek fisik dan non fisik, serta keterkaitan antar obyek baik fisik dan non fisik dengan lokasi keterdapatannya beserta persebarannya di permukaan bumi merupakan modal dasar yang tepat untuk melakukan penelitian kebencanaan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penyusunan rencana tata ruang dengan keharusan memasukan analisis pengurangan risiko bencana merupakan tren penelitian geografis yang lain yang bersifat aplikatif untuk pembangunan. Penyusunan rencana tata ruang merupakan dasar utama di dalam pelaksanaan pembangunan wilayah (Ekawati, Sartohadi  and Rossiter, 2010; Hizbaron et al, 2010). Apapun bentuk dari kegiatan pembangunan selalu saja menempati wilayah tertentu. Ketidak sesuaian penempatan aktivitas pembangunan pada suatu wilayah akan berakibat pada peningkatan risiko bencana. Hasil-hasil pembangunan yang telah menelan biaya dan tenaga tidak akan ada artinya jika kelak di kemudian hari terkena bencana. Aktivitas pembangunan wilayah harus dimulai dari awal kembali. Proses pengintegrasian kajian-kajian kebencanaan ke dalam proses penyusunan tata ruang memerlukan penelitian panjang. Karakteristik fisik dan sosial budaya masyarakat yang khas pada setiap bagian wilayah Indonesia membutuhkan penelitian geografis yang panjang. Penyamarataan proses penyusunan tata ruang dengan tanpa meninggalkan analisis pengurangan risiko bencana untuk seluruh wilayah Indonesia berpotensi besar meningkatkan risiko bencana itu sendiri. Contoh nyata adalah proses relokasi penduduk yang terkena bencana alam tak mungkin terkelola (intangible natural disasters) ke lokasi lain yang lebih aman tidak dapat dilakukan dengan metode yang sama untuk wilayah-wilayah yang berbeda di Indonesia karena perbedaan karakteristik sosial budaya masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penelitian-penelitian geografis yang saat ini menjadi tren bukan hanya terkait dengan obyek kajiannya yang saat ini menjadi perhatian berbagai pihak seperti kebencanaan dan perubahan global, namun juga terkait dengan aspek pemanfaatan teknologi pemetaan. Sebagian besar obyek kajian penelitian geografis pada akhirnya disajikan dalam bentuk peta baik dalam bentuk hard copy maupun soft copy (NRC, 2007). Pemanfaatan teknologi pemetaan yang saat ini banyak mendapat perhatian para peneliti untuk identifikasi, pemantauan, dan evaluasi kondisi lingkungan adalah global positioning systems (GPS), penginderaan jauh (RS) dan sistem informasi geografis (GIS). Perkembangan teknologi pemetaan yang terkait dengan teknologi GPS, RS dan GIS sangat terkait dengan perkembangan ilmu komputer dan sistem informasi. Peran ahli geografi lebih banyak terfokus pada pemanfaatannya untuk identifikasi, pemantauan, dan evaluasi kondisi lingkungan yang sangat dibutuhkan oleh ahli komputer dan sistem informasi guna pengembangan lebih lanjut atas teknologi GPS, RS dan GIS yang telah ada saat ini. Pemanfaatan teknologi GPS, RS, dan GIS untuk identifikasi, pemantauan, dan evaluasi kondisi lingkungan tidak dapat dilakukan oleh ahli yang tidak memahami sistem lingkungan secara utuh (Haining, 2003; Sartohadi, Samodra and Hadmoko, 2010). Sistem lingkungan hidup secara utuh yang mencakup sistem fisik dan non fisik lingkungan dipelajari di dalam ilmu geografi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Concluding Remarks&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penelitian geografis mencakup penelitian mengenai obyek-obyek yang merupakan seluruh komponen dari geosfera, yaitu atmosfer, lithosfer, pedosfer, hidrosfer, biosfer dan antroposfer melalui analisis keruangan, kewilayahan, dan kelingkungan. Perkembangan dari waktu ke waktu atas komponen-kompenen geosfera dan hubungan timbal balik antar komponen geosfera serta persebarannya di permukaan bumi menjadi ciri penelitian geografi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemahaman dinamika wilayah secara komprehensif dapat dilakukan oleh ahli geografi. Dinamika wilayah yang ditentukan oleh dinamika fisik dan sosial budaya masyarakat perlu dipahami secara mendalam untuk dapat menyusun kebijakan pengembangan wilayah yang tepat.  Pengambilan kebijakan pengembangan wilayah yang kurang sesuai dengan dinamika wilayah akan meningkatkan risiko bencana.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penelitian geografis adalah penelitian yang cakupannya sangat luas. Hampir tidak mungkin penelitian geografis yang utuh dapat dikerjakan oleh satu orang ahli geografi atau sekelompok kecil ahli geografi. Penelitian geografis yang utuh hanya dapat dilakukan oleh sekelompok besar ahli geografi, untuk itu institusi pendidikan geografi di Indonesia perlu menyusun penelitian besar yang dapat menjadi payung bagi penelitian geografis yang bersifat parsial. Wujud nyata dari penelitian geografis yang utuh berpotensi besar untuk mewujudkan pembangunan nasional yang berwawasan konservasi dan pengurangan risiko bencana.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pustaka Acuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Aitken, S., and G. Valentine, 2006. Approaches to Human Geography. SAGE Publications, London&lt;br /&gt;Blanco, H., and R. Lal, 2008. Principles of Soil Conservation and Management. Springer Science &amp;amp; Business Media B.V&lt;br /&gt;Chapman, K., 1979. People, Pattern, and Process: An Introduction to Human Geography. Pearson Prentice Hall Publ.&lt;br /&gt;Coppola, D. P. 2007. Introduction to international disaster management. Amsterdam ; Boston, Butterworth Heinemann.&lt;br /&gt;Diehl, P.F., 2003. Regional Conflict Management. Rowman &amp;amp; Littlefield Publishers, Inc.&lt;br /&gt;Dierwechter, Y., 2008. Urban Growth Management and Its Discontents: Promises, Practices, and Geopolitics in U.S. City-Regions. Palgrave Macmillan&lt;br /&gt;Ekawati, S.R., J. Sartohadi,  and D.G. Rossiter, 2010. Integrating Geo-Hazard Information into Land Capability Assessment for Spatial Planing: A Case Study in Tawangmangu Sub-District, Karanganyar Regency, Central Java Province. A paper presented in the ICSBE 26-29 May 2010, Indonesian Islamic University of Yogyakarta&lt;br /&gt;Garcia, C., and R.J. Batalla, 2005. Catchment Dynamics and River Processes: Mediterranean and Other Climate Regions. Elsivier.&lt;br /&gt;Gomez, B., and J.P. Jones III, 2010. Research Methods in Geography: A Critical Introduction. John Wiley &amp;amp; Sons, Ltd., Publ.&lt;br /&gt;Goodchild, M.F.  2007. Citizens as sensors: The world of volunteered geography, Journal of Geography 69 (4) (2007), pp. 211–221&lt;br /&gt;Haining, R. P. 2003. Spatial data analysis : theory and practice. Cambridge, UK ; New York, Cambridge University Press&lt;br /&gt;Hizbaron, D.R., M. Baiquni, J. Sartohadi, and Rijanta, 2010. Integration Method of Disaster Risk Reduction into Spatial Plan. Proceeding paper in A paper presented in the ICSBE 26-29 May 2010, Indonesian Islamic University of Yogyakarta&lt;br /&gt;Huddart, D and T. Stott, 2010. Earth Environments: Past, Present and Future. John Wiley &amp;amp; Sons, Ltd&lt;br /&gt;Lavigne, F., B. De Coster, N. Juvin, F. Flohic, J-C. Gaillard, P. Texier, J. Morin, and J. Sartohadi, 2008. People's behaviour in the face of volcanic hazards: Perspectives from Javanese communities, Indonesia. Journal of Volcanology and Geothermal Research 172 (2008) 273–287&lt;br /&gt;Marfai, M.A., L. King, L.P. Singh, D. Mardiato, J. Sartohadi, D.S. Hadmoko and A. Dewi, 2008. Natural Hazards in Central Java Province, Indonesia: an overview. Environmental Geology, Volume 56 (2008), Issue 2, pp.335-351&lt;br /&gt;NRC. 2007. Successful Response Starts with a Map: Improving Geospatial Support for Disaster Management. Retrieved July 5 2010, from http://www.nap.edu/catalog.php?record_id=11793&lt;br /&gt;Potter, T.D., and B.R. Colman , 2003. Handbook of Weather, Climate, and Water: Dynamics, Climate, Physical Meteorology, Weather Systems, and Measurements.  John Wiley &amp;amp; Sons, Ltd.&lt;br /&gt;Salerno, J., S.J. Yang, D. Nau, and S. Chai, 2011. Social Computing Behavioral-Cultural Modeling and Prediction. Proceedings of the 4th International Conference on Social Computing, Behavioral-Cultural Modeling and Prediction, held in College Park, MD, USA, March 29-31, 2011. ISBN 9783642196553&lt;br /&gt;Sartohadi, J., 2011. Soil Geomorphological Approach For Natural Hazard Mapping. Presented paper on Global Soil Mapping Workshop in Bogor-Indonesia. February 2011.&lt;br /&gt;Sartohadi, J., G. Samodra, and D.S. Hadmoko, 2010. GIS Application for Geomorphological Study on the Assessment of Landslide Susceptibility Using Heuristic-Statistic Method: A Case Study In Kayangan Catchment Kulon Progo, Yogyakarta-Indonesia. International Journal of Geoinformatics ISSN 1686-6576, Vol. 6 No. 3 September 2010&lt;br /&gt;Sartohadi, J., D. Mardiatno, and M.A. Marfai, 2009. Coastal Zone Management Due to Abrasion along the Coastal Area of Tegal, Central Java Indonesia. Proceeding of the International Conference on Coastal Environment and Management – for The Future Human Lives in Coastal Regions- 23rd – 24th February 2009,  Shima, Southern Mie Prefecture, Central Japan&lt;br /&gt;Sartohadi, J., and R.C.S. Giyanto, 2007. The Changes of Coastline During the Period 1934 to 2006 in Kulonprogo District, Yogyakarta, Indonesia. A paper for oral presentation in the International Conference on Natural Disaster Mitigation in the Coastal Regions of Tropical Asia. Pattaya- Thailand 3rd November 2007&lt;br /&gt;Sartohadi, J., 2007. Terapan Geomorfologi dalam Pengelolaan Sumberdaya Air. Journal Alami Vol 12 Nr. 1 Tahun 2007. ISSN: 0853-8514&lt;br /&gt;Sartohadi J., 2005a. Pemanfaatan Informasi Bahaya Longsor untuk Penilaian Kemampuan Lahan di Sub DAS Maetan, DAS Luk Ula, Jawa Tengah. Majalah Geografi Indonesia vol 19-1, 2005&lt;br /&gt;Sartohadi, J., 2005b. Model of Settlement Management in Natural Disaster Prone Areas: A Case Study in Eastern Indonesia with special emphasis in Bali, NTB, and NTT Provinces. Poster International Seminar in Urban Management, Yogyakarta, September 2005.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-7902278489149314695?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/7902278489149314695/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2011/07/peran-penelitian-geografis-dalam.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/7902278489149314695'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/7902278489149314695'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2011/07/peran-penelitian-geografis-dalam.html' title='Peran Penelitian Geografis dalam Pembangunan  Berwawasan Konservasi dan Pengurangan Risiko Bencana'/><author><name>Teras Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14732676323560413012</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_jPYUd5dZY8o/TN9Q9GckyrI/AAAAAAAAABk/SEB4NP_haK8/S220/DS.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-7876162634001847724</id><published>2011-06-11T08:22:00.000-07:00</published><updated>2011-06-11T08:22:10.990-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MOS'/><title type='text'>Refleksi Tugas MK MOS</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah mempelajari tugas yang dikerjakan oleh masing-masing kelompok baik pada rombel 1 maupun rombel 2, perlu kami sampaikan hal-hal sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Tugas belum mencerminkan pekerjaan kelompok, hal tersebut ditandai dengan minimnya data-data yang dipaparkan pada tugas yang disusun, dan kurangnya ketidaktahuan anggota kelompok tentang isi tugas yang dikerjakan.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Masing-masing kelompok tidak menunjukkan i'tikad kerja mandiri, sehingga terjadi kasus copy paste terhadap tugas kelompok lain. Masih ada kesamaan tugas antar kelompok.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Tugas yang telah dikomentari oleh dosen pembimbing dan dikembalikan ke kelompok ternyata sampai informasi ini ditulis belum ada perbaikan.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Masih ada kelompok yang malas dalam mendeskripsikan data, ditandai dengan adanya kasus scan data yang langsung ditampilkan pada tugas, tanpa melaksanakan klarifikasi terlebih dahulu.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Paparan data hasil penelitian hanya bersumber dari data monografi kelurahan tanpa dilengkapi dengan prosedur pengumpulan data yang lain, seperti wawancara dan pengamatan. &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sehubungan dengan hal tersebut, tim dosen menilai bahwa pekerjaan belum layak untuk diberikan penilaian. Untuk itu, masing-masing kelompok harus melakukan perbaikan tugas dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Paparan hasil penelitian silahkan dilengkapi dengan data yang diperoleh dari wawancara dan pengamatan, disamping data monografi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Setiap anggota kelompok harus berkontribusi dalam menyusun laporan penelitian.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tugas disusun dan diselesaikan secepatnya sesuai dengan format yang telah diinformasikan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tugas dilengkapi dengan power point, dan dipresentasikan di depan kelas pada hari dan jam: Rombel 01 hari Kamis jam 07.30 WIB di Ruang C5 307, Rombel 02 hari Kamis jam 15.00 di Ruang praktikum Penginderaan Jauh.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Demikian refleksi ini untuk diperhatian. Terima kasih&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-7876162634001847724?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/7876162634001847724/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2011/06/refleksi-tugas-mk-mos.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/7876162634001847724'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/7876162634001847724'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2011/06/refleksi-tugas-mk-mos.html' title='Refleksi Tugas MK MOS'/><author><name>Muh. Sholeh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09255886548890166137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_6BdsiwGInjM/TN5WxEU67NI/AAAAAAAAAHE/3Ty1264IaP0/S220/DSC00124.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-4575440656264133098</id><published>2011-05-16T07:56:00.000-07:00</published><updated>2011-05-16T07:56:54.146-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Geografi Budaya'/><title type='text'>Soal MID Semester Geografi Budaya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Silahkan saudara menjawab beberapa pertanyaan di bawah ini. Jawaban ditunggu paling lambat hari Rabu, 18 Mei 2011.&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--"/&gt;    &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;    &lt;m:dispDef/&gt;    &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;    &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;    &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;    &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;img src="http://img2.blogblog.com/img/video_object.png" style="background-color: #b2b2b2; " class="BLOGGER-object-element tr_noresize tr_placeholder" id="ieooui" data-original-id="ieooui" /&gt; &lt;style&gt;st1\:*{behavior:url(#ieooui) }&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;Geografi budaya merupakan aplikasi ide/gagasan dari budaya terhadap maslah-masalah geografi. Oleh karena itu dalam kajian geografi budaya ada lima tema inti yang perlu dijadikan perhatian. Jelaskan&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Manusia senantiasa merespon gejala atau fenomena yang diberikan alam. Respon manusia tersebut menggunakan budaya sebagai medium. Jelaskan maksud pernyataan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Bagaimana penjelasan &lt;/span&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--"/&gt;    &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;    &lt;m:dispDef/&gt;    &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;    &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;    &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;    &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;Konsep Steward tentang ekologi budaya?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-4575440656264133098?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/4575440656264133098/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2011/05/soal-mid-semester-geografi-budaya.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/4575440656264133098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/4575440656264133098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2011/05/soal-mid-semester-geografi-budaya.html' title='Soal MID Semester Geografi Budaya'/><author><name>Muh. Sholeh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09255886548890166137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_6BdsiwGInjM/TN5WxEU67NI/AAAAAAAAAHE/3Ty1264IaP0/S220/DSC00124.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-6638756593747706747</id><published>2011-04-13T00:41:00.000-07:00</published><updated>2011-04-13T00:50:50.427-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Geografi Budaya'/><title type='text'>Pendekatan Konseptual Ekologi Manusia</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pengantar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ekologi manusia, secara umum dideskripsikan sebagai studi dari interaksi manusia dengan lingkungannya, pada akhir-akhir ini mendapat perhatian yang sangat meningkat dalam semua ilmu-ilmu social. Meskipun demikian, kenyataannya hanya ada sedikit persamaan persepsi tentang apa sebenarnya dan bagaimana seharusnya ekologi manusia itu. Secara khusus ada diskusi yang serius dan berkesinambungan tentang penerapan yang sesuai dari pendekatan teoritis yang bermacam-macam itu untuk mengerti interaksi manusia dengan lingkungannya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara adanya perbedaan – perbedaan dari dasar pandang dalam disiplin ilmu yang menunjukkan tingkat kegiatan yang masih baru mulai, hal itu juga dapat menghadirkan adanya hambatan-hambatan untuk mencapai pengertian dalam bentuk dan arah yang utuh dari bidang studi ini bagi nonspesialis. Masalah ini menjadi lebih parah dengan seringnya ada sifat polemic dengan pernyataan-pernyataan yang telah diatur berkaitan dengan ekologi manusia. Banyak penulis melakukan pendekatan dengan diskusi-diskusi teoritis seakan-akan mereka berurusan dengan masalah teologi, menggunakan model-model mereka sendiri sebagai satu-satunya yang benar sementara mereka menyingkirkan pendekatan-pendekatan lain yang dianggapnya, kuno, keras kepala atau bahkan tak bermoral. Cara penyingkiran yang di luar control ini pada suatu waktu dianggap pantas tetapi juga mempunyai kecenderungan untuk mengaburkan adanya alternatif pendekatan-pendekatan konseptual yang sudah baku.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam laporan ini, alternative model – model konseptual bagi hubungan manusia dengan lingkungannya dideskripsikan dalam urutan histories dimana mereka muncul dalam literature ilmiah. Pendekatan kronologis seperti ini membantu untuk mendapatkan gambaran adanya saling pengaruhi antara hasil-hasil reset dan formulasi konsep teoritis. Tidak ada superioritas yang dihubungkan disini kecuali paradigma perkembangan mutakhir. Kenyataannya model-model tertentu yang popular akhir-akhir ini barangkali dipandang sebagai gerak mundur dari titik tolak perkembangan teori ilmiah sebagai keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Meskipun diantara ilmuwan ilmu social mendiskreditkan teori yang klasik atau teori modern yang masih awal-awal tentang pengaruh lingkungan terhadap masalah manusia (determinisme dan posibilisme), teori-teori ini sering digunakan oleh para ahli sejarah. Seorang ahli sejarah yang terkemuka seperti Arnold J. Toynbee, yang menggunakan pendirian ahli posibilis dalam bukunya yang sangat berpengaruh “A Study of History”.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Model dari ekologi budaya yang dikemukakan oleh Julian Steward masih merupakan paradigma yang memandu banyak peneliti, tetapi pada akhir-akhir ini telahtertantang oleh model dasar ekosistem yang dikemukakan oleh Andrew P. Vayda dan Roy A. Rappaport.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ciri-ciri pembuat keputusan yang individual adalah focus dari model-model dasar pelaku dari ekologi manusia, dan sistem-sistem model dari ekologi manusia menekankan penelitian dari interaksi antarasistem social manusia dan ekosistem-ekosistem berdasar pada saling robah yang timbale balik dari energi, materi dan informasi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;The Origin Of Human Ecology&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejak masa dulu telah banyak usaha untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa berkaitan dengan pengaruh lingkungan terhadap perilaku manusia. Astrology menyampaikan satu sistem pemikiran awal berkaitan dengan kekuatan lingkungan terhadap tindakan manusia. Meskipun sistem ini sama sekali dideskreditkan oleh teori ilmiah astronomi modern, kepercayaan bahwa gerak-gerak bintang mengontrol nasib manusia masih tetap kuat dipegang oleh imaginasi popular, sebagai bukti dapat ditunjukkan dengan masih munculnya kolom nasihat-nasihat astrologis dalam harian-harian.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang paling sesuai dengan pemikiran ilmiah modern adalah bahwa para filosof Yunani kuno mengenali/ mengetahui bahwa manusia itu dipengaruhi baik oleh alam maupun oleh kekuatan untuk berubah dalam lingkungannya. Di situ dinyatakan, sebagi contoh bahwa berbagai bentuk organisasi politik dari negarakota di Yunani dan di kekaisaran di Timur merefleksikan adanya pengaruh-pengaruh dari musim pada kepribadian dari penduduknya. Tema ini kemudian dikembangkan oleh Montesquieu dan para penulis Masa Pencerahan/ Enlightenment Perancis dan pada masa-masa akhir digunakan oleh ahli geografi Amerika Samuel Huntington. Penulis-penulis klasik yang lain berkomentar terhadap adanya kerusakan pemandangan alam di Attica dan di Afrika Utara yang diakibatkan karena penebangan hutan dan overgrazing, sebauh tema yang diambil pada pertengahan 1800-an oleh George P. Marsh, yang bukunya “Man and Nature” atau Phisical Geography as Modified by Human Action” adalah tulisan-tulisan yang akhir-akhir ini popular yang membuktikan adanya kehancuran ekologi. Tulisan-tulisan awal ini, pada umumnya lebih merupakan anecdote yang tidak menyajikan teori hubungan-hubungan manusia dan lingkungannya secara koheren. Baru pada akhir abad XIX, dengan perkembangan geografi dan antropologi sebagai disiplin ilmu, ekologi manusia menjadi subyek studi yang sistematik. Pendekatan teoritis yang pertama dicoba adalah determinisme lingkungan – suatu permulaan yang keliru yang sangat memperlambat perkembangan ekologi manusia yang berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Environmental Determinism&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kira-kira pada pergantian abad ini, seorang geographer terkenal yang bernama Friedrich Ratzel di Jerman dan murid Amerikanya, Ellen C. Semple, mendukung pendapat bahwa manusia itu sepenuhnya adalah produk dari lingkungannya, suatu teori yang disebut determinisme lingkungan. Pengikut dari aliran ini, yang mendominasi dengan baik pemikiran geografis sampai th. 1920-an, menyatakan bahwa semua aspek dari budaya dan tingkah laku manusia disebabkan oleh pengaruh lingkungan secara langsung (gb. 1). Misalnya, orang Inggris adalah pelaut karena mereka hidup di tempat tinggal yang dikelilingi oleh laut; orang Arab adalah orang yang beragama monoyeis Islam karena hidup di tengah padang pasir yang kosong yang mengarahkan pemikirannya kepada Tuhan YME; orang Eskimo adalah bangsa nomad yang primitive karena kondisi habitat kutubnya yang keras yang menghambat perkembangan mereka menjadi bangsa dengan peradaban yang kompleks. Buku Semple dan yang lainnya penuh dengan daftar contoh yang panjang yang nampaknya merupakan determinan lingkungan dari bentuk-bentuk budaya yang masuk akal. Meskipun sebagai hal yang baru nampaknya menarik, tetapi klaim dari korelasi sebab antara lingkungan dan budaya ini dengan mudah disangkal apabila digunakan pertimbangan yang hati-hati. Misalnya, orang Tasmania yang tinggal di sebuah pulau tidak seperti orang Inggris, mereka tidak membuat kapal; suku-suku Arab yang berkelana di padang pasir yang sepi selama ribuan tahun sebelum datangnya Muhammad adalah penyembah patung-patung; padang es yang pada waktu lampau menjadi jalur kereta salju orang Eskimo sekarang merupakan daerah kegiatan balap mobile s sepanjang pipa-pipa minyak raksasa. Ada berbagai variasi dari perilaku manusia yang kira-kira sama dengan setting geografis yang dengan demikian merupakan determinan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Environmental Possibilism&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagai ganti dari determinisme, suatu teori baru yang disebut possibilisme lingkungan, dikemukakan. Penduduknya menyatakan bahwa sementara lingkungan tidak secara langsung mempengaruhi perkembangan khusus dari budaya, kehadiran atau ketiadaan dari factor lingkungan yang khusus menentukan batas-batas pada perkembangan dengan memungkinkan atau mencegah terjadinya perkembangan tersebut (gb. 2). Dengan demikian, orang-orang di daerah kepulauan mungkin bukan; penduduk daerah bertemperatur sedang barangkali mempraktekkan pertanian, tetapi mereka yang tinggal di kutub tidak dapat. Nilai dari pendekatan posibilistis barangkali ditunjukkan dengan baik sekali oleh seorang antropolog Amerika A. L. Kroeber, yang menunjukkan bahwa orang Indian di barat laut Amerika Utara tidak dapat menerapkan bertani jagung Indian seperti tetangganya di selatan karena sifat musimnya yang berbeda. Dengan demikian lingkungan membatasi kemampuan dari budayanya kea rah suatu perkembangan budaya tertentu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pendirian posibilis juga diambil oleh sejarahwan Inggris Arnold Toynbee dalam bukunya “A Study in History”, dimana dia berpendapat bahwa perkembangan peradaban dapat dijelaskan dalam kaitannya dengan respons terhadap tantangan lingkungan. Budaya yang berada di daerah tropis yang lunak gagal berubah karena tidak cukup tertantang oleh lingkungannya; sedang yang berada di habitat yang keras seperti orang Eskimo di daerah kutub tetap tinggal primitive karena budayanya semata-mata untuk mengatasi tantangan lingkungannya yang melemahkan energi mereka yang kreatif. Hanya budaya-budaya dalam lingkungan yang menawarkan kemungkinan yang mencukupi dan tidak merupakan tantangan yang berlebihan yang menpunyai kemungkinan maju kea rah tingkat peradaban yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aliran posibilisme mempunyai kelemahan sebagai teori ilmiah, karena teori ini kurang mempunyai kekuatan untuk memberikan prediksi dan penjelasan secara umum karena ilmu ini hanya mampu menjelaskan mengapa perkembangan-perkembangan tertentu tidak cepat terjadi pada lingkungan tertentu. Teori ini sama sekali tidak mampu membuat prediksi apakah sesuatu dapat terjadi atau tidak dapat terjadi di bawah suatu keadaan lingkungan yang menggantungkan. Misalnya, kegagalan orang Eskimo untuk bertanam jagung dapat dijelaskan, tetapi aliran posibilisme tidak dapat menjelaskan mengapa orang Inggris lebih banyak yang menjadi pelaut sedangkan orang Tasmania tidak. Jelasnya, perbedaan pada kasus yang akhir itu bukan karena refleksi pengaruh lingkungan tetapi karena adanya tradisi budaya dan pengetahuan teknologi yang berbeda. Dengan ringkas, seperti Daryll Forde simpulkan dalam bukunya “Habitat, Economy, and Society” (1934), “diantara lingkungan fisik dan aktivitas manusia selalu ada terminology tengah, kumpulan dari tujuan dan nilai tertentu, pengetahuan dan kepercayaan: dengan kata lain, pola kebudayaan”.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;The Concept Of Cultural Ecology&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Meskipun papernya yang pertama diterbitkan pada awal 1930-an, baru pada tahun 1950-an konsep Julian Steward mempunyai pengaruh yang nyata pada antropologi Amerika. Meskipun dia dalam aliran diffusionist, pengalamannya dalam studi lapang diantara orang Indian pemburu dan peramu suku Shoshon di Great Basin di Amerika Utara telah membawanya mengenali bahwa adaptasi ekologi telah memainkan peranan penting sebagai penyebaran formasi budaya Shoshon. Gambaran dari metode teori bahwa para ahli ekologi biologi telah mengembangkan studi adaptasi dari spesies hewan, khusus dikaitkan pada organ tertentu yang berubah karena lingkungan, Steward berusaha untuk menjelaskan aspek struktur tertentu dari budaya Shoshon dalam kaitan sumberdaya yang tersedia dalam habitat semi padang pasir yang miskin. Steward (1938) memberikan kasus yang menyakinkan bahwa rendahnya kepadatan populasi Shoshon, organisasi social yang terdiri dari keluarga-keluarga kecil yang tersebar luas dan pola perumahan yang fleksibel dengan tanpa faham teritori, dan kurangnya pimpinan kuat yang permanent, semua itu merefleksikan ketidakmampuan teknologi Shoshon untuk mendapatkan persediaan pangan yang cukup secara mantap dari sumberdaya yang tersebar dan sporadic dari lingkungan gersang itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pendapat Steward menyatakan bahwa tidak semua aspek budaya Shoshon dapat dijelaskan dalam term ekologi - - banyak cirri yang ada hanya sebagai akibat kebetulan dari penyebaran suku-suku yang bertetangga - - tetapi ada beberapa elemen yang disebutnya sebagai “cultural core”, menunjuk adanya adaptasi. Secara khusus disebutnya, teknologi, ekonomi, populasi, dan organisasi social sepertinya merupakan core budaya itu, meskipun dia menekankan perlunya menunjukkan hal ini pada setiap kasus secara empiri. Ia cenderung memberi tekanan pada adanya hubungan antara teknologi dan lingkungan dalam modelnya tentang ekologi budaya (gb. 3).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seorang antropolog Amerika Clifford Geertz (1968) telah menerapkan konsep Steward dalam ekologi budaya untuk menjelaskan perbedaan demografi yang besar yang ada antara Jawa dan Luar Jawa. Jawa adalah daerah terpadat di dunia, yang berpenduduk 2.000 orang/km pada beberapa bagian pulau itu. Sebaliknya di pulau lain penduduknya rata-rata hanya 25 orang/km. Geertz menyatakan bahwa variasi penduduk ini merefleksikan adanya adaptasi pertanian yang berbeda yang diterapkan dalam kedua daerah itu, yang berkaitan dengan adanya perbedaan lingkungan (tabel 1).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Konsep Steward tentang ekologi budaya telah terbukti menjadi strategi yang kuat dan efektif dari reset ekologi manusia, yang menawarkan pengertian baru bagaimana masyarakat tradisional beradaptasi secara efektif pada lingkungannya. Sukses ini diperoleh karena terutama pada kajian yang berskala kecil, yaitu masyarakat primitive, khususnya dimana hubungan stabil telah terbentuk diantara populasi yang statis dan lingkungan yang tidak berubah. Konsep itu kurang dapat diterapkan pada masyarakat modern yang kompleks dimana tindakan dari populasi manusia pada umumnya menghasilkan perubahan lingkungan yang cepat dengan konsekwensi dibutuhkannya readaptasi dari core budaya. Sebagaimana diyakinkan oleh Steward dan digunakan oleh yang lain, model ekologi budaya mempunyai kekurangan dalam konseptualisasi yang sistematik dari lingkungan atau dari cara dimana aktivitas manusia bergeseran dengannya. Dengan demikian, tekanannya hampir secara eksklusif pada segi manusianya dari persamaan lingkungan manusia, difokuskan pada adaptasi budaya sementara itu diabaikan perubahan lingkungan sebagai respons dari intervensi manusia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kelemahan dasar dari konsep ekologi budaya muncul dalam karya Marvin Harris, seorang antropolog Amerika yang telah memasukkan pendekatan ini dalam studi “techno-environmental determinism”. Aliran ini mempunyai asumsi bahwa makna adaptasi teknologi terhadap lingkungan adalah penggerak utama dari evolusi budaya, Harris menyatakan bahwa bentuk-bentuk yang diambil oleh aspek-aspek budaya yang lain ditentukan oleh hubungan antara teknologi dan lingkungan. Dalam papernya “The Cultural Ecology of India’s Sacred Cattlr” (1956), Harris berpendapat bahwa berlawanan dengan pendapat yang diterima bahwa masyarakat Hindu tetap mempertahankan terus-menerus jumlah ternaknya yang itu tidak memberikan manfaat karena kepercayaan agamanya bahwa ternak itu suci, sebenarnya sapi-sapi ini sangat memberikan kesejahteraan ekonomis bagi petani miskin, menolong mereka untuk memberikan manfaat maximal dari sedikitnya sumberdaya dari lingkungannya. Oleh karena itu dia menyimpulkan, bahwa kepercayaan agama harus disebabkan oleh factor teknologi lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Kelemahan besar dari pendapat Harris adalah bahwa sapi-sapi itu memberi manfaat besar bagi orang India karena beberapa hal (sapi jantan untuk sawah dan kotorannya untuk membuat api dan pupuk), sedangkan sapi itu tidak mengganggu pangan manusia. Harris tidak memikirkan bagaimana sapi-sapi itu merusak lingkungan dan mengganggu kehidupan manusia. Harris menyebutkan kasus dilarangnya muslim makan babi adalah karena babi itu sulit beradaptasi dengan lingkungan yang kering yang merupakan kekhasan tanah Arab. Dalam kenyataan, kepercayaan agama itu berlaku dan menyebar pada lingkungan baru dimana aturan itu muncul dan merupakan hal yang tidak secara ekologis rasional. Karena muslim yang ada di Indonesia dan Malaysia juga dilarang makan babi, padahal kawasan itu merupakan habitat yang sesuai dengan babi.&lt;br /&gt;Pada diskusi sebelumnya tentang batasan-batasan konsep dari ecology budaya, reset tentang hubungan manusia dan lingkungan memerlukan kerangka kerja yang memperhatikan secara adekwat pada kemungkinan terjadinya perubahan dan penurunan lingkungan yang terjadi karena aktivitas manusia. Adaptasi budaya tidak dapat dilihat sebagai sesuatu yang statis, yang diperoleh pada awal sejarah kebudayaan dan kemudian tetap tidak berubah seterusnya. Sebaliknya hubungan antara manusia dengan alamnya adalah suatu dinamika dimana baik budaya maupun lingkungan terus-menerus beradaptasi dan readaptasi ketika sesuatu berubah yang merupakan respons terhadap pengaruh yang lain. Ini adalah pengenalan untuk adanya model yang lebih dinamis dari sisi lingkungan dari adanya hubungan yang membawa pada adanya formulasi dari model dasar ekosistem dari ekologi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;The Ecosystem – Based Model Of Human Ecology&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan pendekatan terhadap konsep sistem ekologi yang telah diformulasikan oleh para ecologist biologi sesuadah PD II, antropolog Amerika Andrew Vayda dan Roy Rappaport menyatakan bahwa selain mempelajari bagaimana budaya itu diadaptasi pada lingkungan, perhatian harus difokuskan pada hubungan dari populasi manusia tertentu terhadap ekosistem tertentu. Dalam pandangan ini, manusia hanya merupakan populasi yang lain diantara populasi tanaman dan spesies-spesies hewan yang berinteraksi satu sama lain dan juga dengan komponen non-organis dari ekosistem lokalnya. Jadi, ekosistem, bukanya budaya, merupakan unit analisa yang mendasar dalam kerangka kerja konseptual mereka pada ekologi manusia (gb. 4). Ciri-ciri budaya adalah penting sejauh mereka dapat ditunjukkan untuk menyumbang survivalnya populasi dalam konteks ekosistem.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penelitian Vayda dan Rappaport yang dilaporkan dalam bukunya “Pigs for The Ancestors” menjelaskan hal ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ini merupakan model khusus dari interaksi antara ritual, populasi manusia dan komponen ekosistem yang lain, yang barangkali bukan yang valid yang merupakan refleksi dari pendekatan konseptual yang khusus yang diterapkan, bukan merupakan suatu penolakkan dari pandangan yang lebih mendasar bahwa ritual agam itu dapat menjadi secara ekologis signifikan seperti aspek teknologi dari budaya yang ditekankan oleh Steward.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;The Actor-Based Model Of Human Ecology&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam menghadapi problem empiri untuk mendefinisikan unit social dari adaptasi ekologis, telah dianjurkan bahwa adaptasi terjadi lebih pada tingkat individu daripada pada tingkat budaya atau populasi. Model dasar pelaku dari ekologi manusia, seperti yang telah ditetapkan oleh Orlove (1980), telah menjadi gelombang baru yang besar dalam ekologi manusia. Model ini merefleksikan baik perhatian umum para antropolog maupun proses pembuatan keputusan secara individual. Pusat perhatian para biolog aliran evolusi menyatakan bahwa seleksi alam bekerja secara eksklusif pada tingkat organisme individual. Dari perspektif ini pada organisasi pada tingkat yang lebih tinggi, apakah itu masyarakat, ekosistem, atau sistem social manusia, hadir hanya sebagai hasil kebetulan diantara banyak organisme individual.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam kasus masyarakat manusia, adaptasi lingkungan terlihat sebagai berlaku bukan sebagai akibat dari seleksi alam dalam social budaya tetapi lebih sebagai hasil keputusan bersama ribuan manusia tentang bagaimana berinteraksi yang terbaik dengan lingkungannya. Individu diasumsikan untul secara tetap membuat pilihan tentang bagaimana mengeksploiter sumberdaya yang tersedia, dan pada waktu yang sama mengatasi bencana yang ada dalam lingkungannya. Siapa yang membuat pilihan dengan benar akan survive dan sejahtera, yang memilih secara salah akan mengalami sebaliknya. Dengan berjalannya waktu, strategi yang lebih adaptif akan dibakukan sebagai norma budaya. Norma-norma itu, sebenarnya tidak lebih dari hasil statistic dari pilihan individual yang tidak mempunyai realitas sendiri dan merupakan konsep biasa dari ilmiawan social (gb. 5).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagai contoh, analisis dasar pelaku dari Tsembaga mungkin menjelaskan siklus ritual dari pembunuhan babi yang dilaporkan oleh Rappaport hanyalah suatu hasil keputusan secara terpisah dari ratusan orang Tsembaga untuk memaksimalkan penggunaan sumberdaya yang terbatas dalam masyarakat itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Meskipun model dasar pelaku dari ekologi manusia telah diterapkan secara berhasil dalam menjelaskan pilihan para petani mengenai hubungan dengan lingkungannya, hal itu tergantung pada sejumlah asumsi tentang manusia dan masyarakat. Kenyataan bahwa petani Thai mampu memilih yang mana varietas padi yang menghasilkan paling baik sesuai dengan kondisi lingkungan local tidak dapat diambil sebagai bukti bahwa manusia secara umum atau biasanya membuat pilihan yang benar mengenai interaksinya dengan lingkungannya. Menerapkan model actor – based pada ekologi manusia, pendekatan konseptual Adam Smith dengan asumsi yang implicit bahwa petani secara individual membuat keputusan dalam cara perhitungan ekologis yang rasional. Andrew Vayda dan McCoy, secara khusus memungkiri pendapat teoritisnya yang dulu bahwa adalah populasi local yang beradaptasi pada ekosistemnya, pendapat sekarang adalah bahwa individu dalam masyarakat tradisional pada umumnya membuat keputusan yang benar tentang bagaimana menggunakan sumberdaya alam sedemikian rupa hingga keputusan itu menjadikan hubungan lingkungan yang stabil.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara itu tidak ada antropolog yang ragu-ragu bahwa manusia tradisional mempunyai pengetahuan yang akurat tentang lingkungannya secara detail, yang membuat mereka membuat keputusan yang rasional tentang penggunaan sumberdaya dan bagaimana mengatasi bencana alam, ini harus ada tekanan yang kuat bahwa tidak ada tuntutan yang inheren bahwa akhirnya mesti demikian. Dalam banyak situasi, semacam “the tragedy of the common” yang dideskripsikan oleh Garrit Hardin (1968), efek dari sejumlah keputusan individu, yang semuanya rasional dari segi si actor, yang ternyata merusak kapasitas lingkungan, dengan demikian menurunkan kesejahteraan dari seluruh masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh karena individu harus membuat keputusan dalam konteks budaya tertentu, semua pilihan adalah merupakan sistem nilai - - pernyataan yang menentukan yang mana way of life yang dipilihnya. Nilai semacam itu merupakan milik dari sistem social itu, bukan lagi milik actor yang hidup di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Individu dalam masyarakat Tsembaga berusaha mengembangkan jumlah babinya, bukan karena hal itu merupakan strategi adaptasi pada lingkungannya, tetapi karena memiliki babi banyak menaikkan statusnya dalam masyarakatnya. Petani Thai menanam varietas padi tertentu karena dia memperhitungkan hasil terbaik panenannya. Orang Thai tidak membuat pilihan dengan meningkatkan ternak babinya dan orang Tsembaga tidak memilih menanam padi varietas tertentu, karena keputusan-keputusan itu bukan merupakan kerangka kerja dari budaya yang dijunjungnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Barangkali saja orang Tsembaga justru menderita karena banyaknya atau sedikitnya babi atau orang Thai menderita karena menanam jenis padi tertentu - - sistem social mengizinkan individu untuk bebas memilih. Mereka mungkin mencoba untuk menuju situasi yang lebih baik, tetapi secara normal mereka tidak memilih untuk menulis peraturan dasar dari aturan mainnya itu karena mereka ditentukan oleh budayanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;The System Model Of Human Ecology&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perkembangan besar ilmu akhir-akhir ini adalah formulasi dari “general system theory”, yang memusatkan perhatian pada milik umum dari struktur dan fungsi dari sistem, sedemikian rupa, dan bukan kandungan ilmu itu sendiri. Tulisan Emile Durkheim, seorang sosiolog Prancis, “Form of Religious Life” (1915), memberikan dasar dari perkembangan model sistem social yang structural fungsional, yang telah menjadi paradigma antropolog dan sosiolog Amerika dan Inggris.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Struktural-fungsionalisme, mula-mula sebagai teori disampaikan oleh Radcliffe-Brown (1965) dan B. Malinowski (1922), dan secara empiris dikenbangkan oleh E.E. Evans-Pritchard (1940) serta secara khusus oleh Sir Raymond Firth (1936), melihat semua institusi masyarakat yang bermacam-macam sebagian diorganisasikan ke dalam sistem yang terintegrasi, dimana setiap institusi sesuai secara harmonis dengan setiap yang lain, dan dimana perubahan secara komplememter dalam seluruh institusi yang terkait secara fungsional.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan demikian, apa-apa yang kita lihat sebagai sistem yang aneh dalam masyarakat tribal, sekarang kita kenal sebagai sesuatu yang berperan secara fungsional untuk solidaritas masyarakat tribal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Problem dari konsep sistem social sebagaimana dikembangkan oleh para fungsionalis social bukan pada pendalilan mereka tentang integrasi diantara komponen yang ada, tetapi pada kegagalan mereka untuk menjadikan sistem itusebagai sistem yang terbuka.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suatu pendekatan alternatif “system model of human ecology”, mendeskripsikan sistem social ketika mereka berinteraksi dengan sistem ekologi. Adaptasi diasumsikan berlangsung, bukan pada tingkat cirri-ciri budaya yang berlainan atau institusi social - - seperti pada model ekologi budaya - - atau dalam kaitan dengan populasi manusia secara khusus - - seperti pada model dasar ekologi manusia - - atau dalam kaitan pembuat keputusan oleh individu secara khusus - - seperti pada model actor-based dari ekologi manusia - - tetapi pada tingkat sistem sosial yang menyeluruh sebagai sistem.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gambar 6 adalah diagram yang disederhanakan dari struktur dasar dan hubungan fungsional dalam model sistem ekologi manusia. Model ini menekankan adanya 4 aspek secara berimbang :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Input dari ekosistem ke social sistem – Input ini dapat dalam bentuk arus energi (pangan, mimyak), materi (protein, materi konstruksi), atau informasi (suara, rangsangan yang bisa dilihat).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Input dari sistem sosial ke dalam ekosistem – lagi-lagi, ini dapat mengambil bentuk dari arus energi, materi atau informasi yang berasal dari manusia.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Perubahan dalam institusi yang merubah sistem sosial manjadi primer, seperti apabila meningkatnya tingkat kematian dikarenakan penyakit yang oleh lingkungan ditularkan yang merubah struktur populasi dari masyarakat, atau sebagai sekunder, ketika institusi sistem sosial yang lain berubah sebagai respon dari lingkungan yang berasal dari perubahan primer dari suatu institusi.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Perubahan dalam ekosistem sebagai respon ke input dari sistem social – Ketika masyarakat social berubah sebagai respons dari pengaruh lingkungan, dengan demikian ekosistem berubah sebagai respons terhadap pengaruh manusia. Perubahan demikian bisa merupakan yang primer - - bila pengaruh langsung dari aktivitas manusia dalam komponen ekosistem seperti pembunuhan terhadap spesies hewan tertentu oleh karena perburuan yang melewati batas, atau sekunder, perubahan dalam komponen ekosistem yang lain yang disebabkan karena perubahan antropogenic dalam satu komponen.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Conclusion&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Haruslah diberi tekanan bahwa sementara model sistem menyediakan kerangka kerja untuk analisis interaksi manusia dengan lingkungan, ini tidak diniatkan dan tidak pernah digunakan untuk menjadi model reset operational. Yaitu, tidak ada peneliti yang semata-mata menggunakan model ini sebagai dasar untuk membuat deskripsi yang holistic dari interaksi suatu masyarakat tertentu dengan ekosistemnya. Seluruh deskripsi semacam itu akan tidak bermanfaat dan tidak dapat dilakukan dalam praktek pada sistem social dan ekologi baik yang komplek maupun yang sederhana.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ini bukan merupakan sistem deskripsi demi untuk deskripsi, tetapi lebih merupakan anjuran untuk mulai kerja dengan problem yang khusus sebagai focus reset. Kembali pada contoh terdahulu tentang penebangan hutan di India, seorang dapat bertanya: Mengapa petani India banyak menebang pohon? Seseorang dapat mulai dengan pertanyaan: Bagaimana kesuburan tanah dapat diperbaiki? Atau: Bagaimana suplai air irigasi dapat ditingkatkan? Atau: Seperti apa pengaruh social dan ekologi dalam memperkenalkan generator biogas pada masyarakat kawasan rural? Pilihan dari pertanyaan ini seperti merefleksikan orientasi problem yang sudah ada lebih dulu pada peneliti (mis: ahli hutan akan lebih dahulu berurusan dengan penebangan pohon). Penerapan model sistem sebagai kerangka kerja, mungkin dapat membantunya mendapatkan persepsi bahwa pemecahan bagi problemnya mungkin terletak pada perbatasan dari hutan, yang memerlukan ketetapan dari sumber energi alternative bagi orang desa sebelum penghijauan mungkin dapat dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nilai yang nyata dari ekologi manusia terletak pada bagaimana dapat membantu manusia melihat hubungan yang tidak dikenalnya antara apa yang manusia lakukan dan lingkungan dimana mereka melakukan hal tersebut. Banyak insight yang penting yang telah tersedia, bagaimana manusia berfikir tentang dunia dan tempatnya di dalamnya dapat sangat berubah. Reset sistematik mengenai ekologi manusia sebenarnya baru mulai, dan masih luas sekali daerah yang terabaikan untuk mendapatkan pengertian. Oleh karena itu bidang ini secara intelektual menarik untuk dikerjakan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-6638756593747706747?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/6638756593747706747/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2011/04/pendekatan-konseptual-ekologi-manusia.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/6638756593747706747'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/6638756593747706747'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2011/04/pendekatan-konseptual-ekologi-manusia.html' title='Pendekatan Konseptual Ekologi Manusia'/><author><name>Teras Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14732676323560413012</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_jPYUd5dZY8o/TN9Q9GckyrI/AAAAAAAAABk/SEB4NP_haK8/S220/DS.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-591075842321647518</id><published>2011-04-05T12:36:00.000-07:00</published><updated>2011-04-05T12:39:09.157-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Geografi Sosial'/><title type='text'>Pemanfaatan Sumber Daya Alam</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nafsu manusia paling besar adalah memenuhi kebutuhan, bahkan lebih dari itu manusia senantiasa mencari kepuasan yang tidak ada batasnya. Untuk itu manusia berupaya semaksimal mungkin dalam memenuhi setiap kebutuhan (dan keinginannya) dengan cara paling tradisional sampai paling kotemporer. Cara paling tradisional adalah memanfaatkan alam, dalam hal ini adalah sumber daya alam. Sumber daya adalah penyedia paling setia dan patuh dalam memenuhi nafsu besar manusia karena sumber daya alam mempunyai kemampuan dalam menyediakan, dan menunjang kebutuhan manusia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Sumber daya adalah segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang dan membantu aktivitas manusia. Hagget (1983) mendefinisikan sumber daya sebagai sejumlah komponen material dari lingkungan, yang nmeliputi masa dan energy, benda biologis dan non biologis, dapat ditetapkan sebagai keseluruhan persediaan (total stock). Adapun sumber daya alam dapat didefinisikan sebagai segala yang ada di bumi yang dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk mencapai kesejahteraan. Sumber daya alam adalah semua unsure tata lingkungan biofisik yang dengan nyata atau potensial dapat memenuhi kebutuhan manusia. Sumber daya alam dapat dikelompokkkan dalam beberapa katagori:&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Berdasarkan kelestariannya dapat dibedakan menjadi sumber daya alam yang dapat dilestarikan dan sumber daya alam yang tidak dapat dilestarikan.&lt;br /&gt;Berdasarkan letaknya dapat dibedakan sumber daya alam yang letaknya di darat dan sumber daya alam yang letaknya di perairan.&lt;br /&gt;Berdasarkan sifatnya dibedakan menjadi sumber daya alam yang bersifat ekonomis dan sumber daya alam yang non ekonomis.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masih ada kemungkina lain dalam megkatagorikan sumber daya alam, dan itu sah-sah saja, karena ilmu pengetahuan terus mengalami dinamika akibat proses komunikasi dan factor-faktor pendorong perubahan.Pada kondisi inilah, manusia melakukan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan hidupnya, maka interaksi intensif berlangsung. Manusia memang tidak dapat dipisahkan dengan lingkungan sekitar. Lingkungan dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Lingkungan alamiah (natural), yaitu lingkungan yang masih menunjukkan sesuatu yang bersifat alami, seperti hutan, perairan sungai, danau, maupun kehidupan karang di laut.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lingkungan buatan (fisik), yaitu lingkungan yang muncul sebagai akibat perbuatan manusia, seperti kawasan pemukiman, kompleks perkantoran, jembatan, dan jalan raya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lingkungan manusia, yaitu hubungan timbale balik antar manusia yang menghasilkan pola kehidupan yang seimbang, dan dinamis.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berbicara tentang lingkungan, maka tidak lengkap kalau kita meninggalkan lingkungan hidup. Lingkungan hidup adalah keadaan/kondisi yang melingkupi suatu mahluk hidup Keseluruhan keadaan yang meliputi suatu mahluk hidup atau sekumpulan mahluk hidup, terutama:&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Kombinasi dari berbagai kondisi fisik di luar mahluk hidup yang mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan dan kemampuan mahluk hidup untuk bertahan hidup.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Gabungan dari kondisi sosial budayabudaya yang berpengaruh pada keadaan suatu individu mahluk hidup atau suatu perkumpulan/komunitas mahluk hidup.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lingkungan hidup bagi bangsa Indonesia tidak lain merupakan Wawasan Nusantara, yang menempati posisi silang antara dua benua dan dua samudera dengan iklim tropis dan cuaca serta musim yang memberikan kondisi alamiah dan kedudukan dengan peranan strategis yang tinggi nilainya, tempat bangsa Indonesia menyelenggarakan kehidupan bernegara dalam segala aspeknya. Ruang lingkup lingkungan hidup Indonesia meliputi ruang, tempat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ber-Wawasan Nusantara dalam melaksanakan kedaulatan, hak berdaulat, dan yurisdiksinya.&lt;br /&gt;Menurut UU Nomor 23 Tahun 1997, lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.&lt;br /&gt;Indonesia sendiri terikat dengan persetujuan internasional tentang lingkungan hidup. Indonesia termasuk dalam perjanjian: biodiversitas, perubahan iklim, desertifikasi, spesies yang terancam, sampah berbahaya, hukum laut, larangan ujicoba nuklir, perlindungan lapisan ozon, polusi kapal, perkayuan tropis 83, perkayuan tropis 94, dataran basah, perubahan iklim - protokol kyoto (UU 17/2004), perlindungan kehidupan laut (1958) dengan UU 19/1961.&lt;br /&gt;Masalah lingkungan hidup di Indonesia setidaknya berwujud bahaya alam yang terdiri dari banjir, kemarau panjang, tsunami, gempa bumi, gunung berapi, kebakaran hutan, gunung lumpur, tanah longsor. Adapun masalah lingkungan hidup aktual adalah:&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Penebangan hutan secara liar&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Polusi air dari limbah industri dan pertambangan &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Polusi udara &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Asap dan kabut dari kebakaran hutan &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kebakaran hutan permanen&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perambahan suaka alam/suaka margasatwa &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perburuan liar&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perdagangan dan pembasmian hewan liar yang dilindungi &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penghancuran terumbu karang &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pembuangan sampah B3/radioaktif &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pembuangan sampah tanpa pemisahan/pengolahan &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Semburan lumpur liar di Sidoarjo &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hubungan manusia dengan lingkungan semakin ekstensif. Dampaknya tentu dapat dirasakan oleh hamper seluruh masyarakat. Mestinya perlu ada pengendalian. Sebab jika tidak ada pengendalian, dampaknya tentu semakin meluas. Dengan sifat serakahnya manusia terus memenuhi hasrat nafsunya, termasuk membabat hutan. Data dari greenomic (Kompas tanggal 7 Mei 2008 menunjukkan data perubahan alih fungsi hutan hutan secara ilegal adalah:&lt;/div&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Riau&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : 143 000 Ha&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;NAD&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; : 160 000 Ha&lt;br /&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Kalbar&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : 286 000 Ha&lt;br /&gt;4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Kalteng&amp;nbsp;&amp;nbsp; : 225 000 Ha&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Luas tersebut setara dengan 158 kali luas Singapura. Kerugian langsung dari alih fungsi hutan selama 10 tahun terakhir tersebut senilai Rp. 170, 2 triliun. Adapun kerugian tidak langsung senilai Rp. 320,6 triliun. Kerugian langsung dihitung dari: potensi sumber kayu, produksi kehutanan non kayu, dan keanekaragaman non hayati yang hilang. Kerugian tidak langsung dihitung dari : hilangnya sumber air, potensi longsor, dan bencana alam lain akibat alih fungsi hutan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-591075842321647518?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/591075842321647518/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2011/04/pemanfaatan-sumber-daya-alam.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/591075842321647518'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/591075842321647518'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2011/04/pemanfaatan-sumber-daya-alam.html' title='Pemanfaatan Sumber Daya Alam'/><author><name>Muh. Sholeh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09255886548890166137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_6BdsiwGInjM/TN5WxEU67NI/AAAAAAAAAHE/3Ty1264IaP0/S220/DSC00124.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-5925585126915957126</id><published>2011-04-03T15:39:00.000-07:00</published><updated>2011-04-03T15:45:24.548-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Geografi Sosial'/><title type='text'>Perubahan waktu Kuliah Geo Sosial Rombel 01</title><content type='html'>Diinformasikan kepada mahasiswa Pendidikan Geografi yang mengikuti mata kuliah Geografi Sosial Rombel 01, bahwa karena sesuatu hal, maka perkuliahan yang sedianya akan dilaksanakan pada hari Senin 4 April 2011 jam 07.00 diundur menjadi hari Rabu, 6 April 2011 jam 08.00 WIB di C5 301A. Demikian harap diperhatikan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-5925585126915957126?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/5925585126915957126/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2011/04/perubahan-waktu-kuliah-geo-sosial.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/5925585126915957126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/5925585126915957126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2011/04/perubahan-waktu-kuliah-geo-sosial.html' title='Perubahan waktu Kuliah Geo Sosial Rombel 01'/><author><name>Muh. Sholeh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09255886548890166137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_6BdsiwGInjM/TN5WxEU67NI/AAAAAAAAAHE/3Ty1264IaP0/S220/DSC00124.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-3142277839810506773</id><published>2011-03-16T16:22:00.000-07:00</published><updated>2011-03-16T16:25:05.381-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Kebumian'/><title type='text'>Minat Mahasiswa terhadap Penelitian Masih Rendah</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jakarta, Kompas &lt;/span&gt;- Minat  mahasiswa untuk terjun ke dunia penelitian ilmu kebumian masih sangat  rendah. Padahal, Indonesia merupakan negara dengan potensi bencana  kebumian, seperti gempa dan tsunami, yang sangat besar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Sangat  sedikit, bahkan hampir tidak ada sarjana yang mau menjadi peneliti di  bidang ilmu kebumian terkait dengan bencana seperti gempa dan tsunami,”  kata Danny Hilman, geolog yang menjadi Ketua Penelitian Kegempaan pada  Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, ketika dihubungi, Selasa (15/3) di  Bandung, Jawa Barat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mengingat bentang alam Indonesia yang sangat  luas, Indonesia membutuhkan banyak peneliti di bidang ilmu kebumian.  Apalagi posisi Indonesia yang berada di sabuk vulkanik (ring of fire)  dan berada di daerah pertemuan lempeng tektonik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Danny mengatakan,  ia kesulitan merekrut peneliti-peneliti baru yang menekuni ilmu  kebumian terkait dengan penelitian bencana alam. Di lembaganya, kata  Danny, sekarang ini hanya ada dua peneliti kebumian yang mendalami soal  gempa tektonik hingga ke jenjang S-3.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lembaga itu bahkan  kehilangan satu-satunya ahli seismic hazard yang memiliki keahlian  membuat pemetaan zona bahaya gempa diukur dari kekuatan pergerakan  tanah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Ahli seismic itu hanya betah dua tahun lalu pindah ke lembaga lain untuk meneliti eksplorasi sumber daya alam,” kata Danny.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kurang perhatian&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kepala  Jurusan Pendidikan Geografi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Muzani  menjelaskan, sebenarnya ilmu kebumian banyak diminati mahasiswa. Karena  banyak peminatnya, UNJ bahkan berencana membuka jurusan Ilmu Geografi  yang mempelajari geografi secara fisik, bukan hanya menciptakan  guru-guru pengajar pelajaran geografi di sekolah seperti selama ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun,  kata Muzani, ketika menghadapi penjurusan, para mahasiswa ini cenderung  lebih tertarik menekuni bidang teknologi perminyakan dan pertambangan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Masa  depannya lebih menjanjikan daripada menjadi peneliti. Itu fakta yang  membuat banyak orang tak melirik bidang- bidang penelitian,” ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Direktur  Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional Djoko  Santoso mengakui bahwa lebih banyak mahasiswa yang tertarik menekuni  bidang teknologi pertambangan dan perminyakan dibandingkan mereka yang  terjun meneliti kondisi geografis Indonesia yang rawan bencana.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut  Djoko, tidak banyak perguruan tinggi negeri dan swasta yang memiliki  jurusan atau fakultas ilmu-ilmu kebumian. Untuk itu, ia mengimbau agar  perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, mulai membuka program ilmu  kebumian karena Indonesia membutuhkan lebih banyak ahli dan peneliti  kondisi geografis Indonesia terkait dengan kebencanaan.&lt;/p&gt;Danny  menyoroti perhatian pemerintah terhadap bidang penelitian sangat rendah  sehingga tidak merangsang minat mahasiswa. Kalau di luar negeri,  kehidupan para peneliti sangat sejahtera. (IND/LUK&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-3142277839810506773?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/3142277839810506773/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2011/03/minat-mahasiswa-terhadap-penelitian.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/3142277839810506773'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/3142277839810506773'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2011/03/minat-mahasiswa-terhadap-penelitian.html' title='Minat Mahasiswa terhadap Penelitian Masih Rendah'/><author><name>Teras Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14732676323560413012</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_jPYUd5dZY8o/TN9Q9GckyrI/AAAAAAAAABk/SEB4NP_haK8/S220/DS.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-396874754716701064</id><published>2011-03-14T02:09:00.000-07:00</published><updated>2011-03-14T02:09:23.600-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MOS'/><title type='text'>Tugas MOS</title><content type='html'>Diinformasikan kepada mahasiswa geografi yang mengikuti kuliah Manajemen Outdoor Studi (MOS), bahwa tugas awal saudara adalah mengumpulkan informasi dan menampilkan data kondisi fisik dan sosial di masing-masing kelurahan di sekitar Gunungpati. Data yang telah dikumpulkan, ditampilkan dalam bentuk power point dalam Profil Kelurahan. Adapun pembagian mahasiswa, dapat &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/14181450/PembagiantugasMOS.xls.html"&gt;didownload di sini&lt;/a&gt;. Saudara juga dipersilahkan materi &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/14181106/ManagmentOutdoorStudy.ppt.html"&gt;karakteristik MOS&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/14181105/TUJUHKOMPONENCTL.ppt.html"&gt;CTL&lt;/a&gt;. Demikian harap diucapkan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-396874754716701064?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/396874754716701064/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2011/03/tugas-mos.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/396874754716701064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/396874754716701064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2011/03/tugas-mos.html' title='Tugas MOS'/><author><name>Muh. Sholeh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09255886548890166137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_6BdsiwGInjM/TN5WxEU67NI/AAAAAAAAAHE/3Ty1264IaP0/S220/DSC00124.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-4789784280982111556</id><published>2011-02-27T23:41:00.000-08:00</published><updated>2011-02-27T23:41:02.752-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MOS'/><title type='text'>Materi Manajemen Outdoor Study</title><content type='html'>Pokok-Pokok Materi Perkuliahan Manajemen Outdoor Study&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Konsep dasar dan Karakteristik pembelajaran geografi di luar kelas (outdoor geography) -&amp;nbsp; 1 TM&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sasaran dan manfaat pembelajaran geografi di luar kelas&amp;nbsp; - 1 TM&lt;br /&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Contoh Kerangka kerja pembelajaran geografi di luar kelas&amp;nbsp; - 1 TM&lt;br /&gt;4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Prosedur pembelajaran geografi di luar kelas – 1 TM&lt;br /&gt;4.1&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Perencanaan&lt;br /&gt;4.2&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pelaksanaan&lt;br /&gt;4.3&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tindak lanjut&lt;br /&gt;5.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mid semester&lt;br /&gt;6.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Studi kasus 1&amp;nbsp; - 2 TM&amp;nbsp; (Praktek menyusun rencana kerja lapangan ( kelompok) - diseminarkan)&lt;br /&gt;7.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Studi kasus 2&amp;nbsp; - 2 TM&amp;nbsp; (Praktek menyusun rencana kerja lapangan ( kelompok) - diseminarkan)&lt;br /&gt;8.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Studi kasus 3&amp;nbsp; - 2 TM&amp;nbsp; (Praktek pelaksanaan kerja lapangan ( kelompok) &lt;br /&gt;9.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Studi kasus 4&amp;nbsp; - 2 TM&amp;nbsp; (Praktek tindak lanjut hasil kerja lapangan ( kelompok) - diseminarkan)&lt;br /&gt;10.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Studi kasus 5&amp;nbsp; - 2 TM&amp;nbsp; (Praktek tindak lanjuthasil&amp;nbsp; kerja lapangan ( kelompok) - diseminarkan)&lt;br /&gt;11.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ujian Akhir semester&lt;br /&gt;Daftar Referensi&lt;br /&gt;Boardman, David (ed). 1988. Handbook for Geography Teachers. The Geographical Association: 343 Fulwood Road, Sheffield S10 3BP&lt;br /&gt;Briault, EWH dan DW. Shave. 1960. Geography In and Out of School, Suggestions for the Teaching of Geography in Secondary Schools. George G. Harrp &amp;amp; Co. Ltd. London Toronto Wellington Sydney.&lt;br /&gt;Kartawidjaja, Omi. 1988. Metoda Mengajar Geografi. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan. Jakarta.&lt;br /&gt;Suharyono, dkk. 1991. Strategi Belajar Mengajar. IKIP Semarang Press. Semarang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-4789784280982111556?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/4789784280982111556/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2011/02/materi-manajemen-outdoor-study.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/4789784280982111556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/4789784280982111556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2011/02/materi-manajemen-outdoor-study.html' title='Materi Manajemen Outdoor Study'/><author><name>Muh. Sholeh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09255886548890166137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_6BdsiwGInjM/TN5WxEU67NI/AAAAAAAAAHE/3Ty1264IaP0/S220/DSC00124.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-3543527476885555200</id><published>2011-02-14T15:26:00.000-08:00</published><updated>2011-02-14T15:41:43.453-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inderaja'/><title type='text'>Memantau Hutan Indonesia dari Udara</title><content type='html'>&lt;b&gt;Oleh Yuni Ikawati&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="left"&gt;Kompas,Kamis, 10 Februari 2011 | 21:31 WIB                    &lt;/div&gt;&lt;div class="right font12 c_abu03_kompas2011"&gt;&lt;span id="text_594600"&gt;&lt;div class="left pr_3"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="fontresize"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="multi_foto_wide" style="display: none;"&gt;&lt;a class="selected" href="http://sains.kompas.com/read/2011/02/10/21311327/Memantau.Hutan.Indonesia.dari.Udara#" rel="foto1"&gt;1&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemanasan  suhu global akibat akumulasi gas rumah kaca, terutama karbon, telah  menyebabkan perubahan iklim dan melelehnya es di kutub. Upaya pemantauan  dilakukan dengan melihat potensi sumber peredamnya—hutan—dengan  teknologi penginderaan jauh, menggunakan satelit dan pesawat terbang.&lt;br /&gt;Indonesia,  negeri berhutan tropis terluas kedua di dunia, menjadi incaran banyak  negara maju. Dengan potensi sumber daya alam itu, wilayah di  khatulistiwa ini menjadi tumpuan dunia untuk menahan dan mereduksi emisi  karbon—penyebab pemanasan suhu global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Namun, seberapa luas  kawasan hutan di Indonesia hingga kini belum diketahui pasti karena  sebagian besar wilayah di negeri kepulauan ini, terutama Kalimantan,  kerap tertutup awan hasil penguapan perairan di sekitarnya.&lt;br /&gt;Indonesia  tentu berkepentingan dengan kelestarian sumber daya hutannya karena gas  karbon dioksida (CO2) yang teremisi dari wilayahnya terus meningkat.  Kenaikannya diproyeksikan dari 1,72 gigaton (Gt) pada tahun 2000 menjadi  2.95 Gt pada 202O, dan bakal menanjak lagi jadi 3,6 Gt t ahun 2030.&lt;br /&gt;Kenaikan  ini akan terjadi bila tak ada upaya menekan pelepasan gas karbon dan  mengelola sumber karbon, terutama di sektor kehutanan.&lt;br /&gt;Bagi  Indonesia, kenaikan emisi karbon dalam kurun waktu lama jelas  mengkhawatirkan. Naiknya kandungan karbon—sebagai perangkap panas dari  matahari di lingkungan atmosfer— menyebabkan suhu bumi meningkat.  Dampaknya antara lain mencairnya es di kutub akan menambah volume air  laut hingga menaikkan permukaan laut.&lt;br /&gt;Karena itu, negara pulau dan  kepulauan, termasuk Indonesia, bakal terkena dampak signifikan dari  proses tersebut, yaitu berkurangnya daratan di kawasan pesisir karena  kenaikan permukaan laut.&lt;br /&gt;Dengan program terpadu untuk melestarikan  hutan, Indonesia berpotensi mengurangi emisi CO hingga 2.3 Gt pada  tahun 2030 atau 4,5 persen dari yang diperlukan di tingkat global.  Reduksinya bisa mencapai 50 persen atau 1,16 Gt.&lt;br /&gt;Lalu dengan  melestarikan dan merehabilitasi kawasan gambut pengurangan karbon bisa  mencapai 0,60 Gt (26 persen). Karena lahan gambut dan hutan merupakan  sumber terbesar emisi CO2 di Indonesia, yaitu mencapai 45 persen.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Observasi bumi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Upaya  itu tentu memerlukan penguasaan teknologi observasi bumi dan  pembangunan jejaringnya. Untuk memantau perubahan tutupan lahan,  Indonesia memanfaatkan citra satelit Landsat milik Amerika Serikat.&lt;br /&gt;Namun,  itu tidak cukup karena satelit optik ini tidak dapat melihat daerah  yang tertutup awan. Karena itu, Indonesia diwakili Lembaga Penerbangan  dan Antariksa Nasional (Lapan) menggandeng JAXA Jepang yang memiliki  satelit ALOS (Advanced Land Observation Satellite) Palsar. Dengan sensor  Radar (Radio Detection and Ranging) pada satelit yang diluncurkan tahun  2004 itu, daerah yang tertutup awan dapat terpantau.&lt;br /&gt;Pada tahun  ini Lapan juga menjalin kerja sama dengan Lembaga Antariksa Inggris  (United Kingdom Space Agency/UKSA). Penandatanganan kerja sama dilakukan  1 Februari oleh Kepala LAPAN Adi Sadewo Salatun dan Chief Executive  UKSA David Williams.&lt;br /&gt;Kerja sama tersebut tidak sebatas  memanfaatkan citra satelit Inggris, tetapi juga untuk meningkatkan  kemampuan peneliti Lapan dalam pembuatan satelit Radar pada orbit  ekuatorial. ”Ini merupakan terobosan karena selama ini satelit Radar  hanya beredar di orbit polar,” kata Adi. Ia mengharapkan terjadi  transfer teknologi pembuatan satelit Radar.&lt;br /&gt;Satelit orbit  ekuatorial ini memiliki resolusi tinggi, yaitu hingga 3 meter, dan  melintas wilayah Indonesia setiap 45 menit. Pengaplikasiannya ditujukan  untuk mendukung program REDD (Reducing Emissions from Deforestation and  Degradation) dan mitigasi perubahan iklim, kata Bambang Tedja Sumantri,  Deputi Bidang Sains, Pengkajian dan Informasi Kedirgantaraan Lapan.&lt;br /&gt;Observasi bumi dengan Satelit Radar antara lain juga untuk memantau ketahanan pangan melalui pemantauan kawasan penanaman padi.&lt;br /&gt;Dalam  kerja sama itu, UKSA akan membantu Indonesia untuk memantau hutan dan  lahan dengan menyediakan data satelit, keahlian, dan infrastruktur  terkait. Dengan memantau kawasan hutan secara efektif dan akurat yang  dibantu jaringan internasional, Indonesia diharapkan mampu membuktikan  kepada dunia untuk memenuhi pengurangan emisi karbon melalui pemantauan  kondisi permukaan bumi di wilayahnya.&lt;br /&gt;Perubahan iklim dapat  berdampak besar bagi berbagai sektor kehidupan manusia. Karena itu,  negara-negara maju melakukan berbagai langkah adaptasi dan mitigasi  dampak perubahan iklim, dengan menggandeng negara berkembang.&lt;br /&gt;Kerja  sama ini akan memberi efek bagi peningkatan kapasitas sumber daya  manusia Indonesia. Hal ini terkait dengan program Lapan di bidang  pengembangan satelit. Menurut Deputi Bidang Penginderaan Jauh Nur  Hidayat, belum banyak pakar yang menguasai interpretasi data citra  satelit Radar.&lt;br /&gt;Selain kerja sama dengan Inggris dalam pembangunan  satelit Radar yang diproyeksikan peluncurannya tahun 2014, kata Bambang,  Lapan juga memiliki kemampuan membangun satelit mikro, yaitu satelit  Lapan-Tubsat. Awal Februari ini, tepat empat tahun satelit ini  beroperasi di atas wilayah Indonesia.&lt;br /&gt;Lapan kini mengembangkan  tiga satelit eksperimental, yaitu Lapan-Orari dan Lapan A2 (disebut  dengan Twin-Sat), serta Lapan-IPB. Satelit tersebut menurut rencana akan  diluncurkan pada tahun 2014.&lt;br /&gt;Pemanfaatan data SAR untuk orbit  khatulistiwa ini memungkinkan terjalinnya kolaborasi dengan negara  tropis lain, seperti Brasil dan Kongo, yang memiliki kawasan hutan yang  luas serta untuk pemantauan ketahanan pangan dan kelautan.&lt;br /&gt;”Sebagai  wilayah yang memiliki hutan tropis terluas, banyak negara menaruh  perhatian pada potensi hutan Indonesia untuk meredam perubahan iklim.  SAR memungkinkan hal tersebut,” kata Bambang.&lt;br /&gt;Penggunaan satelit  Radar untuk memantau kawasan tropis pernah dirintis Indonesia bersama  Belanda dengan menggelar program Tropical Earth Resource Satellite tahun  1982. Namun, rencana tersebut tidak berlanjut karena dinilai belum  layak pada masa itu.&lt;br /&gt;Pemantauan hutan dengan sensor Radar juga  dilakukan Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional)  di Sumatera. Survei udara dengan pesawat terbang dilakukan di areal  300.000 kilometer persegi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-3543527476885555200?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/3543527476885555200/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2011/02/memantau-hutan-indonesia-dari-udara.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/3543527476885555200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/3543527476885555200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2011/02/memantau-hutan-indonesia-dari-udara.html' title='Memantau Hutan Indonesia dari Udara'/><author><name>Muh. Sholeh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09255886548890166137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_6BdsiwGInjM/TN5WxEU67NI/AAAAAAAAAHE/3Ty1264IaP0/S220/DSC00124.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-5803830635471529410</id><published>2011-01-30T17:38:00.000-08:00</published><updated>2011-01-30T17:38:03.845-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kemahasiswaan'/><title type='text'>Format PKM AI dan PKM GT</title><content type='html'>Bagi mahasiswa yang berminat menyusun PKM AI dan GT silah menyusun sesuai format yang berlaku. Format tersebut silahkan &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/12382062/pkm2010_REVISI02.pdf.html"&gt;klik di sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-5803830635471529410?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/5803830635471529410/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2011/01/format-pkm-ai-dan-pkm-gt.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/5803830635471529410'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/5803830635471529410'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2011/01/format-pkm-ai-dan-pkm-gt.html' title='Format PKM AI dan PKM GT'/><author><name>Muh. Sholeh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09255886548890166137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_6BdsiwGInjM/TN5WxEU67NI/AAAAAAAAAHE/3Ty1264IaP0/S220/DSC00124.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-6732054166698820282</id><published>2011-01-27T17:43:00.000-08:00</published><updated>2011-01-27T18:07:59.472-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Studi Bencana'/><title type='text'>Definisi Bencana Alam</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mencermati kondisi negara kita dalam beberapa tahun terahir menyadarkan kita semua bahwa negara kita akrab dengan bencana alam. Hampir setiap hari media massa menyajikan berita tentang bencana yang terjadi di seluruh pelosok tanah air, baik berupa banjir, tanah longsor, kekeringan, lahar dingin, gunung meletus, maupun angin puting beliung. Tak terbilang harta dan nyawa yang menjadi korban karena berbagai peristiwa tadi&lt;b&gt;.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bencana sering diidentikan dengan sesuatu yang buruk. Paralel dengan istilah &lt;i&gt;disaster&lt;/i&gt; dalam &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Inggris" style="color: black;" title="Bahasa Inggris"&gt;bahasa Inggris&lt;/a&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;. Secara etimologis berasal dari kata &lt;/span&gt;&lt;b style="color: black;"&gt;DIS&lt;/b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; yang berarti sesuatu yang tidak enak (&lt;/span&gt;&lt;i style="color: black;"&gt;unfavorable&lt;/i&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;) dan &lt;/span&gt;&lt;b style="color: black;"&gt;ASTRO&lt;/b&gt; yang berarti bintang (&lt;i style="color: black;"&gt;star&lt;/i&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;). &lt;/span&gt;&lt;i style="color: black;"&gt;Dis-astro&lt;/i&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; berarti &lt;/span&gt;&lt;i style="color: black;"&gt;an event precipitated by stars&lt;/i&gt; (peristiwa jatuhnya bintang-bintang ke bumi).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Bencana adalah sesuatu yang tak terpisahkan dalam &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah" title="Sejarah"&gt;sejarah&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Manusia" title="Manusia"&gt;manusia&lt;/a&gt;. Manusia bergumul dan terus bergumul agar bebas dari bencana (&lt;i&gt;free from disaster&lt;/i&gt;).  Dalam pergumulan itu, lahirlah praktek mitigasi, seperti mitigasi  banjir, mitigasi kekeringan (drought mitigation), dan lain-lain. Di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mesir" title="Mesir"&gt;Mesir&lt;/a&gt;, praktek mitigasi kekeringan sudah berusia lebih dari 4000 &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tahun" title="Tahun"&gt;tahun&lt;/a&gt;. Konsep tentang sistim peringatan dini untuk kelaparan (&lt;i&gt;famine&lt;/i&gt;) dan kesiap-siagaan (&lt;i&gt;preparedness&lt;/i&gt;)  dengan lumbung raksasa yang disiapkan selama tujuh tahun pertama  kelimpahan dan digunakan selama tujuh tahun kekeringan sudah lahir pada  tahun 2000 BC, sesuai keterangan kitab Kejadian, dan tulisan-tulisan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Yahudi" title="Yahudi"&gt;Yahudi&lt;/a&gt; Kuno. &lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Bencana alam adalah konsekwensi dari kombinasi aktivitas alami (suatu peristiwa fisik, seperti letusan gunung, gempa bumi, tanah longsor) dan aktivitas manusia. Karena ketidakberdayaan manusia, akibat kurang baiknya manajemen keadaan darurat, sehingga menyebabkan kerugian dalam bidang keuangan dan struktural, bahkan sampai kematian. Kerugian yang dihasilkan tergantung pada kemampuan untuk mencegah atau menghindari bencana dan daya tahan mereka[1]. Pemahaman ini berhubungan dengan pernyataan: "bencana muncul bila ancaman bahaya bertemu dengan ketidakberdayaan". Dengan demikian, aktivitas alam yang berbahaya tidak akan menjadi bencana alam di daerah tanpa ketidakberdayaan manusia, misalnya gempa bumi di wilayah tak berpenghuni. Konsekuensinya, pemakaian istilah "alam" juga ditentang karena peristiwa tersebut bukan hanya bahaya atau malapetaka tanpa keterlibatan manusia. Besarnya potensi kerugian juga tergantung pada bentuk bahayanya sendiri, mulai dari kebakaran, yang mengancam bangunan individual, sampai peristiwa tubrukan meteor besar yang berpotensi mengakhiri peradaban umat manusia.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun demikian pada daerah yang memiliki tingkat bahaya tinggi (hazard) serta memiliki kerentanan/kerawanan (vulnerability) yang juga tinggi tidak akan memberi dampak yang hebat/luas jika manusia yang berada disana memiliki ketahanan terhadap bencana (disaster resilience). Konsep ketahanan bencana merupakan valuasi kemampuan sistem dan infrastruktur-infrastruktur untuk mendeteksi, mencegah &amp;amp; menangani tantangan-tantangan serius yang hadir. Dengan demikian meskipun daerah tersebut rawan bencana dengan jumlah penduduk yang besar jika diimbangi dengan ketetahanan terhadap bencana yang cukup.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Respon kemanusiaan dalam krisis &lt;i&gt;emergency&lt;/i&gt; juga sudah berusia lama walau catatan sejarah sangat sedikit, tetapi peristiwa &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tsunami" title="Tsunami"&gt;Tsunami&lt;/a&gt; di &lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Lisbon" title="Lisbon"&gt;Lisbon&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Portugal" title="Portugal"&gt;Portugal&lt;/a&gt; pada tanggal 1 November 1755, mencatat bahwa ada respon bantuan dari negara secara ‘ala kadar’. Jumlah korban meninggal pasca &lt;i&gt;emergency&lt;/i&gt; sedikitnya 20,000 orang. Total meninggal diperkirakan 70,000 orang dari 275,000 penduduk.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hingga dekade yang lalu, cita-cita para ahli bencana masih terus mengumandangkan slogan ‘bebas dari bencana’ (&lt;i&gt;free from disaster&lt;/i&gt;) yang berdasarkan pada ketiadaan ancaman alam (&lt;i&gt;natural hazard&lt;/i&gt;). Publikasi mutakhir tentang manajemen bencana, telah terjadi perubahan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Paradigma" title="Paradigma"&gt;paradigma&lt;/a&gt;. Sebagai misal di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bangladesh" title="Bangladesh"&gt;Bangladesh&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Vietnam" title="Vietnam"&gt;Vietnam&lt;/a&gt;, khususnya yang hidup di DAS Mekong, yang semulanya bermimpi untuk bebas dari banjir (&lt;i&gt;free from flood&lt;/i&gt;), akhirnya memutuskan untuk hidup bersama banjir (&lt;i&gt;living with flood&lt;/i&gt;).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tentunya komitmen hidup bersama banjir, tetap dilandasi oleh semangat  bahwa banjir atau ancaman alam lainnya seperti gempa, siklon, dan  kekeringan boleh terjadi tetapi bencana tidak harus terjadi. Di Timor,  khususnya masyarakat Besikama, sudah sangat lama hidup bersama banjir.  Masyarakat tradisional Besikama sebenarnya sudah mengenal tentang  praktek mitigasi banjir berdasarkan konstruksi rumah tradisional mereka  sejak lama, yakni rumah panggung, yang sudah sangat tidak popular karena  ‘pembangunan’ mengajarkan segala segala sesuatu yang ‘modern’.&lt;br /&gt;Pengertian bencana atau disaster menurt  Wikipedia: disaster is the impact of a natural or man-made hazards that  negatively effects society or environment &lt;i&gt;(bencana adalah pengaruh alam atau ancaman yang dibuat manusia yang berdampak negatif terhadap masyarakat dan lingkungan)&lt;/i&gt;.  Dalam Undang-Undang No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana,  dikenal pengertian dan beberapa istilah terkait dengan bencana. &lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Bencana&lt;/b&gt; adalah  peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu  kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor  alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga  mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan,  kerugian harta benda, dan dampak psikologis.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Bencana alam&lt;/b&gt; adalah  bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang  disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung  meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Bencana nonalam&lt;/b&gt; adalah  bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa  nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi,  epidemi, dan wabah penyakit.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Bencana sosial&lt;/b&gt; adalah  bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang  diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antarkelompok atau  antarkomunitas masyarakat, dan teror.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Penyelenggaraan penanggulangan bencana &lt;/b&gt;adalah  serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang  berisiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap  darurat, dan rehabilitasi.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Kegiatan pencegahan bencana&lt;/b&gt; adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan sebagai upaya untuk menghilangkan dan/atau mengurangi ancaman bencana.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Kesiapsiagaan&lt;/b&gt; adalah  serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui  pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya  guna.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Peringatan dini&lt;/b&gt; adalah  serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera mungkin kepada  masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana pada suatu tempat oleh  lembaga yang berwenang.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Mitigasi &lt;/b&gt;adalah  serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui  pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi  ancaman bencana.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Tanggap darurat&lt;/b&gt;  bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada  saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan,  yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda,  pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi,  penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Rehabilitasi &lt;/b&gt;adalah  perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat  sampai tingkat yang memadai pada wilayah pascabencana dengan sasaran  utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek  pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pascabencana.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Rekonstruksi &lt;/b&gt;adalah  pembangunan kembali semua prasarana dan sarana, kelembagaan pada  wilayahpascabencana, baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat  dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian,  sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, dan bangkitnya peran  serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah  pascabencana.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Ancaman bencana&lt;/b&gt; adalah suatu kejadian atau peristiwa yang bisa menimbulkan bencana.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Rawan bencana &lt;/b&gt;adalah  kondisi atau karakteristik geologis, biologis, hidrologis, klimatologis,  geografis, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan teknologi pada suatu  wilayah untuk jangka waktu tertentu yang mengurangi kemampuan mencegah,  meredam, mencapai kesiapan, dan mengurangi kemampuan untuk menanggapi  dampak buruk bahaya tertentu.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Pemulihan&lt;/b&gt; adalah  serangkaian kegiatan untuk mengembalikan kondisi masyarakat dan  lingkungan hidup yang terkena bencana dengan memfungsikan kembali  kelembagaan, prasarana, dan sarana dengan melakukan upaya rehabilitasi.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Pencegahan bencana&lt;/b&gt;  adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengurangi atau  menghilangkan risiko bencana, baik melalui pengurangan ancaman bencana  maupun kerentanan pihak yang terancam bencana.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Risiko bencana &lt;/b&gt;adalah  potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah dan  kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian, luka, sakit, jiwa  terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan atau kehilangan  harta, dan gangguan kegiatan masyarakat.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Bantuan darurat bencana&lt;/b&gt; adalah upaya memberikan bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar pada saat keadaan darurat.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt; &lt;b&gt;Status keadaan darurat bencana&lt;/b&gt;  adalah suatu keadaan yang ditetapkan oleh Pemerintah untuk jangka  waktu&amp;nbsp; tertentu atas dasar rekomendasi Badan yang diberi tugas untuk  menanggulangi bencana.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Pengungsi&lt;/b&gt; adalah orang  atau kelompok orang yang terpaksa atau dipaksa keluar dari tempat  tinggalnya untuk jangka waktu yang belum pasti sebagai akibat dampak  buruk bencana.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Korban bencana &lt;/b&gt;adalah orang atau sekelompok orang yang menderita atau meninggal dunia akibat bencana.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Pemerintah Indonesia telah berupaya melaksanakan perencanaan, pelaksanaan sampai evaluasi dalam penanggulangan bencana, Penanggulangan bencana yang terjadi di Indonesia dipayungi oleh undang-undang Nomor 24 Tahun 2007. Untuk mendownload UU tersebut&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/13575858/UUNo.24Tahun2007.pdf.html"&gt; silahkan klik di sini.&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-6732054166698820282?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/6732054166698820282/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2011/01/definisi-bencana-alam.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/6732054166698820282'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/6732054166698820282'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2011/01/definisi-bencana-alam.html' title='Definisi Bencana Alam'/><author><name>Muh. Sholeh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09255886548890166137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_6BdsiwGInjM/TN5WxEU67NI/AAAAAAAAAHE/3Ty1264IaP0/S220/DSC00124.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-4646836482200082698</id><published>2010-12-12T15:35:00.000-08:00</published><updated>2010-12-12T15:35:22.330-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SMI'/><title type='text'>Kuliah Terakhir MK SMI</title><content type='html'>Diinformasikan kepada mahasiswa yang mengikuti kuliah SMI Rombel 32014002, 32504001, dan 32014001, bahwa kuliah terahir akan dilaksanakan berupa mengikuti diskusi rabuan yang dilaksanakan pada tanggal 15 Desember 2010 Jam 08.30 di C7 lt. 3. Narasumber: Drs. Purwadi Suhandini, SU. Presensi akan dilaksanakan antara pukul 08.15-08.30 dan pukul 11.00. Khusus rombel 32504001 dan 32014001, diskusi menampilkan seluruh kelompok yang tersisa. Demikian harap diperhatikan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-4646836482200082698?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/4646836482200082698/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2010/12/kuliah-terakhir-mk-smi.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/4646836482200082698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/4646836482200082698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2010/12/kuliah-terakhir-mk-smi.html' title='Kuliah Terakhir MK SMI'/><author><name>Muh. Sholeh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09255886548890166137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_6BdsiwGInjM/TN5WxEU67NI/AAAAAAAAAHE/3Ty1264IaP0/S220/DSC00124.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-127412015788558188</id><published>2010-12-12T15:25:00.000-08:00</published><updated>2010-12-12T15:25:58.691-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PPG'/><title type='text'>Kuliah Terakhir MK PPG</title><content type='html'>Diinformasikan kepada mahasiswa, bahwa kuliah terakhir MK PPG dilaksanakan berupa mengikuti kegiatan Diskusi Rabuan yang dilaksanakan pada tanggal 15 Desember 2010. Jam 08.30 di Gd. C7 Lt.3 dengan narasumber: Drs. Purwadi Suhandini, SU. Presensi akan dilaksanakan dari jam 08.15-8.30 dan 11.00.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-127412015788558188?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/127412015788558188/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2010/12/kuliah-terakhir-mk-ppg.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/127412015788558188'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/127412015788558188'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2010/12/kuliah-terakhir-mk-ppg.html' title='Kuliah Terakhir MK PPG'/><author><name>Muh. Sholeh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09255886548890166137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_6BdsiwGInjM/TN5WxEU67NI/AAAAAAAAAHE/3Ty1264IaP0/S220/DSC00124.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-3362596562425438823</id><published>2010-12-12T15:20:00.000-08:00</published><updated>2010-12-12T15:20:28.295-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SPG-2'/><title type='text'>Pengunduran Waktu Pengumpulan Tugas SPG-2</title><content type='html'>Diinformasikan kepada mahasiswa yang mengikuti kuliah SPG-2 untuk rombel 1 dan 2, bahwa batas waktu pengumpulan tugas akhir diundur. Tugas saudara silahkan dikumpulkan pada saat MK SPG-2 terjadwal pada Ujian Akhir Semester. Hari, jam, dan tempatnya sesuai informasi jadwal Ujian Akhir Semester. Demikian harap diperhatikan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-3362596562425438823?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/3362596562425438823/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2010/12/pengunduran-waktu-pengumpulan-tugas-spg.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/3362596562425438823'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/3362596562425438823'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2010/12/pengunduran-waktu-pengumpulan-tugas-spg.html' title='Pengunduran Waktu Pengumpulan Tugas SPG-2'/><author><name>Muh. Sholeh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09255886548890166137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_6BdsiwGInjM/TN5WxEU67NI/AAAAAAAAAHE/3Ty1264IaP0/S220/DSC00124.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-3146686956754409840</id><published>2010-12-04T09:15:00.000-08:00</published><updated>2010-12-04T09:15:00.282-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Geografi Pariwisata'/><title type='text'>Bahari nirvana Derawan</title><content type='html'>Oleh Amril Taufik Gobel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img border="0" height="118" src="http://a323.yahoofs.com/ymg/inspirationsid__2/inspirationsid-811052271-1291190438.jpg?ymmS5KEDaPwFe8u6" width="200" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;A  tropical paradise located in one of the island province of East  Kalimantan, Berau precisely and in the Strait of Sulawesi, not far from  the border with Malaysia. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Derawan Island  into a maritime tourist destinations attractive choice for you who likes  the beach with soft white sand and clear water shining. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Moreover, added bonus benign encounter turtles that swam happily while we do the dive.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Sometimes  when sitting on the edge of a wooden bridge that leads to the sea, we  can see the green turtles and fro on the surface of clear water. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Occasionally even the turtles that seem to roam around the cottage is located on the coast of the island. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;At nightfall, several turtles climbed ashore and lay eggs there.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;Alloy  sea and moss colors produce stunning shades of blue and green, and a  small forest in the middle, make this island so beautiful natural  scenery presents a pity to miss for granted. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;What remains, deep memories.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img border="0" height="118" src="http://a323.yahoofs.com/ymg/inspirationsid__2/inspirationsid-323200004-1291190437.jpg?ymlS5KEDRxqoyuv0" width="200" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;Dr. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Carden  Wallace of the Museum of Tropical Queensland, Australia has examined  marine wealth Derawan Island and found more than 50 types of Arcropora  (marine animal) in one coral reef. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;No one seems if Derawan island famous as the third highest in the world as an international dive destination&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;This  island is relatively less well known especially in the country because  of its own struggle to achieve it takes quite complicated. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;You must go first to Balikpapan from Jakarta, Surabaya, Yogyakarta or Denpasar, to go to this island. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Approximately two hours travel time of flight from Jakarta to Balikpapan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;From Balikpapan, you still have to fly to Cape Redeb for one hour with a small plane that served by KAL Star, Deraya or DAS. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;In  addition, Cape Redeb can also be reached by sea, with boarded the ship  from Samarinda Tarakan to Tanjung Redeb or proceed with the lease  motorboat to the island Derawan with long travel approximately 2 hours.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img border="0" height="118" src="http://a323.yahoofs.com/ymg/inspirationsid__2/inspirationsid-28776847-1291190438.jpg?ymmS5KEDw97TbMFG" width="200" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak  wisatawan manca negara yang baru turun dari pesawat di bandara  Kalimarau, Tanjung Redeb langsung berangkat ke pulau Derawan dengan  motorboat yang sudah ditambatkan di sebuah pelabuhan khusus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alternatif  lain bisa juga melalui perjalanan darat dari Balikpapan ke Tanjung Batu  lalu dari sana menyeberang ke Pulau Derawan. Hanya saja ini bukan  pilihan yang bagus karena perjalanan penyeberangan itu sendiri memakan  waktu hingga belasan jam dengan medan yang relatif tidak menyenangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun  begitu, tahukah Anda, justru banyak wisatawan asing yang sudah tahu  lebih banyak soal keberadaan pulau eksotis ini. Sejumlah wisatawan  Jepang dari Tokyo melalui travel yang ada di sana “tembak langsung”  berangkat ke Singapura atau ke Sabah kemudian melanjutkan perjalanan ke  Balikpapan, lalu ke Tanjung Redeb menggunakan pesawat kecil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka  memanfaatkan waktu mereka selama di Derawan dengan menyelam, menyusuri  keindahan bawah laut di pulau tersebut yang memang merupakan lokasi  terbaik untuk olahraga selam. Apalagi dengan kondisi pulau yang  terpencil dan “masih perawan” kian menambah pesona siapapun juga untuk  menikmatinya selama mungkin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img border="0" height="118" src="http://a323.yahoofs.com/ymg/inspirationsid__2/inspirationsid-112336200-1291190438.jpg?ymmS5KEDPo.xWoN_" width="200" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak  usah jauh-jauh, hanya dalam jarak 50 meter dari bibir pantai, kita  sudah dapat menyaksikan terumbu karang yang indah dan ikan-ikan beraneka  warna hilir mudik. Airnya sangat bening. Anda pun bisa menyewa snorkel  seharga Rp 30 ribu per hari. Bila ingin menyelam lebih dalam, kita dapat  menemukan ikan-ikan yang lebih “eksotis” seperti kerapu, ikan merah,  ikan kurisi, ikan barracuda, teripang, dan kerang. Pada batu karang di  kedalaman sepuluh meter, terdapat karang yang dikenal sebagai "Blue  Trigger Wall" karena pada karang dengan panjang 18 meter tersebut banyak  terdapat ikan trigger (red-toothed trigger fishes). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulau  Derawan menyediakan fasilitas-fasilitas tempat penginapan (cottage),  penyewaan peralatan menyelam dan juga restoran. Ada pula  penginapan-penginapan bertarif murah yang dikelola oleh warga sekitar.  Kisaran harganya mulai dari Rp 45 ribu sampai Rp 100 ribu/malam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih belum puas? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda  dapat meninjau juga pulau lainnya yang berada di sekitar Derawan.  Misalnya: Pulau Sangalaki, Maratua, dan Pulau Kakaban yang mempunyai  keunikan tersendiri. Ikan Pari Biru (Manta Rays) yang memiliki lebar  mencapai 3,5 meter berpopulasi di Pulau Sangalaki. Malah bisa pula  ditemui—jika cukup beruntung—ikan pari hitam dengan lebar “bentang  sayap” 6 meter . Sedangkan Pulau Kakaban mempunyai keunikan yaitu berupa  danau prasejarah yang ada di tengah laut, satu-satunya di Asia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-3146686956754409840?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/3146686956754409840/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2010/12/bahari-nirvana-derawan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/3146686956754409840'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/3146686956754409840'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2010/12/bahari-nirvana-derawan.html' title='Bahari nirvana Derawan'/><author><name>Muh. Sholeh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09255886548890166137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_6BdsiwGInjM/TN5WxEU67NI/AAAAAAAAAHE/3Ty1264IaP0/S220/DSC00124.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-5930018017175382377</id><published>2010-12-03T14:46:00.000-08:00</published><updated>2010-12-03T14:46:47.044-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Pendidikan'/><title type='text'>Urgent, Disaster Education</title><content type='html'>&lt;div class="img620 pt_10"&gt;&lt;img alt="" height="130" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/11/04/4052213p.jpg" width="200" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="font10 c_abu " style="text-align: left;"&gt;KOMPAS/LUCKY PRANSISKA&lt;/div&gt;&lt;div class="c_abu font11 pt_5"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Lebih dari sepekan peristiwa gempa dan tsunami yang menimpa warga  Mentawai, belum ada upaya serius untuk memulihkan trauma, terutama bagi  anak-anak.&lt;/div&gt;Jakarta, Kompas - Banyaknya korban jiwa dalam  setiap bencana di Tanah Air semestinya mendorong pemerintah untuk segera  menerapkan pendidikan kebencanaan. Tanpa pendidikan kebencanaan,  anak-anak akan tercerabut dari lingkungannya dan korban akan terus  berjatuhan.&lt;br /&gt;”Masyarakat harus disadarkan bahwa mereka  hidup di lingkungan alam yang rawan bencana alam, seperti gempa, letusan  gunung api, tsunami, dan tanah longsor. Cara paling efektif untuk  menyadarkan itu adalah melalui pendidikan sejak usia dini,” kata S Hamid  Hasan, Ketua Umum Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia, Rabu (3/11)  di Jakarta.&lt;br /&gt;Menurut Hamid, hal-hal yang bersifat lokal mesti  diperkuat dalam pembelajaran di kelas. Dalam pengenalan soal alam  Indonesia, misalnya, pembelajaran untuk anak-anak yang berada di daerah  rawan gempa mesti berangkat dari pengenalan yang mendalam soal  daerahnya.&lt;br /&gt;”Ketika belajar soal gunung berapi, misalnya, sekolah  di Yogyakarta dan sekitarnya mesti diberi pemahaman yang mendalam,  termasuk juga bagaimana mengantisipasi jika meletus dan bagaimana  membantu pascabencana,” kata Hamid.&lt;br /&gt;Kurikulum pendidikan kita,  menurut Hamid, mesti diimplementasikan dalam materi pelajaran yang dekat  dengan lingkungan si anak. Kemudian, meluas ke masalah yang lebih umum.&lt;br /&gt;Lendo  Novo, pemerhati pendidikan lingkungan yang juga penggagas sekolah alam,  mengatakan, pendidikan di sekolah-sekolah Indonesia seharusnya  mengajarkan anak-anak didik untuk hidup  harmonis bersama alam. Dengan  pengetahuan lingkungan yang kuat, anak-anak Indonesia akan mampu  memanfaatkan potensi alam untuk kesejahteraan serta menjaga alam  sebaik-baiknya guna mencegah terjadinya bencana atau kerugian yang lebih  besar dari fenomena alam.&lt;br /&gt;”Di tengah banyaknya bencana alam yang  terjadi, memang pendidikan kebencanaan mutlak diperkuat di  sekolah-sekolah sejak dini. Tetapi, kunci utama dari persoalan ini  sebenarnya bagaimana kurikulum dalam pendidikan kita itu memiliki roh  utama tentang lingkungan,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt; Siapkan modul&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Secara  terpisah, Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal mengatakan,  untuk mengurangi risiko bencana di daerah-daerah rawan bencana,  pengetahuan pengurangan risiko bencana telah diintegrasikan ke dalam  kurikulum.&lt;br /&gt;”Segala macam informasi mengenai pendidikan  kesiapsiagaan bencana itu telah dituangkan dalam modul-modul yang  disusun Kementerian Pendidikan Nasional, guru, dan lembaga-lembaga  nonpemerintah internasional.” kata Fasli Jalal.&lt;br /&gt;Di dalam  modul-modul pendidikan kesiapsiagaan bencana tersebut, menurut Fasli,  juga diatur mengenai cara-cara melakukan sosialisasi tanggap bencana,  antara lain melalui poster dan brosur yang dipasang dan dibagikan di  sekolah-sekolah. ”Semua sudah dibuatkan dan tinggal diperbanyak saja,”  ujarnya.&lt;br /&gt;Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan  Menengah Kementerian Pendidikan Nasional Suyanto menambahkan,  modul-modul mengenai pengetahuan kesiapsiagaan bencana itu memang sudah  ada, tetapi informasi yang ada tidak terlalu rinci karena kondisi dan  kebutuhan setiap daerah yang berbeda. (ELN/LUK)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-5930018017175382377?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/5930018017175382377/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2010/12/urgent-disaster-education.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/5930018017175382377'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/5930018017175382377'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2010/12/urgent-disaster-education.html' title='Urgent, Disaster Education'/><author><name>Muh. Sholeh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09255886548890166137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_6BdsiwGInjM/TN5WxEU67NI/AAAAAAAAAHE/3Ty1264IaP0/S220/DSC00124.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-6914231819069662580</id><published>2010-12-03T13:48:00.000-08:00</published><updated>2010-12-03T13:50:03.187-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Kebumian'/><title type='text'>Lots of Potential Sand Plain Gumuk Containing Groundwater</title><content type='html'>&lt;span class="long_text" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;Quarter  in the coastal landscape Kulon Progo formed by the main process  yesterday (Pliocene-Pleistocene period), followed by eolian and fluvial  processes (Holocene). &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;As stated by Dr. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Lasting Wahyu Santosa, S.Si., M.Sc.,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="long_text" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;"The geomorphology of the past left a significant effect on the phenomenon of the present land forms. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Genesis landform influences on the formation hidrostratigrafi aquifer in coastal areas, ".&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;In  addition, the genesis of this area will also influence the evolution of  the free soil water indicated by the variation of groundwater  hidrogeokimia process specific to each form of land. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;While  the genesis of the influence of landform on the coast of Kulon Progo,  known to be the result of which occurred in the past characterized by  limestone formations sentolo reef activity originating from the zone of  shallow sea in calm water conditions and the formation of patterns of  morphological slope toe and buckling hillsides &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Sentolo which resembles the pattern of the bay and headland. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Furthermore,  there are deposits of clay lenses that contain fossils of marine  molluscs and marine shallow layer of peat decomposition results marsh  plants, as well as the pitfalls of brackish to saline ground water from  the basin of the former lagoon.&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Langgeng  said of the results of research conducted along the Progo river to  river Bogowonto, Kulon Progo, can be used to determine the position of  ground water container, estimate soil water content are, knowing the  nature of ground water, so that it can be recommended for fit for human  consumption and whether by the local community &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;"The  unique nature of ground water is good and no good can be used as a  reference for the proper and whether consumed by masyaraat as drinking  water," said doctoral graduates of GMU-1252 to this.&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;He said a proper ground water consumed in the plain land fluviomarin, complex shoal beach, swale and Gumuk Sand. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Among Karangwuluh, Janten, Kebonrejo, and Kalidengen, District Temon. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Meanwhile, soil water content in the area of sand dunes south of ground water is very risky if taken continuously. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;It is feared, ground water will be filled by sea water. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;"Taken a lot of the material is sand, then water will run out of land, sea water will enter. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;If you add sand, the morphology changed the water is disturbed, when the water is also used for agriculture ".&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-6914231819069662580?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/6914231819069662580/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2010/12/lots-of-potential-sand-plain-gumuk.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/6914231819069662580'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/6914231819069662580'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2010/12/lots-of-potential-sand-plain-gumuk.html' title='Lots of Potential Sand Plain Gumuk Containing Groundwater'/><author><name>Muh. Sholeh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09255886548890166137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_6BdsiwGInjM/TN5WxEU67NI/AAAAAAAAAHE/3Ty1264IaP0/S220/DSC00124.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-1970411745160462278</id><published>2010-11-28T23:00:00.000-08:00</published><updated>2010-11-28T23:00:12.513-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PPG'/><title type='text'>Perencanaan Penilaian Hasil Belajar</title><content type='html'>Penilaian hasil belajar merupakan proses sistematis dalam mengumpulkan informasi yang berupa angka dan deskripsi melalui tahap-tahap yang berkesinambungan. Guru dituntut melaksanakan penilaian hasil pekerjaan siswa melalui kegiatan yang rasional melalui penilaian hasil belajar. Selanjutnya, silahkan download materi dengan &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/12558669/RancanganPenilaianHasilBelajar.ppt.html"&gt;meng-klik di sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-1970411745160462278?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/1970411745160462278/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2010/11/perencanaan-penilaian-hasil-belajar.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/1970411745160462278'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/1970411745160462278'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2010/11/perencanaan-penilaian-hasil-belajar.html' title='Perencanaan Penilaian Hasil Belajar'/><author><name>Muh. Sholeh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09255886548890166137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_6BdsiwGInjM/TN5WxEU67NI/AAAAAAAAAHE/3Ty1264IaP0/S220/DSC00124.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-551473958846077273</id><published>2010-11-27T14:48:00.000-08:00</published><updated>2010-11-27T14:48:09.613-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Pendidikan'/><title type='text'>Dulu Dekan Termuda, Kini Guru Besar....</title><content type='html'>&lt;div class="artikel"&gt;&lt;div class="tab_1" id="foto1" style="display: block;"&gt;&lt;img height="164" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/08/18/1938137620X310.jpg" width="320" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="right w310 pl_10 pb_10 pt_5"&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- e: terkait --&gt;             &lt;/div&gt;&lt;div class="isi_berita pt_5"&gt;&lt;strong&gt;DEPOK, KOMPAS.com&lt;/strong&gt;  — Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) Firmanzah resmi  dikukuhkan sebagai  Guru Besar Tetap dalam Bidang Ilmu Manajemen  Stratejik, Rabu (18/8/2010) sore di Balai Sidang UI. Firmanzah  menyampaikan pidato pengukuhannya yang berjudul "Coordination-Capability  dan Daya Saing Nasional: Peran  ’Boundary-Spanner’ dalam Prespektif  Struktural-Interaksionisme".&lt;br /&gt;&lt;div class="quote"&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Firmanzah adalah Dekan FEUI sejak 2009 dan  merupakan dekan termuda dalam sejarah UI. Pria 34 tahun ini  menyelesaikan S-1 di FEUI, kemudian melanjutkan program &lt;em&gt;magister&lt;/em&gt;-nya  di UI dan University Pierre Mendes-Grenoble (Perancis). Ia meraih gelar  PhD dalam bidang manajemen stratejik internasional dari University of  Pau et Pays de l’ Adour (Perancis). Saat ini, Firmanzah tercatat sebagai  Guru Besar pertama dari jalur BHMN UI.&lt;br /&gt;Firmanzah mengemukakan, fokus studinya pada peran &lt;em&gt;boundary-spanner&lt;/em&gt; untuk melakukan koordinasi antarunit sangatlah penting. Kemampuan &lt;em&gt;boundary-spanner &lt;/em&gt;untuk secara aktif menjaga keterkaitan (&lt;em&gt;linkage)&lt;/em&gt;, kepercayaan (&lt;em&gt;trust&lt;/em&gt;),  kerja sama kelembagaan, berkomunikasi, dan menyelesaikan konflik  kelembagaan akan sangat menentukan kualitas koordinasi antarunit.&lt;br /&gt;Materialisasi dari tugas dan peran &lt;em&gt;boundary-spanner &lt;/em&gt;adalah &lt;em&gt;boundary-object&lt;/em&gt;  yang berfungsi sebagai obyek medium dan perekat interaksi antarunit.  Dengan demikian, kapabilitas koordinasi tidak hanya ditentukan oleh  kualitas &lt;em&gt;boundary-spanner&lt;/em&gt;, tetapi juga oleh &lt;em&gt;boundary-object&lt;/em&gt; yang mengambil bentuk seperti regulasi, kontrak, dan kesepakatan kerja.&lt;br /&gt;"Penerimaan  kolektif dari hal-hal tersebut berkorelasi positif terhadap hubungan  interaksionisme dari unit-unit terkait. Begitu juga sebaliknya,  terjaganya interaksi yang baik karena terdapat &lt;em&gt;common-understanding&lt;/em&gt;  dan koordinasi akan terbangun dan nantinya akan menghasilkan  kesepakatan yang dapat diterima oleh setiap unit.     Kohesivitas  antarunit akan mengurangi biaya transaksi dan menciptakan eksternalitas  positif bagi lingkungan eksternal," ujarnya.&lt;br /&gt;Oleh karena itu,  upaya meningkatkan daya saing Indonesia membutuhkan strategi penataan  hubungan kelembagaan, baik itu di lembaga tingkat nasional, daerah,  maupun industri. Menurut Firmanzah, pekerjaan ini merupakan tugas  kolektif dari setiap elemen bangsa Indonesia. Karena pengalaman sejumlah  negara seperti Finlandia, Singapura, China, Jepang, dan Amerika Serikat  menunjukkan bahwa pembangunan daya saing nasional selalu dimulai dari  perbaikan dan intesifikasi koordinasi kelembagaan.&lt;br /&gt;"Bangsa Indonesia membutuhkan pemimpin yang berperan sebagai &lt;em&gt;boundary-spanner&lt;/em&gt;  untuk berinteraksi dengan yang lain dalam membangun keterkaitan,  komunikasi, dan kerja sama kelembagaan. Hanya dengan ini, daya saing  Indonesia dapat ditingkatkan melalui penggabungan semua sumber daya dan  keunggulan nasional," ujar Firmanzah.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-551473958846077273?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/551473958846077273/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2010/11/dulu-dekan-termuda-kini-guru-besar.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/551473958846077273'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/551473958846077273'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2010/11/dulu-dekan-termuda-kini-guru-besar.html' title='Dulu Dekan Termuda, Kini Guru Besar....'/><author><name>Muh. Sholeh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09255886548890166137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_6BdsiwGInjM/TN5WxEU67NI/AAAAAAAAAHE/3Ty1264IaP0/S220/DSC00124.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-9116583294654820875</id><published>2010-11-26T23:59:00.000-08:00</published><updated>2010-11-26T23:59:58.867-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Kebumian'/><title type='text'>The eruption of Bromo and the Big 30 Year One</title><content type='html'>&lt;div class="isilist"&gt;                      &lt;img id="att_fotoimg" src="http://media.vivanews.com/thumbs2/2010/11/23/100135_bromo-siaga_300_225.jpg" width="315" /&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;$(document).ready(function(){            url = "http://nasional.vivanews.com/news/read/190874-letusan-bromo-dibarengi-material-abu";            timeout = 1320;            window.setTimeout('window.location= "' + url + '"; ',timeout*1000);        })     &lt;/script&gt;                 &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="long_text" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;Vivanews.com. During  the 20th century, the mountain is famous as a tourist it erupted three  times, with regular time intervals, namely 30 years. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;The biggest eruptions occurred in 1974, while the last eruption occurred in 2004.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;History  Bromo eruption occurred in 2004, 2001, 1995, 1984, 1983, 1980, 1972,  1956, 1955, 1950, 1948, 1040, 1939, 1935, 1930, 1929, 1928, 1922, 1921,  1915, 1916, 1910, 1909 &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;, 1907, 1908,  1907, 1906, 1907, 1896, 1893, 1890, 1888, 1886, 1887, 1886, 1885, 1886,  1885, 1877, 1867, 1868, 1866, 1865, 1865, 1860, 1859, 1858, 1858 &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;, 1857, 1856, 1844, 1843, 1843, 1835, 1830, 1830, 1829, 1825, 1822, 1823, 1820, 1815, 1804, 1775, and 1767.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Mount  Bromo has a height of 2392 meters above sea level (DPL) located in four  districts, namely Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, and Malang. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Mount  Bromo mesh topography between the valley and the canyon with a caldera  or a sea of sand covering some 10 square kilometers. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Mount Bromo has a crater with a diameter of about 800 meters (north-south) and 600 meter (east-west). &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;While the danger area of a circle with a radius of 4 kilometers from the central crater of Bromo.&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Bromo is one of the strato volcano type A and is located in the Tengger Caldera. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;This is the youngest volcano in the ranks of the Tengger caldera, are like Mount Widodaren, Chair, Segorowedi, and Shell.&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Tengger Caldera itself measuring 9 x 10 kilometers, surrounded by steep cliffs with a height of 50 to 500 meters. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Mountain range in the caldera surrounded by volcanic rocks Ancient Tengger mountain. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Northern caldera floor is composed of sandstone, while the east and south of the caldera is dominated by grasses. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Mount  Bromo can be achieved through two ways, namely through the trajectory  Probolinggo, Sukapura, Ngadisari to Cemoro Lawang which is the Sand Sea  caldera wall that can be carried by vehicles, then followed by a path  through the sea of sand.&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Climbing to the peak and ridge of the crater can be done easily via the staircase wall is available. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;The second path is through Pasuruan, Tosari, Ravine Munggal, Ocean Sand until Bromo stairs.&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;In  addition to providing disaster impacts in the event of volcanic  activity at Bromo, the positive side existence of these volcanoes also  can we see a resource inventory of the volcano, like a natural tourist  attraction.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-9116583294654820875?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/9116583294654820875/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2010/11/eruption-of-bromo-and-big-30-year-one.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/9116583294654820875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/9116583294654820875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2010/11/eruption-of-bromo-and-big-30-year-one.html' title='The eruption of Bromo and the Big 30 Year One'/><author><name>Muh. Sholeh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09255886548890166137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_6BdsiwGInjM/TN5WxEU67NI/AAAAAAAAAHE/3Ty1264IaP0/S220/DSC00124.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-503940998783376491</id><published>2010-11-26T23:55:00.000-08:00</published><updated>2010-11-26T23:55:26.695-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Kebumian'/><title type='text'>Bromo Meletus, Abu Vulkanik Menuju Malang</title><content type='html'>&lt;div class="isilist"&gt;                      &lt;img id="att_fotoimg" src="http://media.vivanews.com/thumbs2/2010/11/24/100248_aktivitas-gunung-bromo-meningkat_300_225.jpg" width="315" /&gt;     &lt;div class="tgl_artikel" id="att_fotocaption"&gt;Aktivitas Gunung Bromo meningkat (ANTARA/Musyawir)&lt;/div&gt;&lt;div class="listberita"&gt;                         &lt;div class="titlebox"&gt;BERITA TERKAIT&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;        $(document).ready(function(){            url = "http://nasional.vivanews.com/news/read/190875-bromo-meletus--ini-sejarahnya";            timeout = 1320;            window.setTimeout('window.location= "' + url + '"; ',timeout*1000);        })     &lt;/script&gt;                 &lt;/div&gt;&lt;!--&lt;span id="advenueINTEXT" name="advenueINTEXT"&gt; --&gt;      &lt;strong&gt;VIVAnews&lt;/strong&gt; - &lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;Mount Bromo re-issued a small eruption. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;This time the volcanic eruption in East Java, was issued a volcanic ash. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;"Report  of the Special Staff team, Bromo eruption that occurred this morning  resulted in a thin volcanic ash," said President of the Special Staff of  Social Affairs and Disaster Management, Andi Arief, Saturday, November  27, 2010. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Thin volcanic ash is estimated to reach a height of about 600 to 1,000 meters, or nearly 1 kilometer. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Based on information from the Observation Post in Sukapura Mount Bromo, Probolinggo, the eruption took place around 05.00 pm.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Letusan itu hampir bersamaan dengan gempa vulkanik dangkal  yang terjadi sekitar 11 kali yang beramplitudo 11-15 milimeter. Abu  vulkanik yang terpantau berwarna agak kehitaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Andi  Arief, abu vulkanik itu jatuh di kawasan Malang, Jawa Timur. "Jatuh di  Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Saat ini, jajaran  Muspika Kecamatan sudah berkoordinasi di lapangan," ujar Andi Arief. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letusan  kecil terakhir terjadi sekitar pukul 17.22 WIB kemarin. Sejak pukul  00.00 hingga 12.00 kemarin, tercatat terjadi 50 kali gempa vulkanik  dangkal dengan amplituda 6 milimeter hingga 36 milimeter. Dibarengi  dengan terjadinya gempa tremor kisaran 1,5 milimeter hingga 5 milimeter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari  catatan pos pantau, gempa vulkanik di Bromo mengalami peningkatan  dibanding hari-hari sebelumnya. "Itu, disebabkan karena adanya  penyumbatan lubang kawah," kata penjaga pos pantau Achmad Subhan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-503940998783376491?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/503940998783376491/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2010/11/bromo-meletus-abu-vulkanik-menuju.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/503940998783376491'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/503940998783376491'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2010/11/bromo-meletus-abu-vulkanik-menuju.html' title='Bromo Meletus, Abu Vulkanik Menuju Malang'/><author><name>Muh. Sholeh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09255886548890166137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_6BdsiwGInjM/TN5WxEU67NI/AAAAAAAAAHE/3Ty1264IaP0/S220/DSC00124.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-3833588322606432338</id><published>2010-11-23T05:22:00.000-08:00</published><updated>2010-11-23T05:22:05.837-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Geomorfologi'/><title type='text'>Informasi MID Geomorfologi Umum</title><content type='html'>Diinformasikan kepada mahasiswa yang mengikuti kuliah Geomorfologi umum, kepastian diterima atau tidaknya kiriman jawaban MID saudara silahkan &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/12662143/INFORMASIMIDGEOMORFOLOGI.doc.html"&gt;klik di sini&lt;/a&gt;. Bagi mahasiswa yang belum mengumpulkan masih diberi kesempatan untuk mengumpulkan dengan ketentuan yang sama paling lambat 1 Desember 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-3833588322606432338?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/3833588322606432338/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2010/11/informasi-mid-geomorfologi-umum.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/3833588322606432338'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/3833588322606432338'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2010/11/informasi-mid-geomorfologi-umum.html' title='Informasi MID Geomorfologi Umum'/><author><name>Muh. Sholeh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09255886548890166137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_6BdsiwGInjM/TN5WxEU67NI/AAAAAAAAAHE/3Ty1264IaP0/S220/DSC00124.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-8364020189596105092</id><published>2010-11-22T17:06:00.000-08:00</published><updated>2010-11-22T17:06:06.960-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Pendidikan'/><title type='text'>Menggagas Kurikulum Siaga Bencana</title><content type='html'>Oleh S Agung Nugroho&lt;br /&gt;KITA baru sadar negara kita merupakan daerah rawan bencana&amp;nbsp; ketika musibah telah datang. Selain sangat eksotis, negeri ini juga rawan bencana, karena secara geografis terletak di lempengan dan patahan Asia.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Berpijak hal tersebut, perlu kiranya ada kurikulum yang membahas tentang kesiagaan terhadap bencana di sekolah, mengingat pada saat terjadinya bencana akan dapat menimpa siapa saja. Lewat kurikulum sekolah siaga bencana dapat membantu pemerintah dalam melakukan proses penanganan bencana, meskipun kita tahu ada lembaga sosial seperti PMI, Depsos, LSM lain.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerapan kurikulum siaga bencana diharapkan dapat melatih respons peserta didik dalam keadaan tanggap darurat. Dengan pengetahuan itu dimungkinkan mengurangi penyimpangan yang dilakukan manakala mereka kelak menjadi pejabat publik/pengambil keputusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Implementasi kurikulum sekolah siaga bencana tidak perlu masuk dalam pembelajaran tersendiri, melainkan dapat terintegrasi pada mata pelajaran yang ada, seperti PKn, tersisipkan bagaimana kita melayani korban bencana dengan baik.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pelajaran IPS dan IPA, dapat disisipkan pengetahuan tentang kondisi geografi dan kerawanannya, sehingga siswa mampu memahami gejala-gejala alam bila akan terjadi bencana. Termasuk dalam Mapel Agama dapat diaplikasikan pemahaman bahwa bencana merupakan ujian yang sedang diberikan Tuhan YME, sehingga kita harus tabah menerimanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Mapel teknik/IPA, dapat disampaikan bagaimana mendesain bangunan tahan gempa, banjir, daerah mana yang aman untuk pemukiman, maupun dalam mata pelajaran lain. Penerapan kurikulum sekolah siaga bencana dapat melibatkan berbagai lembaga terkait. Termasuk dalam proses sosialisasi. Harapannya program tersebut selaras dengan program pendidikan karakter, karena pada hakikatnya kita merupakan masyarakat yang berbudaya.&amp;nbsp; (37)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;— Drs S Agung Nugroho (tito) MM CHt, kasek SMP 23 Semarang, relawan PMI&amp;nbsp;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-8364020189596105092?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/8364020189596105092/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2010/11/menggagas-kurikulum-siaga-bencana.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/8364020189596105092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/8364020189596105092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2010/11/menggagas-kurikulum-siaga-bencana.html' title='Menggagas Kurikulum Siaga Bencana'/><author><name>Muh. Sholeh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09255886548890166137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_6BdsiwGInjM/TN5WxEU67NI/AAAAAAAAAHE/3Ty1264IaP0/S220/DSC00124.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-7007786274480385628</id><published>2010-11-22T17:04:00.000-08:00</published><updated>2010-11-22T17:04:15.941-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Pendidikan'/><title type='text'>Lembaga Pendidikan Islam Perlu Benahi Manajemen</title><content type='html'>&lt;h2&gt;&lt;/h2&gt;&lt;a class="image" href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/pendidikan/newsdetail/48531/Lembaga-Pendidikan-Islam-Perlu-Benahi-Manajemen#"&gt;&lt;img align="left" alt="image" height="128" hspace="5" src="http://suaramerdeka.com/foto_aktual/010d8162b1fba4b05de7d895b350ebb2.jpg" width="160" /&gt;       &lt;/a&gt;           &lt;strong&gt;Blora, CyberNews.&lt;/strong&gt; Pada era globalisasi dewasa ini yang salah satunya ditandai dengan semakin majunya teknologi, menuntut lembaga pendidikan Islam harus bisa menyesuaikan diri dan berkompetisi dengan lembaga pendidikan lain.&lt;br /&gt;Hal tersebut dikemukakan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Magelang (UMM), Prof Dr H Achmadi, disela-sela menghadiri halalbihalal sekaligus pembinaan terhadap pengurus cabang dan daerah Muhammadiyah di Blora, Selasa (28/9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;"Minimal, ada dua hal yang perlu pembenahan di institusi pendidikan Islam, mulai dari tingkat lapis bawah sampai perguruan tinggi, yaitu masalah kualitas dan manajemen" ujarnya kepada CyberNews di Gedung Haji Muhammadiyah Jalan KH Ahmad Dahlan No 12 Blora.&lt;br /&gt;Mengenai manajemen sendiri, menurut sang rektor yang juga dosen Pascasarjana IAIN Walisongo Semarang, juga masih dibagi lagi dalam dua komponen, yaitu kelembagaan dan proses pembelajaran. "Kedua hal ini harus diperhatikan, jika institusi pendidikan Islam ingin maju dan bersaing dengan institusi pendidikan lain."&lt;br /&gt;Untuk saat ini, terangnya, dunia pendidikan Islam, tak terkecuali di Indonesia, masih terhegemoni oleh peradaban global. "Kalau ingin eksis, kita harus bisa bersaing di dunia global ini, kalau tidak, maka akan tertinggal," tambahnya.&lt;br /&gt;Prof Achmadi mengatakan, lembaga pendidikan Islam yang dikelola dengan baik,ternyata banyak dicari orang. "Perhatian masyarakat terhadap pendidikan Islam sudah menggeliat, seperti Nasima dan Al Azhar di Semarang," katanya menyontohkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatian Meningkat &lt;br /&gt;Di sisi lain, Achmadi mengemukakan, perhatian pemerintah terhadap pendidikan Islam saat ini, juga semakin baik. "Kalau bicara soal adil, sudah mendekati adil, lah. Jauh jika dibandingkan dengan lima atau 10 tahun lalu," paparnya.&lt;br /&gt;Ia mencontohkan, perguruan tinggi seperti IAIN, yang dulu hanya mengurusi pendidikan agama saja, kini sudah diberi keluasan untuk menyelenggarakan pendidikan yang lain. "Sekarang bahkan sudah banyak yang jadi UIN (Universitas Islam Negeri-Red)," katanya.&lt;br /&gt;Pada kesempatan itu Achmadi pun berpesan, bahwa dalam mengelola sebuah lembaga pendidikan, seorang pimpinan harus memerankan dua peran sekaligus. "Pimpinan di lembaga pendidikan Islam harus bisa menjadi leader di satu sisi dan menjadi manajer di sisi yang lain," tegasnya. (Rosidi,CN23)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-7007786274480385628?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/7007786274480385628/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2010/11/lembaga-pendidikan-islam-perlu-benahi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/7007786274480385628'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/7007786274480385628'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2010/11/lembaga-pendidikan-islam-perlu-benahi.html' title='Lembaga Pendidikan Islam Perlu Benahi Manajemen'/><author><name>Muh. Sholeh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09255886548890166137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_6BdsiwGInjM/TN5WxEU67NI/AAAAAAAAAHE/3Ty1264IaP0/S220/DSC00124.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-3688216503106872665</id><published>2010-11-22T13:58:00.000-08:00</published><updated>2010-11-22T13:58:23.499-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Pendidikan'/><title type='text'>Sekolah Swasta Diabaikan, Sampai Kapan?</title><content type='html'>&lt;div class="judul_artikel"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="font12 c_abu pt_5"&gt;Laporan wartawan &lt;strong class="c_abu5"&gt;KOMPAS Ester Lince Napitupulu&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="c_blue_kompas font11 pb_10 pt_3"&gt;Senin, 22 November 2010 | 21:29 WIB&lt;/div&gt;&lt;div class="artikel"&gt;&lt;div class="tab_1" id="foto1" style="display: block;"&gt;&lt;img height="102" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/01/25/1229261620X310.jpg" width="200" /&gt;&lt;div align="right" class="font10"&gt;M.LATIEF/KOMPAS IMAGES&lt;/div&gt;Ilustrasi: Kesempatan untuk pengembangan diri para guru juga lebih dititikberatkan pada guru-guru pegawai negeri sipil (PNS). &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="right w310 pl_10 pb_10 pt_5"&gt;               &lt;!-- s: terkait --&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- e: terkait --&gt;             &lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;JAKARTA, KOMPAS.com&lt;/strong&gt;  - Dalam perjalanan sejarah bangsa ini, sekolah swasta justru punya  andil luar biasa mencerdaskan kehidupan bangsa. Perguruan swasta atau  sekolah-sekolah yang didirikan masyarakat justru menjadi perintis  lahirnya sekolah di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;div class="quote"&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;"Pemerintah tidak bisa begitu saja melupakan  peran sekolah swasta di negeri ini.  Ketika banyak sekolah swasta yang  butuh dukungan, pemerintah harus turun tangan. Tetapi ini tidak  terjadi," kata  Darmaningtyas, pengurus Majelis Luhur Perguruan  Tamansiswa, di Jakarta, Senin (22/11/2010).&lt;br /&gt;Pemerintah, ujar  Darmaningtyas, tidak boleh menutup pada pada sekolah-sekolah swasta  kecil atau gurem yang melayani anak-anak dari keluarga tidak mampu.  "Kalau pemerintah tidak sungguh-sungguh membantu sekolah swasta kecil  atau pinggiran, berarti pemerintah telah sangat diskriminatif pada  anak-anak bangsa lainnya yang juga berhak menyelesaikan pendidikan dasar  berkualitas," kata Darmaningtyas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Darmaningtyas,  yang juga bergabung dalam Tim Advokasi Keadilan Pelayanan Pendidikan  Dasar Untuk Anak Bangsa, peran sekolah-sekolah swasta kini diabaikan dan  tidak ada keberpihakan pada sekolah swasta yang kontribusinya luar  biasa bagi negeri ini.&lt;br /&gt;Darmaningtyas mengatakan, kucuran dana bantuan operasional sekolah (BOS) untuk SD dan SMP swasta tergantung &lt;em&gt;political will &lt;/em&gt;dari  pemerintah daerah. Untuk memperoleh BOS tidak mudah, bahkan dana yang  diberikan tidak sesuai dengan jumlah siswa di sekolah swasta.&lt;br /&gt;"Padahal,  sekolah itu butuh karena memang kemampuan terbatas. Apalagi sekolah  swasta yang melayani anak-anak dari keluarga tidak mampu," kata  Darmaningtyas.&lt;br /&gt;Kesempatan untuk pengembangan diri para guru juga  lebih dititikberatkan pada guru-guru pegawai negeri sipil (PNS).  Demikian juga dengan jatah sertifikasi guru, pemerintah memberikan porsi  yang kecil bagi guru swasta dibandingkan guru PNS.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-3688216503106872665?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/3688216503106872665/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2010/11/sekolah-swasta-diabaikan-sampai-kapan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/3688216503106872665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/3688216503106872665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2010/11/sekolah-swasta-diabaikan-sampai-kapan.html' title='Sekolah Swasta Diabaikan, Sampai Kapan?'/><author><name>Muh. Sholeh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09255886548890166137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_6BdsiwGInjM/TN5WxEU67NI/AAAAAAAAAHE/3Ty1264IaP0/S220/DSC00124.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-3957613085921693137</id><published>2010-11-22T13:56:00.000-08:00</published><updated>2010-11-22T13:56:26.027-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Pendidikan'/><title type='text'>Awas, UN (Masih) Jadi Komoditas Politik!</title><content type='html'>&lt;div class="judul_artikel"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="c_blue_kompas font11 pb_10 pt_3"&gt;Senin, 22 November 2010 | 17:34 WIB&lt;/div&gt;&lt;div class="artikel"&gt;&lt;div class="tab_1" id="foto1" style="display: block;"&gt;&lt;img height="125" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/02/25/1917086620X310.JPG" width="200" /&gt;&lt;div align="right" class="font10"&gt;KRISTIANTO PURNOMO/KOMPAS IMAGES&lt;/div&gt;Ilustrasi:  Perilaku pengelola sekolah, guru, maupun pemerintahan daerah hanya  terpaku pada angka kelulusan. Hal itu dikhawatirkan akan menggeser  paradigma pendidikan yang seharusnya menekankan pada aspek proses  menjadi hanya kepada aspek hasil.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="isi_berita pt_5"&gt;&lt;strong&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;BOGOR, KOMPAS.com&lt;/strong&gt;  - Ujian Nasional (UN) sudah  menjadi komoditas politik. Pasalnya,  Pemerintah Daerah kini berlomba-lomba meningkatkan angka kelulusan UN  agar dianggap berhasil dan dijadikan alat kampanye pilkada  berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;div class="quote"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Padahal,  kajian yang dilakukan oleh panitia  Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2010,    menunjukkan bahwa nilai UN tidak mencerminkan kesiapan peserta didik  untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi atau bekerja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"UN  sekarang sudah menjadi komoditas politik, hanya mengejar jumlah siswa  lulus. Bahkan, kepala daerah, sekolah,  dan guru menjadikan UN sebagai  prestasi keberhasilan kepemimpinannya,"  kata Rohmani, anggota Komisi X  DPR RI dalam siaran pers yang dikirimnya lewat surat elektronik, Senin  (22/11/2010).&lt;br /&gt;Menurut Rohmani, karena  sudah menjadi komoditas  politik itu  yang menyebabkan setiap tahunnya  tetap terjadi praktik  kecurangan terhadap  UN, seperti pembocoran soal ujian dan guru memberi  kunci jawaban kepada muridnya. Di sisi lain, tidak sedikit pemerintah  daerah membiarkan kecurangan tersebut.&lt;br /&gt;"Demi mengejar angka kelulusan yang tinggi, pemerintah daerah melakukan apa saja agar dapat mewujudkannya," ujar Rohmani.&lt;br /&gt;Ia  menyatakan kekhawatirannya atas prilaku pengelola sekolah, guru,   maupun pemerintahan daerah yang hanya terpaku pada angka kelulusan.  Sebab,  prilaku tersebut akan  menggeser paradigma pendidikan yang  seharusnya menekankan pada aspek proses menjadi hanya  kepada aspek  hasil.&lt;br /&gt;Model UN yang dilakukan oleh pemerintah selama ini sangat  tidak sesuai tujuan, bahkan telah keluar dari paradigma pendidikan  bangsa yaitu membentuk insan yang cerdas dan bertaqwa. UN seharusnya  tidak boleh menjadi   veto  bagi pemerintah untuk menentukan kelulusan  siswa, karena hal itu dinilai mengabaikan proses pembelajaran dan  keragaman potensi siswa.&lt;br /&gt;Rohmani juga mengaku heran dengan sikap  pemerintah yang terus memaksakan UN. Padahal, DPR telah meminta  pemerintah untuk merubah model UN agar tidak menjadi penentu kelulusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami  di komisi X DPR RI telah berkali-kali meminta pemerintah untuk  merubah  model UN yang sekarang, tetapi entah mengapa tidak pernah digubris dan  terus memaksakan model UN  itu diterapkan,"  ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rohmani  juga meminta agar kewewenangan dalam menentukan kelulusan siswa  diserahkan kepada sekolah, karena sekolah dianggap lebih dapat  mengetahui keberhasilan pembelajaran peserta didiknya. Dengan demikian  tujuan pendidikan akan lebih tercapai," kata dia.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-3957613085921693137?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/3957613085921693137/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2010/11/awas-un-masih-jadi-komoditas-politik.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/3957613085921693137'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/3957613085921693137'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2010/11/awas-un-masih-jadi-komoditas-politik.html' title='Awas, UN (Masih) Jadi Komoditas Politik!'/><author><name>Muh. Sholeh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09255886548890166137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_6BdsiwGInjM/TN5WxEU67NI/AAAAAAAAAHE/3Ty1264IaP0/S220/DSC00124.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-543714330420977038</id><published>2010-11-22T13:53:00.000-08:00</published><updated>2010-11-22T13:53:14.783-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Kebumian'/><title type='text'>Ancaman Lahar Dingin</title><content type='html'>&lt;div class="c_blue_kompas font11 pb_10 pt_3"&gt;Sabtu, 20 November 2010 | 02:54 WIB&lt;/div&gt;&lt;lead&gt;&lt;/lead&gt;Yogyakarta, Kompas&lt;bell&gt;&lt;/bell&gt;  - Perhatian Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan  Geologi kini difokuskan pada ancaman bahaya sekunder Gunung Merapi,  yaitu berupa banjir lahar dingin di sungai-sungai yang berhulu di Gunung  Merapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;”Aktivitas Merapi sudah terdeteksi menurun dari segi  jumlah ataupun energi letusan. Karena itu, tidak ada alasan lagi  mempertahankan radius ancaman primer,” ujar Kepala Pusat Vulkanologi dan  Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Surono di Yogyakarta, Jumat  (19/11).&lt;br /&gt;Ancaman lebih serius muncul dari gelontoran lahar dingin  yang akan dibawa sejumlah sungai yang masuk ke kawasan perkotaan dan  permukiman. Sejak meletus 26 Oktober, Badan Geologi memperkirakan,  volume material vulkanik yang dimuntahkan Merapi mencapai 140 juta meter  kubik. Oleh karena itu, Surono terus berkoordinasi dengan Badan  Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika dalam memantau curah hujan.&lt;br /&gt;Meski  status Merapi masih Awas, sejak Jumat pagi radius bahaya dari puncak  Merapi dikurangi. Di Boyolali menjadi 5 kilometer (km) dan di Magelang  menjadi 10 km, sementara di Kabupaten Klaten tetap 10 km. Di Sleman  (DIY), di sisi timur Kali Boyong, radius bahaya diturunkan dari 20 km  menjadi 15 km. Di sisi barat Kali Boyong turun menjadi 10 km.&lt;br /&gt;Penurunan  aktivitas vulkanik Merapi diikuti kembalinya para pengungsi ke kampung  halaman mereka di Kabupaten Sleman, Klaten, Boyolali, dan Magelang.&lt;br /&gt;Di  Jakarta, Wakil Presiden Boediono menyiapkan sejumlah program padat  karya untuk memulihkan kondisi psikis, sosial, dan ekonomis eks  pengungsi itu. Program itu disiapkan di Sleman, Magelang, Boyolali, dan  Klaten. Wapres meminta Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung  Laksono menyusun program padat  ?    karya te.&lt;br /&gt;Demikian penjelasan Juru Bicara Wapres, yang juga Staf Khusus Bidang Media Massa Yopie Hidayat di Jakarta, Jumat. (Tim Kompas)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-543714330420977038?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/543714330420977038/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2010/11/ancaman-lahar-dingin.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/543714330420977038'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/543714330420977038'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2010/11/ancaman-lahar-dingin.html' title='Ancaman Lahar Dingin'/><author><name>Muh. Sholeh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09255886548890166137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_6BdsiwGInjM/TN5WxEU67NI/AAAAAAAAAHE/3Ty1264IaP0/S220/DSC00124.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-8557838559828821289</id><published>2010-11-22T13:51:00.000-08:00</published><updated>2010-11-22T13:51:29.647-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Kebumian'/><title type='text'>Lahar Dingin Menguruk Areal Pertanian</title><content type='html'>&lt;div class="judul_artikel"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="c_blue_kompas font11 pb_10 pt_3"&gt;Senin, 22 November 2010 | 12:37 WIB&lt;/div&gt;&lt;div class="artikel"&gt;&lt;div class="tab_1" id="foto1" style="display: block;"&gt;&lt;img src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/11/04/1559027620X310.jpg" /&gt;&lt;div align="right" class="font10"&gt;KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO&lt;/div&gt;Warga  menyaksikan banjir lahar dingin yang melewati Kali Kuning, Pakem,  Sleman, DI Yogyakarta, Kamis (4/11/2010). Banjir lahar dingin tersebut  mengakibatkan jembatan dam yang menghubungkan Pakem-Cangkringan jebol.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="right w310 pl_10 pb_10 pt_5"&gt;               &lt;!-- s: terkait --&gt;               &lt;div class="pd_5 hl_1 c_orange"&gt;&lt;strong&gt;TERKAIT:&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="list_4 hl_1 c_blue_kompas pb_10 bl_1"&gt;      &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;      &lt;/div&gt;&lt;!-- e: terkait --&gt;             &lt;/div&gt;&lt;div class="isi_berita pt_5"&gt;&lt;strong&gt;MAGELANG, KOMPAS.com -&lt;/strong&gt;  Banjir lahar dingin melalui Kali Batang menutup sedikitnya 10 hektar  areal pertanian warga Desa Mantingan, Kecamatan Salam, Kabupaten  Magelang, Jawa Tengah. "Sedikitnya 10 hektar lahan pertanian tertutup  material Gunung Merapi," kata Sekretaris Desa Mantingan Daman Huri, di  Magelang, Senin (22/11/2010).&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Banjir lahar dingin dari  Gunung Merapi yang melewati sungai itu pada Minggu (21/11/2010) sejak  sekitar pukul 18.30 WIB hingga Senin (22/11/2010) sekitar pukul 01.00  WIB. Ia mengatakan, lahan pertanian warga setempat saat ini sedang  ditanami antara lain beberapa jenis sayuran dan palawija.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Material  terutama pasir yang meluap akibat terbawa arus deras air sungai itu,  katanya, hingga saat ini menutup areal hingga berjarak sekitar 300 meter  dari pemukiman warga di beberapa dusun setempat.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Ia  mengatakan, Jembatan Keron yang menghubungkan Dusun Keron, Desa  Mantingan dengan Dusun Kadipolo, Desa Salam, rusak cukup berat. Arus air  setinggi satu meter pada sekitar pukul 10.30 WIB terlihat melewati  jalan di atas jembatan dengan panjang sekitar 10 meter dan lebar sekitar  tiga meter itu.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Tidak terlihat warga dari dua seberang  sungai berani melewati jembatan itu karena arus air tampak deras  melewati atas jembatan tersebut. Pada situasi arus air sungai normal,  ketinggian air hingga sekitar tiga meter dari gelagar jembatan.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Puluhan  warga di lokasi sekitar 300 meter dari jembatan itu terlihat kerja  bakti menyingkirkan batu dan pepohonan di sungai itu agar air tidak  meluap lagi ke bantaran. Sekitar pukul 10.49 WIB mereka terlihat  bergegas meninggalkan sungai karena di antara mereka telah melihat arus  air semakin deras yang diperkirakan terjadi banjir susulan. Hingga  sekitar pukul 11.15 WIB tidak terlihat banjir susulan tersebut tetapi  mereka telah menyingkir dari tengah sungai tersebut.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Ia  mengatakan, hujan turun di kawasan itu pada Minggu (21/11) sejak sekitar  pukul 16.00 hingga 19.00 WIB. "Tidak ada korban akibat banjir tersebut,  tetapi lima bendungan di sepanjang aliran sungai di desa setempat yakni  Bendungan Keron, Mantingan, Ngingas, Duwet, dan Tembenan rusak terkena  dampak banjir tersebut," katanya.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Saat ini, katanya, kawasan  pemukiman setempat lebih rendah ketimbang endapan material Merapi yang  terbawa banjir melewati sungai setempat. Pemerintah desa setempat telah  melaporkan peristiwa tersebut kepada pemerintah kabupaten setempat untuk  penanganan lebih lanjut.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Pihaknya juga telah menyiapkan  rencana evakuasi warga jika terjadi banjir susulan. Anggota organisasi  pemuda setempat untuk pemantauan bantaran Kali Batang di Desa Mantingan,  "Pemuda Prigel", Asngari, mengatakan, banjir lahar dingin pada Minggu  (21/11/2010) malam di sungai itu sebagai peristiwa kelima selama letusan  Merapi 2010.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;"Ini yang kelima, dan banjir tadi malam  (21/11) yang paling deras dengan membawa material Merapi, suaranya  bergemuruh," katanya. Ia mengatakan, cukup banyak warga menyaksikan  banjir lahar dingin tersebut sambil mewaspadai kemungkinan luapan  material hingga perkampungan setempat.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Luapan air pada titik  tertinggi banjir, katanya, hingga sekitar dua meter di atas jembatan.  Sungai Batang sebagai sambungan atas Sungai Putih dan Madu. Tanggul  sungai Putih telah jebol akibat banjir beberapa hari lalu, sebelum  Minggu (21/11/2010), sehingga lahar dingin mengalir melewati Sungai Madu  dan Batang.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Pada 1969, katanya, warga setempat pernah  mengalami banjir lahar dingin cukup besar yang melewati alur sungai itu.  Camat Ngluwar, Bambang Prasetyo Hariyadi, mengatakan, alur sungai itu  juga melewati sejumlah desa di wilayah setempat seperti Sumokaton,  Bligo, Pakunden, dan Ngluwar.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;"Bahkan ada sejumlah rumah  warga yang letaknya sekitar lima meter dari bibir sungai, sehingga warga  kami juga mewaspadai kemungkinan banjir lahar dingin susulan," katanya.  Ia mengatakan, areal pertanian warga setempat yang dekat dengan alur  sungai itu juga terancam terkena banjir susulan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-8557838559828821289?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/8557838559828821289/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2010/11/lahar-dingin-menguruk-areal-pertanian.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/8557838559828821289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/8557838559828821289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2010/11/lahar-dingin-menguruk-areal-pertanian.html' title='Lahar Dingin Menguruk Areal Pertanian'/><author><name>Muh. Sholeh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09255886548890166137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_6BdsiwGInjM/TN5WxEU67NI/AAAAAAAAAHE/3Ty1264IaP0/S220/DSC00124.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-8286198998194217011</id><published>2010-11-22T13:36:00.000-08:00</published><updated>2010-11-22T13:36:41.606-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SMI'/><title type='text'>MID SMI Susulan</title><content type='html'>Bagi mahasiswa yang belum mengikuti MID SMI, MID susulan akan dilaksanakan pada hari Kamis, 25 November 2010 jam 15.00 di C5 Lt3 Ruang 301A. Atas perhatiannya diucapkan terima kasih&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-8286198998194217011?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/8286198998194217011/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2010/11/mid-smi-susulan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/8286198998194217011'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/8286198998194217011'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2010/11/mid-smi-susulan.html' title='MID SMI Susulan'/><author><name>Muh. Sholeh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09255886548890166137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_6BdsiwGInjM/TN5WxEU67NI/AAAAAAAAAHE/3Ty1264IaP0/S220/DSC00124.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-5975157777698148123</id><published>2010-11-21T13:51:00.000-08:00</published><updated>2010-11-21T13:51:24.474-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Geografi Pariwisata'/><title type='text'>Gedung Opera Sydney Tampilkan Wayang Orang</title><content type='html'>&lt;div class="judul"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="isilist"&gt;                      &lt;img id="att_fotoimg" src="http://media.vivanews.com/thumbs2/2010/05/20/89768_wayang_orang_300_225.jpg" width="315" /&gt;     &lt;div class="tgl_artikel" id="att_fotocaption"&gt;Pertunjukan Wayang Orang (Iwan Heriyanto | Surabaya Post)&lt;/div&gt;&lt;div class="listberita"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;        $(document).ready(function(){            url = "http://showbiz.vivanews.com/news/read/181872-wapres-diminta-hidupkan-wayang-orang";            timeout = 1320;            window.setTimeout('window.location= "' + url + '"; ',timeout*1000);        })     &lt;/script&gt;                                       &lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;VIVAnews&lt;/strong&gt; - Gedung Opera Sydney dikenal  sebagai salah satu tempat terkemuka untuk konser musik klasik dan teater  drama kelas dunia. Namun, gedung seni yang menjadi kebanggaan Australia  itu juga akan mementaskan pertunjukan wayang orang. Pentas berlangsung  pada 18 Desember mendatang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian ungkap budayawan Jaya  Suprana. Sebagai pemrakarsa pertunjukan itu, Jaya menilai bahwa  pagelaran wayang orang di Gedung Opera Sydney merupakan bentuk pengakuan  dari kalangan pemerhati seni tingkat dunia atas budaya bangsa  Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami sangat bahagia ternyata pihak Sydney Opera  House berminat juga kepada wayang orang. Ini penghargaan besar buat  pengakuan budaya kita di mata dunia, bukti budaya tradisional kita  banyak peminatnya" kata Jaya saat dihubungi &lt;em&gt;VIVAnews&lt;/em&gt;, Minggu 21 November 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  rilisnya pula, Jaya juga mengungkapkan pada awalnya hanya merasa  bermimpi wayang orang akan bisa manggung di Sydney Opera House. "Awalnya  saya merasa sangat &lt;em&gt;impossible&lt;/em&gt; dan gila,tapi ini buktinya seni budaya kita banyak yang mengaguminya," tutur Jaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  pementasan di Sydney nanti, lakon yang akan disajikan berjudul  "Ganjaran Gatotkaca". Mengenai pemilihan lakon Gatotkaca, Jaya  mengatakan bahwa&amp;nbsp; tokoh tersebut menampilkan sisi "superhero" dan juga  kepahlawanan. "Tak ada dalam tokoh-tokoh superhero di dunia ini yang  mampu sekuat Gatotkaca. Jadi itulah sebabnya kami memilihnya," tutur  Jaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pementasan yang diperkirakan akan menyedot banyak  pengunjung ini berdurasi sekitar 1,5 jam. Para pemeran akan  bercakap-cakap dalam bahasa Jawa kromo inggil. Namun, Bahasa Inggris  juga akan dipakai sebagai narasi.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai ajang pemanasan  sebelum manggung Sydney Opera House, gelaran ini akan tampil di Balai  Sarbini, Jakarta, pada Senin 22 November 2010. (sj)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-5975157777698148123?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/5975157777698148123/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2010/11/gedung-opera-sydney-tampilkan-wayang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/5975157777698148123'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/5975157777698148123'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2010/11/gedung-opera-sydney-tampilkan-wayang.html' title='Gedung Opera Sydney Tampilkan Wayang Orang'/><author><name>Muh. Sholeh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09255886548890166137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_6BdsiwGInjM/TN5WxEU67NI/AAAAAAAAAHE/3Ty1264IaP0/S220/DSC00124.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-2190176994239645583</id><published>2010-11-21T12:42:00.000-08:00</published><updated>2010-11-21T12:42:58.674-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Entrepreneurship'/><title type='text'>Budidaya Lele yang Murah Meriah</title><content type='html'>&lt;span class="judul"&gt;&lt;/span&gt;      &lt;span class="reporter"&gt;&lt;strong&gt;Akhmad Nurismarsyah&lt;/strong&gt; - detikFinance&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Jakarta&lt;/strong&gt; -  Pekarangan rumah luas dan Anda suka budidaya ikan? Ada baiknya Anda  melirik budidaya lele ini. Budidaya lele ini ternyata tak melulu 'jorok'  karena sudah bisa dikembangkan sistem budidaya yang lebih murah, bersih  dan menjanjikan dengan suplemen organik sehingga bisa maksimal  hasilnya.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Bisnis budidaya ikan lele ini pun tampaknya akan selalu  menguntungkan. Hal ini karena semakin meningkatnya kesadaran masyarakat  akan ikan sebagai sumber protein yang tinggi dengan harga yang  terjangkau. Ikan menjadi alternatif mengingat harga daging yang makin  hari makin mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikan lele sendiri memiliki nilai gizi yang  mumpuni disamping dagingnya yang gurih. Lele mengandung protein yang  tinggi dan zat penguat tulang (kalsium) yang baik untuk makanan anak  balita. Selain itu lele juga mengandung mineral lain yang penting pula  untuk kesehatan tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan fakta-fakta itu, maka pada akhirnya  ikan lele dapat dijadikan peluang usaha yang menarik. Mengingat selama  ini budidaya ikan lele selalu terkesan 'jorok', kini budidaya ikan air  tawar tersebut sudah berkembang menjadi lebih murah, bersih, dan  menjanjikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang untuk budidaya ikan lele, kita sudah ada  suplemen organik yang dapat membantu budidaya lele lebih maksimal.  Karena suplemen organik ini memiliki fungsi sebagai penjaga kualitas  air, menignkatkan percepatan pembesaran bibit lele jika dicampur dengan  pakannya, dan mengurangi tingkat mortalitas dari bibit lele," jelas  Deden A.S, sebagai salah seorang pembudidaya lele yang ditemui &lt;strong&gt;detikFinance,&lt;/strong&gt; Minggu (21/11/2010).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deden,  yang memulai budidaya lele ini sejak tahun 2006, diawali hanya  iseng-iseng di pekarangan rumahnya dengan membuat kolam dari terpal  sebesar 3x3x1 meter yang diisi air setinggi 7O cm. Dengan pola budidaya  intensif, kolam tersebut dapat menampung jumlah tanam bibit ikan lele  sebanyak kurang lebih 1800-2000 yang masing-masing bibit tersebut  berukuran 10-12 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setelah membuat kolam dan menaruh bibit lele  tadi, kemudian memberi pakan dan suplemen organik dengan waktu teratur,  selama 45 hari saya bisa memanen lele tersebut dengan jumlah berat  sebesar 200 Kg - 250 Kg untuk jumlah maksimalnya," ujar Deden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi  anda yang tertarik mencoba membudidayakan ikan lele ini, Deden memberi  asumsi perhitungan yang sederhana. Dimulai dengan membuat kolam dari  terpal dengan ukuran 3x3x1 meter yang tentunya memerlukan biaya yang  tidak begitu mahal ketimbang membuat kolam dari semen atau kolam gali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masalah  perhitungan harga pembuatan kolam dari terpal, tentu semua orang akan  tahu berapa biaya yang dibutuhkan. Karena terpal sendiri permeternya  murah," jelas Deden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, Deden memberikan asumsi biaya  pembelian bibit lele dengan harga Rp 300 per ekor. Jika untuk kolam  3x3x1 meter dapat menampung bibit kurang lebih 2000 ekor, maka kita  hanya perlu mengeluarkan kocek sebesar Rp 600.000 (Rp 300 x 2000 ekor).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat&amp;nbsp;  lama pembesaran membutuhkan waktu selama 45 hari, maka kebutuhan pakan  yang dibutuhkan adalah sejumlah 90 Kg (2 Kg perhari). Nantinya, Biaya  yang dibutuhkan adalah sebesar Rp 660.000, dengan harga pakannya  perkarung adalah Rp 220.000 seberat 30 Kg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun, pembelian  kebutuhan suplemen organik adalah Rp 180.000 untuk 4 botol selama 45  hari pembesaran bibit. Empat botol tersebut akan difungsikan untuk  pemaksimalan kualitas air dan bibit lele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, total biaya yang dibutuhkan adalah kurang lebih Rp 1440000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah ringkasan dari modal yang dibutuhkan perkolamnya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Harga Bibit Lele : Rp 300 x 2000 ekor = Rp 600.000&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Harga&amp;nbsp; Pakan : Rp 220.000 x 3 karung = Rp 660.000&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Harga Suplemen Organik: Rp 45000 x 4 botol = Rp 180.000&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Total Biaya Produksi: Rp 1.440.000&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Melalui asumsi modal tersebut dari Deden, maka keuntungan yang bisa  didapat dari satu buah kolam dengan target panen 2.000 bibit adalah 200  Kg - 250 Kg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deden menjelaskan, bahwa harga eceran yang bisa  diraih adalah senilai Rp 15.000 perkilonya. Sedangkan untuk harga yang  dijual ke pasar, dapat diraih sebesar Rp 12000 perkilonya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga,  lanjut deden, jika diambil dari asumsi harga terendahnya, maka  keuntungan yang bisa diambil adalah Rp 960.000 untuk satu kolam. Jumlah  tersebut diambil dari penjualan lele sebanyak 200 Kg x Rp 12.000 yang  berjumlah Rp 2400.000 dikurangi biaya produksi yang berjumlah Rp  1.440.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika panen yang kita hasilkan maksimal, kita dapat  mencapai berat sejumlah 250 Kg. Keuntungan yang bisa diambil dari  selisih total penjualan dan biaya produksi adalah sebesar Rp 1.560.000  perkolamnya," tegas Deden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penjualan lele tadi saja, jelas  Deden, itu sudah merupakan peluang usaha yang menarik di samping  aktivitas kesibukan sehari-hari. Karena biaya yang dibutuhkan tidak  membutuhkan nilai investasi yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari sisi waktu tidak  begitu lama, malah simple dan sederhana. Yang penting disiplin saja  dalam jadwal pemberian pakan dan suplemen organiknya.'' kata Deden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara  mengenai peluang yang lebih luas lagi. Hasil dari lele tersebut, dapat  dijadikan berbagai macam peluang usaha lainnya yang lebih menarik  tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain yang sudah kita ketahui, lele dapat dijadikan  menu makanan pecel lele. Namun di sisi lain, hasil dari olahan daging  ikan lele dapat dijadikan berbagai macam hasil. Misalnya, daging lele  dapat dijadikan nugget lele, abon lele, lele asap, bakso lele, dan  bahkan dapat dijadikan filet lele. Mengingat kebutuhan filet lele untuk  ekspor sangat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Atau mungkin kita dapat mengembangkan dari  hasil ikan lele tersebut menjadi olahan-olahan penganan menurut ide dan  kreativitas kita yang memiliki nilai jual tinggi," ucap Deden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk  informasi lebih lanjut mengenai budidaya intensif ikan lele, anda dapat  menghubungi Departemen Perikanan, atau para pelaku usaha ikan lele  seperti Deden A.S ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2953751641021800982-2190176994239645583?l=muhsholeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhsholeh.blogspot.com/feeds/2190176994239645583/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2010/11/budidaya-lele-yang-murah-meriah.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/2190176994239645583'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2953751641021800982/posts/default/2190176994239645583'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhsholeh.blogspot.com/2010/11/budidaya-lele-yang-murah-meriah.html' title='Budidaya Lele yang Murah Meriah'/><author><name>Muh. Sholeh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09255886548890166137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_6BdsiwGInjM/TN5WxEU67NI/AAAAAAAAAHE/3Ty1264IaP0/S220/DSC00124.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2953751641021800982.post-2744803031361425508</id><published>2010-11-21T12:14:00.000-08:00</published><updated>2010-11-21T12:17:46.375-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Geografi Pariwisata'/><title type='text'>Color Charm Lake Kalimutu</title><content type='html'>&lt;div class="hd"&gt;&lt;/div&gt;Oleh Amril Taufik Gobel &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;This is a mountain that holds the mystery as well as charm. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Kelimutu Pemo located in the Village, District Flores, Ende, Flores Island, East Nusa Tenggara Province (NTT). &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;With a peak altitude of 1690 m above sea level, the mountain is unique because there are three differently colored crater lakes.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;img border="0" src="http://a323.yahoofs.com/ymg/inspirationsid__1/inspirationsid-308025834-1283933475.jpg?ymjkNvDDMvnq1rct" /&gt;&lt;cite&gt;Photo credits - Arif Fadillah&lt;/cite&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Danau  ini dikenal dengan nama Danau Tiga Warna karena memiliki tiga warna  yang berbeda, yaitu merah, biru, dan putih. Walaupun begitu, warna-warna  tersebut selalu berubah-ubah seiring perjalanan waktu. Tak kurang sudah  12 kali perubahan warna terjadi dalam waktu 25 tahun terakhir ini.  Danau pertama dan kedua letaknya sangat berdekatan, sedangkan danau  ketiga terletak menyendiri sekitar 1,5 km di bagian Barat. Perubahan  warna ini diduga akibat adanya pembiasan cahaya matahari, adanya mikro  biota air, terjadinya zat kimiawi terlarut, dan akibat pantulan warna  dinding dan dasar danau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelimutu merupakan gabungan kata dari  "keli" yang berarti gunung dan kata "mutu" yang berarti mendidih.  Menurut kepercayaan penduduk setempat, warna-warna pada danau Kelimutu  memiliki arti masing-masing dan memiliki kekuatan alam yang sangat  dahsyat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="media"&gt;&lt;img border="0" src="http://a323.yahoofs.com/ymg/inspirationsid__1/inspirationsid-99122561-1283933475.jpg?ymjkNvDDYnaKaIxT" /&gt;&lt;cite&gt;Photo credits - Arif Fadillah&lt;/cite&gt;&lt;/span&gt;Danau  atau Tiwu Kelimutu dibagi atas tiga bagian yang sesuai dengan warna -  warna yang ada di dalam danau. Danau berwarna biru atau "Tiwu Nuwa Muri  Koo Fai" merupakan tempat berkumpulnya jiwa muda-mudi yang telah  meninggal. Danau yang berwarna merah atau "Tiwu Ata Polo" merupakan  tempat berkumpulnya jiwa orang-orang yang telah meninggal dan selama ia  hidup selalu melakukan kejahatan/tenung. Sedangkan danau berwarna putih  atau "Tiwu Ata Mbupu" merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang tua  yang telah meninggal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luas ketiga danau itu sekitar 1.051.000  meter persegi dengan volume air 1.292 juta meter kubik. Batas antar  danau adalah dinding batu sempit yang mudah longsor. Dinding ini sangat  terjal dengan sudut kemiringan 70 derajat. Ketinggian dinding danau  berkisar antara 50 sampai 150 meter. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal mulanya daerah ini  diketemukan oleh Van Such Telen, warga negara Belanda, tahun 1915.  Keindahannya dikenal luas setelah Y. Bouman melukiskan dalam tulisannya  tahun 1929. Sejak saat itu wisatawan asing mulai datang m
